Riau||ISBCenter.com – Puncak peringatan Hari Kebudayaan Nasional (HKN) 2026 di Provinsi Riau dimanfaatkan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) sebagai momentum untuk mendorong pengakuan warisan budaya Melayu di tingkat nasional hingga internasional.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Provinsi Riau, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, saat berlangsungnya Arak-arakan Keberagaman, Persebatian Antaretnis di halaman Balai Adat LAMR, Pekanbaru, Ahad (18/10/2026).
Acara yang dihadiri Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon itu diikuti ribuan peserta dari berbagai paguyuban lintas etnis se-Riau.
Datuk Seri Taufik menegaskan, arak-arakan ini memiliki makna lebih dari sekadar perayaan budaya. Menurutnya, kegiatan ini adalah simbol persatuan dan cerminan kuatnya akar budaya yang hidup di Bumi Lancang Kuning.
Ia menjelaskan filosofi di balik arak-arakan yang disusun dalam empat jalur. Empat jalur tersebut melambangkan empat sungai besar yang menjadi nadi kehidupan masyarakat Riau, yakni Sungai Rokan, Siak, Kampar, dan Indragiri. Simbol tersebut juga berkaitan erat dengan khazanah sastra Melayu, seperti pantun empat baris dan syair yang mendapat pengaruh tradisi Arab.
Datuk Seri Taufik menekankan pentingnya menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan pemersatu sekaligus pintu masuk untuk mendapatkan pengakuan yang lebih luas terhadap warisan daerah.
Dalam kesempatan itu, ia memaparkan sejumlah agenda strategis yang sedang diperjuangkan LAMR bersama pemerintah dan berbagai pihak. Agenda tersebut meliputi pengusulan tokoh Melayu Abdul Wahab Rokan sebagai pahlawan nasional, serta upaya mendorong tiga warisan budaya yakni Layang Kuau, Zapin, dan Pacu Jalur agar mendapatkan pengakuan dari UNESCO.
Ia juga menyoroti munculnya Dika Aura Farming sebagai salah satu putra daerah Riau yang berhasil menarik perhatian dunia internasional, yang diharapkan dapat menjadi modal untuk memperkuat promosi kekhasan budaya Riau.
Datuk Seri Taufik mengapresiasi kehadiran Menteri Kebudayaan Fadli Zon di tengah agenda yang padat sebagai bentuk perhatian pusat terhadap upaya pelestarian budaya di Riau. Ia juga berterima kasih kepada seluruh paguyuban, komunitas budaya, dan pihak swasta yang turut mendukung acara, dimana banyak peserta yang hadir dengan biaya mandiri sebagai wujud kecintaan terhadap budaya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Riau Syahrial Abdi yang hadir mewakili Plt Gubernur Riau, menyampaikan sejumlah harapan kepada Kementerian Kebudayaan.
Syahrial berharap adanya dukungan berkelanjutan untuk revitalisasi situs-situs sejarah, penguatan kelembagaan kebudayaan, serta pemberdayaan pelaku budaya di Riau.
Ia mengapresiasi dukungan pemerintah pusat untuk revitalisasi Museum Sang Nila Utama dan menitipkan perhatian khusus untuk penataan dan pelestarian kawasan Candi Muara Takus yang menjadi salah satu lokasi kunjungan kerja Menteri Kebudayaan di Riau.
Selain itu, Pemprov Riau juga mendorong percepatan pembentukan Balai Pelestarian Kebudayaan di Riau. Syahrial menyebutkan, Pemprov telah menyiapkan tiga alternatif lokasi lahan untuk pembangunan kantor tersebut.
Pemprov Riau juga berharap dukungan kebudayaan dapat menjangkau 12 kabupaten/kota secara merata, baik melalui pembinaan, pengembangan karya, maupun perluasan jejaring pertunjukan seni dan budaya di level nasional dan internasional. Termasuk dukungan dalam riset dan penulisan sejarah Melayu, inventarisasi manuskrip, serta dokumentasi tradisi dan pengetahuan budaya agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Syahrial juga mengapresiasi perhatian Kementerian Kebudayaan terhadap revitalisasi Istana Siak yang diharapkan dapat memperkuat pelestarian warisan sejarah Melayu.
Dalam sambutannya, Syahrial juga menyinggung persoalan lahan perkebunan sawit yang terindikasi berada di dalam kawasan hutan, termasuk yang bersinggungan dengan tanah ulayat. Ia berharap pemerintah pusat memberikan perhatian lebih terhadap keberadaan tanah adat agar dapat memberi manfaat optimal bagi komunitas dan masyarakat adat.
Menutup sambutannya, Syahrial menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan dalam keberagaman sebagai pondasi utama pembangunan kebudayaan di Riau.
“Bahagialah kita hidup di tanah Riau Melayu, karena rumah besar bagi semua suku,” ujarnya..(*ay)










