Menteri Kebudayaan Fadli Zon Gagas Pengembangan Muara Takus dan Museum di Riau, LAMR Siap Berkolaborasi

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon saat kunjungi Kompleks Percandian Muara Takus, Kampar

Riau||ISBCenter.com – Kunjungan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon ke Riau dalam rangkaian Hari Kebudayaan Nasional 2026 tidak hanya sekadar menghadiri seremoni. Sejumlah agenda strategis terkait pelestarian cagar budaya, penguatan museum, hingga penguatan narasi sejarah Riau turut mencuat untuk ditindaklanjuti.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon (DPH LAMR) Datuk Seri Haji Taufik Ikram Jamil menyatakan pihaknya siap mendukung penuh gagasan yang dilontarkan Menteri Kebudayaan tersebut.

Bacaan Lainnya

Ide-ide itu disampaikan Fadli Zon pada dua agenda di hari Ahad (18/10/2026), yakni pada puncak peringatan HKN lewat Arak-arakan Keberagaman Persebatian Antaretnis di Balai Adat LAMR dan saat kunjungan ke Kompleks Percandian Muara Takus, Kampar, yang turut didampingi Datuk Seri Taufik.

“Berbagai gagasan yang disampaikan Menteri Kebudayaan tersebut perlu disambut secara kreatif dan cepat oleh seluruh komponen masyarakat Riau. Sebab, gagasan itu bukan hanya menyangkut pelestarian peninggalan masa lalu, tetapi juga bagaimana sejarah dan kebudayaan menjadi kekuatan pembangunan daerah,” katanya Senin (19/10/2026).

Fokus utama yang menjadi perhatian Menteri Kebudayaan adalah pengembangan kawasan Candi Muara Takus. Menurutnya, kawasan tersebut menyimpan potensi besar untuk mengungkap jejak peradaban tua di Riau.

Fadli mendorong adanya pembebasan lahan di sekitar kompleks candi, termasuk radius sekitar 100 meter dari situs yang ada saat ini, guna membuka peluang riset dan penemuan situs arkeologis baru.

Selain riset, ia juga mengusulkan pembangunan museum di kawasan Muara Takus. Kehadiran museum dinilai penting untuk mengedukasi publik tentang sejarah peradaban Melayu kuno yang berkembang di wilayah tersebut.

Datuk Seri Taufik menilai Muara Takus harus dikembangkan dengan perspektif yang lebih komprehensif, bukan hanya sebagai situs cagar budaya, melainkan sebagai pusat edukasi, kebudayaan, dan pariwisata sejarah.

“Daya tariknya pun tidak semata-mata terletak pada peninggalan sejarah. Perjalanan dari Pekanbaru menuju Muara Takus melalui jalan tol menawarkan pemandangan alam yang menarik, sehingga berpotensi memperkuat pengalaman wisata bagi pengunjung,” sebut Taufik.

Ia menjelaskan kawasan tersebut diperkirakan mencapai hampir 150 hektare dan masih perlu dikaji mendalam untuk menentukan batas kawasan inti pengembangan peradaban.

Untuk mendukung percepatan pengembangan, Menteri Kebudayaan menyatakan siap membantu membuka komunikasi lintas sektor, termasuk dengan PLN, mengingat ada sebagian lahan yang berkaitan dengan kepentingan pembangunan pembangkit listrik tenaga air.

“Bagi LAMR, dukungan lintas lembaga menjadi penting agar pengembangan Muara Takus dapat berjalan dengan tetap memperhatikan pelestarian situs, kepentingan masyarakat, serta nilai sejarah yang dikandungnya,” ujarnya.

Selain Muara Takus, wacana pembangunan museum tematik di Riau juga mengemuka. Fadli Zon mendorong kehadiran museum perminyakan dan museum perjuangan sebagai ruang dokumentasi perjalanan sejarah dan jati diri Riau yang memiliki peran penting dalam industri migas nasional dan sejarah perjuangan bangsa.

Sekda Provinsi Riau Syahrial Abdi yang mewakili Plt Gubernur Riau menyarankan agar pengembangan museum di Riau belajar dari pengelolaan Museum Nasional di Jakarta. Hal itu bisa menjadi rujukan untuk revitalisasi Museum Sang Nila Utama maupun perencanaan museum baru.

Syahrial juga mendorong agar tata kelola Muara Takus dapat berkaca pada pengalaman pengembangan Candi Muara Jambi yang telah lebih dulu berkembang dengan dukungan pemerintah pusat, sehingga keduanya bisa dikaji dalam konteks keterkaitan peradaban kuno di Sumatera.

Di sisi lain, Fadli Zon juga menyambut baik inisiatif LAMR untuk menyusun buku sejarah Riau, bahkan mendorong agar disusun lebih komprehensif dan selaras dengan program penulisan ulang sejarah nasional yang tengah dijalankan Kementerian Kebudayaan tahun ini.

Datuk Seri Taufik menegaskan seluruh gagasan itu membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga adat, akademisi, budayawan, dan masyarakat luas, dan LAMR siap menjadi bagian dari kolaborasi tersebut.

Fadli Zon juga membuka akses pemanfaatan Dana Indonesiana bagi komunitas dan pelaku budaya untuk mendukung penulisan sejarah, pengembangan program kebudayaan, hingga kegiatan seperti Arak-arakan Keberagaman di Riau.

LAMR mengapresiasi perhatian Menteri Kebudayaan terhadap kebudayaan Melayu Riau dan berharap gagasan yang muncul dalam HKN 2026 ini dapat berlanjut menjadi program konkret, terlebih Fadli Zon juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada LAMR serta masyarakat Riau yang menyambut Hari Kebudayaan Nasional pada tahun kedua setelah diumumkan tahun lalu..(*ay)

Pos terkait