Bireuen||ISBCenter.com – Setelah Jembatan Bailey Teupin Mane viral diduga sejumlah baut jembatan itu dilepas oleh Orang Tidak Dikenbal (OTK) beberapa hari lalu. Anggota Dewan Perwakilan Daerah RI, Dapil Aceh, Sudirman Haji Uma, turut hadir mengecek jembatan tersebut.
Kedatangan anggota DPD RI itu tidak sendiri, komedian yang akrab disapa Haji Uma dengan membawa sejumlah wartawan ke Lokasi jembatan, pada Kamis (2/01/2026).

Saat melihat baut pada jembatan tersebut, sambil divideokan Haji Uma menjelaskan berbagai dugaan, diantaranya, baut jembatan tersebut pendek dan menduga tidak dilepaskan, melainkan terlepas oleh guncangan jembatan tersebut.
Alhasil, video Haji Uma menyebar di berbagai akun media sosial. Namun disayangkan, dimanfaatkan penggiat medsos berbagai asumsi melintirkan, terkesan disampaikan Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Maruli salah alias tidak benar.
Hal tersebut turut mendapat respon dari seorang Babinsa Koramil 05/Juli, Kodim 0111/ Biren. Serma Hasanuddin yang bertugas sebagai Babinsa di Desa Teupin Mane. Dia pun menyayangkan inisiatif Anggota DPD itu hadir tanpa koordinasi dengan perangkat desa.
Serma Hasanuddin mengatakan, tak mengetahui kedatangan Haji Uma untuk mengecek jembatan. Bahakan mengetahuinya tanpa sengaja melihat ada sejumlah orang di jembatan, sehingga Dia mendatangi.
“Awalnya saya tidak tahu ada anggota DPD RI, Haji Uma, ke lokasi mengecek Jembatan Bailey Teupin Mane. Kebetulan setiap sore saya ngopi di warkop sekitar jembatan. Melihat ada sejumlah orang di lokasi, saya pun mengampiri, terlihat ada Haji Uma sedang mengecek jembatan,” ujar Babinsa.
Serma Hasanuddin menyebutkan, sesampai di Lokasi, Haji Uma bertanya. “Bpk siapa? warga disini, apa jabatan Bpk di Kampung ini? Sebut Babinsa menirukan perkataan Haji Uma.

“Saya Babinsa disini, ada apa Pak,” ujarnya. Haji Uma pun menanyakan, sebagai Babinsa, bagaimana bisa kejadian di jembatan ini, sedangkan jembatan ini dijaga 24 jam.
“Tidak ada penjagaan Pak, setelah kejadian baru dijaga, itupun patroli 2 jam sekali,” terang Babinsa.
Haji Uma pun menanyakan kembali tentang kendaraan lalu lalang melintas, Ia menyebutkan, bahwa kendaraan melintas muatnya satu, katanya.
Serma Hasanuddin pun menjelaskan, kendaraan yang melintas di jembatan tidak ada masalah, mereka lewat seperti biasa sendiri, begitu pun antrian bergantian sendiri, artinya kondisi mulai berangsur normal, ujarnya.
Selanjutnya, Haji Uma mengajak Babinsa dan diikuti sejumlah wartawan, untuk ditunjukan bagian jembatan yang more atau baut yang di buka.
“Saya tunjukan beberapa komponen yang dibukak dan yang sudah diganti, termasuk beberapa Bendera Merah Putih yang terpasang di jembatan tersebut juga di copot dan ada yang di potong oleh orang tidak dikenal itu (OTK),” ungkapnya.
“Karena kejadian itu hampir bersamaan, jumlah bendera merah putih yang kita pasang di jembatan ada sekitar tiga puluh empat bendera, tetapi yang dicopot sekitar ada sepuluh,” ungkapnya lagi.
Selanjutnya, Serma Hasanuddin pun mengajak Haji Uma dan rombongan ke warung kopi yang ada di sekitar depan ujung jembatan.
Pada saat di warung kopi, Haji Uma kembali bertanya. “Jadi Bpk sebagai Babinsa disini yakin ngak itu orang yang mencuri atau yang merusak. Serma Hasanuddin menjawab Yakin. Karena yang membuat laporan itu saya,” terangnya.
Haji Uma juga menanyakan, apakah betul Pak Babinsa yang membuat laporan ke Kasad?. Iya betul laporan dasarnya dari saya. Saya Babinsa disini, walaupun laporan melalui atasan, tegasnya.
Lalu, Haji Uma mengungkapkan kepada Babinsa. “Bapak tahu enggak ini marwah kita, orang Aceh ini sudah rendah seperti ini. Kesannya kita ini semuanya pencuri ataupun penjahat seperti dibilang Kasad itu. Jadi ini harus kita buat berita bahwa tidak benar kejadian seperti ini, ujar Haji Uma kepada Babinsa.
Serma Hasanuddin mengatakan. “Begini Pak, kita ini dari kecil lahir di didik, beragama Islam, berpendidikan umum sampai sekarang sudah dewasa, sudah bekerja di negara, sudah jadi orang tua. Kenapa pola pikir kita ini mau membela yang salah dan mau menyalahkan yang menyampaikan berita yang benar,” tegasnya.
Seharusnya, sambung Serma Hasanuddin, kita menyalahkan orang yang berbuat salah. Jadi bukan sebaliknya, ujarnya.
Lantas Haji Uma pun mengatakan, Pak Babinsa tau tidak politik. Babinsa tersebut menjawab, “Oh Bpk mau berpolitik disini, silahkan Bpk berpolitik, tapi saya tidak ikut-ikutan, saya ini Tentara, saya satu Komando, Tegas dari bawah ke atas jelas,’ ungkapnya.
Kalua Bpk mau berpolitik, sambung Serma Hasanuddin, silahkan, saya tidak ikut-ikutan, tetapi dengan saya, Fakta apa adanya, dan orang disini yang sangat tegas terhadap benar dan salahnya segala sesuatu, saya lah orangnya,” tegas Babinsa.
Serma Hasanuddin mengatakan, dalam pembahasan ini, salah satu tokoh masyarakat, M. Nasir Hamid dan juga seorang ASN di Kabupaten Bireuen memberikan pendapat. Dia menceritakan sesuai dengan kemauan sependapat Haji Uma, katanya.
Namun, Babinsa itu langsung angkat bicara. “Bpk jangan seperti itu, di Kampung ini, Bpk lahir disini dan sampai Tua disini, dan saya jadi Babinsa juga sudah lama disini,” bantahnya.
Babinsa itu pun menjelaskan, bahwa berkaitan dengan kejadian ini, bukan Dia yang melihat pertama, akan tetapi, yang melaporkan kepada dirinya adalah seorang Ketua Pemuda. Kebetulan keberadaanya saat itu di Kota Bireuen, lalu Dia melaporkan kepada Piket Koramil, kemudian piket bersama Ketua Pemud ke lokasi.
“Sesampai piket dan ketua pemuda di jembatan, melihat dan menyaksikan banyak Mure atau Baut yang sudah terbuka. Jadi, malam itu, Ketua Pemuda dan Piket Koramil itu ada juga memasangkan kembali sejumlah baut walaupun dalam gelap,” terangnya.
Sekitar pukul 07 Wib, Dirinya mendatangi lokasi dan mendokumentasikan sejumlah titik baut yang dilepaskan dari jembatan, termasuk membuat laporan. Serma Hasanuddin membuat berita himbauan kepada Grup Desa Teupin Mane dan Grup BKM Mesjid Baitulhuda, agar jangan terulang kembali, ujarnya.
Selain itu, Serma Hasanuddin menyebutkan, Haji Uma mengajak saya beserta beberapa rombongan wartawan balik ke jembatan. Di jembatan, Haji Uma diwancarai oleh sejumlah wartawan, begipun dirinya turut diwancarai.
“Nah, hasil wawanca Haji Uma itu saya lihat di medsos Facebook dan berita Media Online dan TV, Sedangkan hasil wawancara saya itu tidak ada, bisa saja tidak dipostingkan, mengapa,” ungkapnya.
Menurut Serma Hasanuddin, Haji Uma mau mengajak saya biar sepakat dengan beberapa tokoh masyarakat, untuk membuat berita, bahwa yang disampaikan Kasad itu salah. “Menurut saya, arah tujuanya kesitu, agar marwah diri orang Aceh tidak ada perbuatan seperti itu,” sebutnya.
“Begitu pun yang disampaikan Pak ASN, M. Nasir Hamid, saat itu juga diwancarai, bahwa dia juga tidak sepakat seperti yang disampaikan Kasad, Jenderal TNI Maruli, bahwa ada orang merusak jembatan segala macam,” ujarnya.
Menurutnya, Babinsa itu menyebutkan, apa yang disampaikan M. Nasir Hamid juga sesuai dengan kemauan Haji Uma. Padahal Dia juga tidak tau tentang kejadian itu, dan setahunya Pak Nasir di Kampung, Dia adalah seorang Tokoh kritis, tetapi Dia PNS, ujarnya lagi.
“Pada saat Haji Uma datang mengecek-mengecek itu, saya langsung sudah paham, ini maksut tujuannya kemana. Maka pertanyaan Dia saya pangkas semua,” ujar Serma Hasanuddin.
Pertanyaan Haji Uma tentang menjaga jembatan 24 Jam.
Babinsa menerangkan, pada saat pekerjaan pembangunan jembantan, secara otomatis dijaga, baik TNI, Polisi banyak disitu. Tetapi setelah pembangunan jembatan selesai, dan peresmian boleh digunakan, itu tidak ada lagi penjagaan, karena arus lalu lintas sudah berangsur normal.
“Arus lalu lintas Bireuen – Takengon, jumlah kendaraan yang lewat tidak sama seperti jalan Medan – Banda Aceh seperti di Kuta Blang. Jadi mungkin Haji Uma ini beramsumsi dan mengatakan bahwa ada penjagaan siang dan malam. Mungkin Dia dengar di media sosial, bukan melihat fakta di lapangan,” tegasnya.
Respon Masyarakat Jembatan Bailey Rampung di bangun.
Babinsa menyebutkan, bahwa masyarakat sangat senang, justru warga mengatakan sangat berterima kasih kepada semua pasukan TNI Zipur yang membangun. Bekerja siang dan malam.
“Sampai ada stetmen Ibu-ibu warga setempat mengungkapkan. Untung ada Tentara-tentara itu yang membangun jembatan, kalau tidak kita bagaiman mau lewat kesana-kemari, kan terisolir kita disini,” ujarnya menirukan ungkapan warga.
Serma Hasanuddin menilai, dugaan baut-baut itu sengaja dibuka, tidak dibuang, dan diletakan di atas badan jalan jembatan, mungkin asumsi mereka, pada saat kendaraan berat lewat itu harus jatuh.
“Begitu jembatan tumbang atau rusak, jadi kalau rusak, Tentara yang membangun ini agar citranya jelek, seolah-olah kerjanya tidak bagus. Kalau cuman diganggu, kan mure-mure atau baut itu pasti dibuang,” urainya.
Babinsa pun menyayangkan, seharusnya saat kehadiran Haji Uma beserta rombongan ngecek jembatan tersebut, agar diinformasikan terlebih dahulu.
“Seharusnya hadirkan baik yang membangun orang Zipur yang paham, dari Koramil dengan Polsek hadir, beserta Tokoh masyarakat juga hadirkan. Baru kita nanti disitu sama-sama menyampaikan berita apa adanya,” Himbuhnya.
“Kalau dia tujuan datangnya untuk kebaikan. Tapi kalau datangnya secara diam-diam bawa media, yang masing-masing mengambil dokumentasi. Saya menilai, dengan kehadiran saya, tiba-tiba di situ, mereka merasa risih, tidak sesuai dengan harapannya. Dia tidak bebas membuat berita. Bahkan lebih aneh lagi, mengapa saya sudah di wawancarai, tetapi hasilnya tidak terbit beritakan di media,” pungkasnya tanda tanya.(*Lng )










