Artikel Rohani: Waktu Tuhan VS Waktu Manusia

Pendeta Yusak

Artikel||ISBCenter.com — Di tengah arus kehidupan yang serba cepat dan menuntut segala sesuatu secara instan, umat Kristiani diajak untuk kembali memahami makna waktu sejati menurut perspektif ilahi. Hal ini menjadi pokok bahasan utama dalam ibadah Minggu, 24 Mei 2026 di Gereja GKKD BOM Bengkulu, di mana Pendeta Yusak, S.Th menyampaikan khotbah berjudul “Waktu Tuhan: Antara Kesabaran, Usaha, dan Hikmat Hidup”.

Mengambil ayat dasar dari Pengkhotbah 3:11, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…”, Pendeta Yusak menegaskan bahwa sering kali manusia terjebak dalam mengukur waktu berdasarkan ukuran jam, kalender, atau batas usia semata. Ketika janji Tuhan belum terlihat nyata dalam waktu yang dianggap “cukup lama”, keraguan dan keinginan mengambil alih kendali sering kali muncul.

Namun, sebagai orang percaya, kita dipanggil memiliki pemahaman yang berbeda. Ada dimensi waktu yang lebih tinggi, sempurna, dan penuh hikmat: Waktu Tuhan.

Perbedaan Waktu Manusia dan Waktu Tuhan: Chronos vs Kairos

Dalam uraian teologisnya, Pendeta Yusak membedakan dua konsep waktu penting. Pertama, Chronos, yaitu waktu manusia yang terukur, berurutan, linier, dan terbatas. Ini adalah pola pikir yang membuat kita berpikir: “Sudah waktunya saya sukses”, “Sudah saatnya menikah”, atau “Sudah terlalu lama menunggu”.

Kedua, Kairos, yaitu waktu Tuhan — saat yang tepat, ditetapkan, dan sempurna menurut rencana-Nya. Allah tidak terikat batasan waktu ciptaan. Sebagaimana tertulis dalam 2 Petrus 3:8, bagi Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun, dan seribu tahun sama seperti satu hari.

“Sering kali apa yang kita sebut keterlambatan, sesungguhnya adalah proses persiapan di mata Tuhan. Penundaan bukan penolakan, tapi penyempurnaan rencana dan pembentukan karakter,” tegas Pendeta Yusak.

Beliau menekankan pentingnya pemahaman ini agar umat tidak mendahului Tuhan, terhindar dari kesalahan fatal akibat bertindak berdasarkan emosi, serta mencegah dampak buruk keputusan yang keliru bagi generasi mendatang.

Bahaya Mendahului Waktu Tuhan: Kisah Abraham dan Sarah

Sebagai peringatan nyata, Pendeta Yusak mengangkat kisah Abraham dan Sarah. Tuhan telah berjanji akan memberikan keturunan besar melalui Sarah, namun waktu berlalu dan usia mereka menua. Karena tidak paham cara kerja waktu Tuhan dan tidak tahan menunggu, mereka mengambil jalan pintas: Sarah menyerahkan hambanya, Hagar, kepada Abraham. Lahirlah Ismael.

Meskipun niatnya ingin “membantu” menggenapi janji Tuhan, tindakan itu berujung pahit. Perselisihan, perpecahan keluarga, hingga konflik sejarah panjang antara keturunan Ismael dan Isak terjadi hingga hari ini.

“Rencana Tuhan tetap digenapi lewat kelahiran Isak, namun jejak luka akibat ketidaksabaran itu harus dibayar mahal dan terasa turun-temurun. Ini bukti nyata: keputusan di luar waktu Tuhan membawa konsekuensi buruk,” ungkapnya.

Keberhasilan Saat Mengerti Waktu Tuhan: Kisah Yusuf dan Daud

Sebaliknya, khotbah ini juga menyoroti sosok yang berhasil memahami dan hidup dalam waktu Tuhan, yaitu Yusuf dan Daud.

Yusuf bermimpi menjadi pemimpin sejak muda, namun harus melewati jalan berliku: dijual saudara, menjadi budak, dipenjara, dan dilupakan orang. Namun di setiap tahap itu, Yusuf tetap setia, bekerja baik, dan memuliakan Tuhan. Ia tidak mengambil jalan curang atau membalas kejahatan. Saat waktu Tuhan tiba, dalam sekejap ia diangkat menjadi penguasa Mesir dan mampu menyelamatkan banyak bangsa karena karakternya sudah matang ditempa waktu.

Demikian juga Raja Daud. Sudah diurapi menjadi raja saat muda, namun ia harus menunggu bertahun-tahun, terusir dan dikejar Raja Saul. Berulang kali punya kesempatan merebut takhta, Daud menahankan diri karena percaya: “Tuhanlah yang mengangkat dan merendahkan.” Kesabarannya menjadikannya raja terbesar Israel dengan kerajaan yang kokoh dan diberkati.

Inti Pesan: Jangan Malas, Jangan Hanya Mengandalkan Kekuatan Sendiri

Poin paling krusial yang ditekankan Pendeta Yusak adalah keseimbangan hidup. Beliau meluruskan kesalahpahaman umum:

“Bersabar dan menunggu waktu Tuhan BUKAN berarti boleh malas, pasif, atau berpangku tangan. Dan juga BUKAN berarti bekerja sekuat tenaga dengan kekuatan sendiri tanpa pimpinan Tuhan.”

Pokok dan tujuan utama khotbah ini jelas: Orang Kristen harus hidup seimbang. Ada perbedaan besar antara “menunggu Tuhan” dengan “bermalas-malasan”, dan ada perbedaan antara “berusaha” dengan “memaksakan kehendak sendiri”.

Pola hidup orang berhikmat menurut firman Tuhan ini adalah:

1. Sambil menunggu, tetap bekerja: Seperti Yusuf yang setia mengurus rumah tangga Potifar atau Daud yang tetap berjuang melindungi bangsa. Kesabaran berarti setia melakukan tugas di depan mata sampai Tuhan memindahkan kita ke tahap berikutnya.
2. Berusaha sekuat tenaga, serahkan hasil pada Tuhan: “Berdoalah seolah semua bergantung pada Tuhan, bekerjalah seolah semua bergantung padamu.” Usaha adalah tanggung jawab, hasil dan waktunya adalah hak Tuhan.
3. Bergerak sesuai pimpinan: Berhenti melakukan yang dilarang, tapi terus maju dalam hal yang diperintahkan.

Manfaat Luar Biasa Bagi Hidup Orang Percaya

Di akhir khotbah, jemaat diajak melihat dampak positif bila hidup selaras dengan waktu Tuhan. Berkat yang akan diterima meliputi:

– Hati yang damai, bebas dari kegelisahan dan rasa iri.
– Terhindar dari dosa, karena tidak tergoda jalan pintas atau cara curang.
– Hasil yang sempurna dan indah, berkat yang utuh dan membawa sukacita sejati.
– Pertumbuhan iman dan karakter, karena masa penantian adalah sekolah pembentukan diri.
– Menjadi berkat bagi generasi, keputusan yang benar tidak merusak masa depan, melainkan mewariskan kebaikan.

Pendeta Yusak menutup khotbahnya dengan pesan menguatkan bagi seluruh jemaat GKKD BOM Bengkulu:

“Jangan ukur hidup kita dengan ukuran dunia. Jika saat ini Anda sedang menunggu jawaban doa atau janji Tuhan, ingatlah: Tuhan tidak pernah terlambat dan tidak pernah mendahului waktu-Nya. Teruslah berusaha keras seolah untuk Tuhan, tapi berhentilah berjuang melawan waktu-Nya. Apa yang Tuhan berikan pada waktu-Nya akan jauh lebih indah, lebih baik, dan lebih kekal daripada apa pun yang kita buat sendiri.”

Waktu Tuhan adalah waktu yang paling tepat..(*ys)

Pos terkait