Asahan||ISBCenter.com – Moderasi beragama sangat perlu untuk ditanamkan kepada siswa agar tercipta hubungan harmonis antar guru, peserta didik, masyarakat, dan lingkungan sekitar sehingga tercipta lingkungan yang damai dan aman dari berbagai ancaman. Hal ini disampaikan Ka. Kankemenag (Kepala Kantor Kementerian Agama) Kabupaten Asahan Dr. H. Saripuddin Daulay. M.Pd saat membuka secara resmi Pelatihan Bahasa Indonesia Madrasah Tsanawiyah/ Madrasah Aliyah Di Wilayah Kerja Kementerian Agama Kabupaten Asahan dan Kota Tanjung Balai, Senin (26/02/2024).
Dilansir langsung dari tempat diselenggarakannya kegiatan tersebut yakni di MTs N 2 Asahan, bahwa sebagai peserta dalam kegiatan ini adalah guru madrasah bidang studi Bahasa Indonesia baik dari Kementerian Agama Kabupaten Asahan dan Kementerian Agama Kota Tanjung Balai yang berjumlah 30 orang.
Ka. Kankemenag menyampaikan bahwa pelatihan Bahasa Indonesia dapat diimplementasikan dengan program penguatan moderasi beragama. “Dengan bahasa kita dapat menghindari kekerasan atau keekstreman dalam praktik beragama atau lebih dikenal dengan radikalisme”, ucapnya.
.
Ditambahkannya bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran penting, selain sebagai ilmu pengetahuan juga untuk berkomunikasi baik secara tulisan maupun lisan.
“Memahami bahasa sebagai media aktifitas aktif dan kreatif didasarkan pada pemahaman latar belakang kebahasaan peserta didiknya dan kreatifitas guru dalam memerankan bahasa sebagai penyampaian materi dan berkomunikasi dengan peserta didik nantinya “, lanjut Ka. Kankemenag
Beliau juga menekankan mengingat pentingnya pelajaran bahasa Indonesa dalam membentuk karakter peserta didik, maka bapak dan ibu memasukkan muatan moderasi keberagamaan menjadi salah satu cara yang efektif, terutama dalam pembelajaran keterampilan berbicara dan menulis yang merupakan tindakan aktif dari peserta didik.
Ada empat indikator dalam moderasi beragama yakni komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi dan akomodif terhadap budaya. Guru Bahasa Indonesia dapat meyampaikan keempat indikator ini kepada para siswa dengan komunikasi yang dapat diterima atau dicerna mereka dengan mudah. Bahwa siswa harus mempunyai wawasan kebangsaan, cinta tanah air dan bangga sebagai Bangsa Indonesia sehingga akan terus melakukan yang terbaik buat Indonesia dengan cara belajar dengan penuh giat, ucapnya.
Juga tidak suka akan kekerasan, tidak suka melakukan bullying. Saling menghargai sesama teman, menghormati yang lebih tua dan saling menyayangi dengan sesama. Tidak pernah membedakan antarteman yang satu dengan yang lainnya. Terakhir, sangat diharapkan guru bidang studi Bahasa Indonesia harus dapat mengajarkan kepada siswa tentang penerimaan budaya yang ada dan sebisanya budaya lokal tersebut dapat menjadi ikon daerah yang dipopulerkan atau dikenalkan kepada dunia, tambah Ka. Kankemenag Asahan Saripuddin Daulay.
Harapan kami dengan terselenggaranya pelatihan ini guru-guru dapat menerapkan kepada siswa tentang moderasi beragama sehingga siswa lebih berkarakter terutama dalam hal pandangan hidup mereka terhadap agama. Sukses madrasah, sukses kita semua, pungkasnya.
Pelatihan di wilayah kerja ini diselenggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan Medan. Ketua Panitia dalam laporannya menyampaikan bahwa tujuan diselenggarakannya pelatihan ini agar guru memiliki kemampuan mengambil keputusan lebih baik dari sebelumnya, meningkatkan kemampuan guru dalam menghadapi masalah dan meningkatkan produktivitas, fleksibilitas, terlatih dalam menyesuaikan diri serta dalam memahami setiap permasalahan dan kondisi dalam mengajar sehingga kedepannya guru dapat mengambil langkah yang tepat dalam menemukan solusi. Selain itu dalam ajang ini sesama guru Bahasa Indonesia dapat lebih mempererat silaturahmi dan mengambil banyak manfaat lain melalui jalinan koneksi antar guru. (HR)










