EKSPEKTASI VS REALITA

Yusak, S.Th Pemerhati Rohani

BengkuluISBCenter.com-Tentu kita pernah mendengar kata ekspektasi. Dan pada umumnya orang kecewa ketika realita tidak sama dengan ekspektasi. Kita mau belajar soal ini.

Saya melihat bahwa ekspektasi itu sebenarnya apa yang seseorang pikirkan akan terjadi, harapan yang ada dibenak, atau tentang apa yang seharusnya terjadi. Sedangkan realita adalah sesuatu yang sebenarnya terjadi.

Bacaan Lainnya

Yang jadi soal adalah ketika ekspektasi tidak sesuai dengan realita. Dan itu sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ini terjadi, maka banyak orang yang akhirnya kecewa dan bisa-bisa mengubah keputusannya. Alias akibatnya bisa sangat berdampak.

Memahami soal ekspektasi dengan realita ini, bisa bermanfaat bagi kita, ya anda dan saya yang sedang membaca tulisan ini. Faktanya, kita sering mengharapkan sesuatu namun yang kita capai jauh dari apa yang kita harapkan dan pikirkan itu.

Memulai belajar, untuk memenuhi harapan orang lain terhadap kinerja kita, kita perlu belajar sesuatu yang cukup rumit namun ini penting sekali.

Orang-orang di sekitar kita sebenarnya punya ekspektasi yang tinggi terhadap kita. Dan kita sebenarnya sering mengecewakan mereka. Tentang kita dengan sesama itu sungguh indah untuk di bahas. Nah pertanyaannya, kita mulai dari mana?

Saya mencoba meminjam kata ini :
“…Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna….”.
“….Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka…. “

Sebuah pernyataan Yesus Kristus atau di kenal sebagai Isa Al-Masih di dalam Kita suci orang Kristen (Matius 5:48, Matius 7:12)

Kita lihat tuntutan Allah bagi kita menjadi sempurna. Di sisi lain, kita harus memulai dari dalam diri kita sendiri. Berbuat seperti yang orang lain ingin perbuat terhadap diri kita. Walau sebenarnya tidak mungkin seseorang menjadi sempurna, tapi standar yang di minta menjadi sempurna. Ini bicara ekspektasi sebenarnya. Harapan Allah, adalah umatNya menjadi sempurna.

Jadi untuk memenuhi ekspektasi orang lain terhadap kita, kita punya standar tinggi dan kita harus berusaha mencapainya, walau itu mustahil, maksudnya agar kita tidak berhenti di titik di mana kita anggap sudah sempurna menurut ukuran diri kita sendiri. Wah betapa jauh standar kehidupan yang kita mau gapai.

Persoalan kedua adalah, sementara kita punya ekspektasi tinggi terhadap seseorang, lembaga atau atasan kita tertentu, kita punya alasan apa?

Faktanya, banyak orang menuntut orang lain, lembaga, atasannya atau sahabatnya dengan standar tinggi, namun tidak diimbangi dengan kontribusi kita. Alias, ingin capaian tinggi, namun minimnya dukungan.

Contoh :
Seorang anggota panitia, menuntut Ketua panitianya dengan harapan yang tinggi, namun ia sendiri minim kontribusi dalam mensukseskan acaranya.

Seorang istri, menuntut suaminya dengan ekspektasi tinggi, sementara istrinya tidak cukup dalam memberikan suport.

Jadi sebenarnya, kita boleh saja memiliki ekspektasi tinggi terhadap orang lain, namun ingat perlu adanya suport dari kita. Ini baru cara hidup yang berimbang.

“Terlalu naif menuntut kesempurnaan dari orang lain, tanpa suport sistem dari diri kita sendiri “

Penulis : Yusak, S. Th
Pemerhati Kehidupan

Pos terkait