Bengkulu||ISBCenter.com – Gereja GKKD BOM Bengkulu Satelit Bukit Harapan menggelar Ibadah Raya yang penuh sukacita dan kekhidmatan pada hari Minggu, 17 Mei 2026.
Momen istimewa ini ditandai dengan pelaksanaan ibadah pentahbisan jabatan Diaken bagi dua hamba Tuhan yang telah dipersiapkan, yaitu Ibu Dakek Orpa Magdalena, S. Th dan Bapak Diaken Marcelius Wau, S. Th. Ibadah kudus ini dipimpin langsung oleh Pendeta Jemaat, Pdt. Yusak, S. Th, dan dihadiri oleh seluruh jemaat, keluarga, serta kerabat dekat kedua calon pelayan firman.
Dalam ibadah yang sarat makna ini, renungan khotbah yang disampaikan mengangkat tema mendalam: “PELAYANAN ADALAH KEHORMATAN”, yang menjadi fondasi utama bagi para pelayan Tuhan untuk memahami hakikat panggilan dan tanggung jawab yang dipikulnya.
Landasan Teologis: Pelayanan Sebagai Hakikat Allah dan Respons Iman
Secara teologis, khotbah menjelaskan bahwa pelayanan dalam iman Kristen bukan sekadar pekerjaan rutin, jabatan, atau kewajiban yang dibebankan. Pelayanan berakar dari hakikat Allah itu sendiri, yaitu Allah yang Melayani. Hal ini diteguhkan dengan firman Tuhan dalam Markus 10:45:
“Karena Anak Manusia pun datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Pelayanan dipahami sebagai respons iman atas kasih karunia keselamatan yang telah diterima. Kita melayani bukan untuk mencari selamat, melainkan karena kita sudah diselamatkan. Melalui Roma 12:4-5, disampaikan pula bahwa gereja adalah tubuh Kristus di mana setiap anggota, termasuk diaken, memiliki fungsi dan kehormatan masing-masing demi pertumbuhan tubuh Kristus. Allah yang Mahatinggi berkenan mengundang manusia terbatas dan berdosa untuk menjadi rekan sekerja-Nya—suatu hak istimewa yang luar biasa.
Mengubah Cara Pandang: Pelayanan Adalah Ekspresi Kasih
Dalam pendahuluan khotbah, disampaikan bahwa seringkali pelayanan disamakan dengan kerja keras, kelelahan, atau pengorbanan semata. Namun melalui Firman Tuhan, jemaat dan khususnya calon Diaken diajak mengubah cara pandang tersebut. Pelayanan sejatinya adalah tindakan mengabdikan diri, kemampuan, dan hidup bagi Tuhan serta sesama sebagai ungkapan rasa syukur. Pelayanan bukan paksaan atau hukuman, melainkan ekspresi kasih, sesuai janji Tuhan dalam Yohanes 14:15:
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-Ku.”
Hari pentahbisan ini menjadi penegasan bahwa jabatan yang diterima bukan sekadar tugas, melainkan sebuah kehormatan besar dari Tuhan.
Mengapa Pelayanan Adalah Kehormatan, Bukan Beban?
Banyak orang memandang pelayanan gereja sebagai beban tambahan, padahal Alkitab menegaskan sebaliknya. Ada tiga alasan utama yang diuraikan:
1. Kita Dipercaya Oleh Raja Segala Raja. Dipercaya oleh Allah Pencipta langit dan bumi adalah kehormatan tertinggi, sebagaimana tertulis dalam 1 Korintus. 4:2: “Dan inilah yang dicari-cari dalam pengurus-pengurus, ialah supaya seseorang itu didapati dapat dipercaya.”
2. Kita Diangkat Menjadi Rekan Sekerja Allah. Allah tidak membutuhkan manusia, namun dalam kasih karunia-Nya Ia mengundang kita terlibat dalam rencana penyelamatan. 1 Korintus 3:9 menegaskan:
“Karena kita adalah rekan sekerja Allah…”
3. Pelayanan Kita Memiliki Nilai Kekal. Berbeda dengan pekerjaan duniawi yang berlalu, apa yang dikerjakan bagi Tuhan tercatat di surga dan bernilai kekal, sesuai 2 Korintus 5:10.
Kunci Agar Pelayanan Tetap Penuh Sukacita
Agar pelayanan tidak menjadi beban meski di tengah tantangan, disampaikan tiga kunci firman Tuhan:
– Layani Berdasarkan Kasih, Bukan Kewajiban (2 Korintus 9:7). Melayani karena kasih membuat beban berat terasa ringan.
– Ingat Kepada Tuhan, Bukan Kepada Manusia (Kolose 3:23). Fokuslah pada keridhaan Tuhan, bukan pujian atau kritik manusia.
– Sadari Kuasa Berasal Dari Tuhan (1 Petrus 5:7). Jangan memikul beban sendirian, serahkan segala kekhawatiran kepada-Nya.
Syarat dan Tanggung Jawab Diaken: Karakter dan Pengabdian
Khotbah juga menegaskan bahwa jabatan Diaken adalah jabatan rohani vital, bukan jabatan politik atau sosial. Berdasarkan Kisah Para Rasul 6:1-7 dan 1 Timotius 3:8-13, syarat utama seorang Diaken bukanlah kemampuan akademis atau kekayaan, melainkan karakter rohani yang mulia:
– Harus terhormat, tidak bermulut dua, dan berperilaku benar.
– Tidak dikendalikan hawa nafsu, tidak tamak, dan bersih hati dalam mengurus harta Tuhan.
– Memegang teguh iman dengan hati murni dan hidup sesuai kebenaran Alkitab.
– Telah diuji dan terbukti tidak bercacat cela hidupnya.
– Mampu memimpin rumah tangga dengan baik, karena keluarga adalah laboratorium pelayanan pertama.
Sementara itu, tanggung jawab utama Diaken meliputi: melayani kebutuhan jemaat (fisik maupun sosial), membantu ketertiban ibadah dan persiapan Perjamuan Kudus, menjadi mitra gembala dalam penggembalaan, serta menjadi teladan hidup bagi sesama.
Janji Tuhan bagi Diaken yang setia tercatat jelas dalam 1 Timotius 3:13:
“Sebab barangsiapa melayani dengan baik sebagai diaken, ia memperoleh kedudukan yang terhormat dan keberanian yang besar dalam iman kepada Kristus Yesus.” Ayat ini kembali menegaskan tema utama: pelayanan adalah kehormatan.
Momen Pentahbisan: Penuh Doa dan Penyerahan
Puncak ibadah berlangsung saat prosesi pentahbisan. Pdt. Yusak, S. Th selaku pemimpin ibadah menyampaikan pertanyaan pengukuhan kepada kedua calon Diaken:
“Saudara Dakek Orpa Magdalena, S. Th dan Diaken Marcelius Wau, S. Th, apakah saudara bersedia dan berjanji untuk melayani Tuhan dalam jabatan Diaken ini dengan setia, jujur, dan tulus hati? Apakah saudara berjanji untuk memegang teguh kebenaran Firman Allah, hidup kudus, serta mengabdikan diri bagi pertumbuhan jemaat GKKD BOM Bengkulu?”
Dengan tegas dan tulus, keduanya menjawab:
“Saya bersedia dan berjanji, dengan pertolongan Allah.”
Sambil menumpangkan tangan, Pdt. Yusak, S. Th mengucapkan pentahbisan:
“Atas kuasa dan wewenang Firman Allah, serta atas nama Gereja Tuhan Yesus Kristus, kami menahbiskan dan melantik saudara menjadi Diaken Gereja GKKD BOM Bengkulu. Semoga Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus mengaruniakan hikmat, kekuatan, dan kasih karunia-Nya melimpah ke atas saudara. Tuhan meneguhkan saudara dalam pelayanan ini sampai akhir hayat, supaya saudara menjadi orang yang berguna, terhormat, dan berkenan di hadapan-Nya.”
Ucapan “AMIN. HALELUYA!” bergema seisi gedung, menjadi tanda dukungan dan doa seluruh jemaat bagi pelayanan baru keduanya.
Kesimpulan: Terimalah Sebagai Kemuliaan
Menutup khotbah, ditekankan kembali bahwa setiap pelayanan sama mulianya di mata Tuhan. Pilihan Tuhan bukan karena kehebatan manusia, melainkan karena kasih karunia-Nya. Mengutip 1 Samuel 2:30b, disampaikan pesan peneguhan:
“Barangsiapa memuliakan Aku, akan Aku muliakan.”
Ibadah pentahbisan ini diakhiri dengan ucapan selamat melayani kepada Diaken Dakek Orpa Magdalena, S. Th dan Diaken Marcelius Wau, S. Th, dengan harapan keduanya menjalani panggilan ini dengan sukacita, kasih, dan kesetiaan sampai akhir, menjadikan pelayanan sebagai bukti kehormatan terbesar sebagai anak-anak Allah..(*2b)










