Maskapai Garuda Indonesia Resmi Tutup Penerbangan Ke Bengkulu

Garuda Resmi Tutup Penerbangan Ke Bengkulu

Bengkulu|| ISBCenter.com – Maskapai nasional Garuda Indonesia resmi menghentikan penerbangan rute Bengkulu–Jakarta dan sebaliknya mulai Sabtu (28/3/2026).

Keputusan ini diambil oleh manajemen perusahaan dengan alasan evaluasi bisnis, meskipun berbagai upaya telah dilakukan pemerintah daerah untuk mempertahankan layanan tersebut.

Bacaan Lainnya

Pemerintah Provinsi Bengkulu sebelumnya diketahui telah melakukan lobi hingga pertemuan langsung dengan manajemen Garuda di Jakarta.

Namun, upaya tersebut tidak mampu mengubah keputusan maskapai pelat merah itu yang tetap memilih menghentikan operasional rute tersebut.

General Manager Garuda Indonesia Perwakilan Bengkulu, Boby Pratama, membenarkan izin tersebut. Ia menyebut keputusan diambil berdasarkan evaluasi kinerja operasional, termasuk tingkat keterisian penumpang yang berada di kisaran 80 persen.

Ironisnya, angka okupansi tersebut bagi banyak pihak justru tergolong tinggi untuk rute daerah. Namun, bagi Garuda, angka itu dianggap belum memenuhi target maksimal perusahaan demi menjaga keuntungan dan keinginan bisnis.

“Pihak Garuda sudah mempertimbangkan sisi bisnis secara menyeluruh,” ujar Boby.

Keputusan ini sekaligus memunculkan kritik tersirat bahwa sebagai maskapai nasional, Garuda dinilai semakin mengedepankan hitung-hitungan komersial dibandingkan fungsi pelayanan publik, terutama bagi daerah yang masih bergantung pada konektivitas udara.

Padahal, akses penerbangan bukan sekadar soal bisnis, tetapi juga mencakup mobilitas masyarakat, pemerataan ekonomi, hingga keterhubungan antarwilayah. Ketika rute dengan tingkat keterisian yang relatif tinggi pun dihentikan, publik pun meninjau di mana letak komitmen pelayanan tersebut.

Kebijakan serupa disebut juga diterapkan di beberapa provinsi lain sebagai bagian dari langkah efisiensi perusahaan di tengah dinamika industri penerbangan. Namun demikian, layanan di Bengkulu tidak sepenuhnya berhenti.

Maskapai anak usaha Garuda, Citilink, masih tetap melayani rute Bengkulu–Jakarta secara normal. Selain itu, Lion Air juga masih beroperasi di jalur tersebut.

Meski begitu, berkurangnya jumlah maskapai membuat pilihan masyarakat semakin terbatas. Dampaknya, harga tiket pesawat pun melabung tinggi, kini berada di atas Rp1 juta per sekali terbang, bahkan bisa menembus Rp1,2 juta pada waktu tertentu.

Kondisi ini memaksa sebagian masyarakat beralih ke transportasi darat. Perjalanan menggunakan bus menuju Jakarta yang memakan waktu jauh lebih lama tetap menjadi pilihan karena tarifnya lebih terjangkau, berkisar Rp600 ribu per orang.

Fenomena ini menciptakan lingkaran yang kontradiktif: harga tiket mahal membuat penumpang berkurang, sementara berkurangnya penumpang kembali dijadikan alasan untuk menghentikan layanan.

Ke depan, pihak Garuda menyatakan masih membuka peluang evaluasi jika kondisi pasar berubah. Namun bagi masyarakat Bengkulu, keputusan ini sudah lebih dulu menghadirkan dampak nyata—berkurangnya akses, meningkatnya biaya perjalanan, dan munculnya kesan bahwa kepentingan bisnis kini lebih dominan dibandingkan pelayanan publik..(*rz)

Pos terkait