Pdt. Yusak di GKKD Bom Bengkulu: Kekudusan Sejati Berawal dari Hati, Bukan Sekadar Ritual

Pdt. Yusak, S.Th

Bengkulu||ISBCenter.com – Ibadah Minggu di Gereja GKKD Bom Bengkulu, 12 Juli 2026, berlangsung khidmat dan penuh pesan reflektif. Dalam khotbahnya, Pdt. Yusak, S.Th mengajak jemaat merenungkan makna kekudusan yang sejati menurut ajaran Tuhan Yesus: bukan diukur dari ketaatan pada ritual lahiriah, tetapi dari kondisi hati yang benar-benar tunduk kepada Allah.

Mengawali renungan, Pdt. Yusak menguraikan makna adat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dan istilah Yunani *Paradosis* yang berarti sesuatu yang diteruskan dari pendahulu ke penerus. Ia menjelaskan bahwa pada zaman Yesus, tradisi berkembang menjadi aturan tambahan buatan manusia yang kemudian dianggap setara, bahkan lebih tinggi dari Firman Tuhan.

“Ada tradisi yang baik, yaitu yang sejalan dengan Firman Tuhan. Namun ada juga tradisi yang menyesatkan, yang justru meniadakan maksud kehendak Allah,” jelasnya.

Ia juga mengutip kearifan lokal Minangkabau sebagai pengingat: “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah” – artinya adat boleh dijunjung tinggi, selama tidak bertentangan dengan Firman Tuhan.

Pdt. Yusak menegaskan prinsip *Sola Scriptura* sebagai otoritas tertinggi dalam iman Kristen. Alasannya jelas:

1. Firman Tuhan tidak pernah salah, sedangkan pemahaman manusia terbatas dan bisa berubah-ubah.
2. Yesus sendiri menegur: “Kamu menolak perintah Allah untuk memegahkan tradisi kamu sendiri” (Markus 7:9). Jika adat bertentangan dengan Alkitab, berarti kita menempatkan kebiasaan manusia lebih tinggi dari Tuhan.
3. Iman Kristen bukan sekadar warisan budaya, melainkan hubungan pribadi dengan Kristus. Budaya harus diuji di bawah terang Firman-Nya, bukan sebaliknya.
4. Hanya Tuhan yang sanggup mengampuni dosa; adat istiadat hanya mengatur kehidupan sosial semata.

Tiga Pelajaran dari Markus 7:1–23 :

1. Jangan Dahulukan Tradisi di Atas Firman
Pdt. Yusak menyoroti kritik orang Farisi terhadap murid Yesus yang makan tanpa mencuci tangan sesuai adat. Padahal aturan itu tidak ada dalam Taurat. Lebih jauh, mereka mencari celah untuk menghindar dari perintah menghormati orang tua dengan dalih “sudah mempersembahkan harta kepada Tuhan”.

“Tradisi gereja atau budaya itu baik untuk ketertiban, tetapi jangan sampai menggantikan kebenaran Tuhan. Ketaatan sejati adalah menuruti apa yang Tuhan katakan, bukan sekadar mengikuti apa yang manusia buat,” tegas Pdt. Yusak.

2. Tuhan Melihat Hati, Bukan Penampilan
Yesus mengajarkan bahwa yang menajiskan manusia bukan makanan yang masuk, melainkan apa yang keluar dari hati.

Beliau mengilustrasikan: “Ibarat buah kedondong, luarnya terlihat bersih dan berkilau, namun di dalamnya penuh duri. Begitulah orang yang rajin beribadah secara lahiriah, namun hatinya masih penuh kebencian, iri hati, atau kemunafikan. Tuhan tidak tertipu oleh pakaian rapi atau jabatan di gereja.”

Ibadah yang hanya berdasar kebiasaan tanpa ketulusan hati, kata Yesus, adalah ibadah yang sia-sia.

3. Sumber Segala Sesuatu adalah Hati
Dosa seperti pikiran jahat, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, hingga kesombongan, semuanya bermula dari hati.

“Masalah utama kita bukan lingkungan yang buruk, melainkan hati yang jatuh dalam dosa sejak lahir. Perubahan luar tidak akan bertahan jika akar hatinya tidak dibersihkan oleh Roh Kudus,” tambahnya.

Jemaat juga diajak mengenali praktik budaya yang tidak sejalan dengan iman, seperti:

– Memuja atau memohon pertolongan kepada roh leluhur, arwah, atau makhluk ciptaan.
– Melakukan praktik ramalan, santet, atau upacara mistis yang dilarang Alkitab.
– Membolehkan perbuatan dosa seperti perzinahan atau ketidakadilan.
– Menjadikan pelaksanaan adat sebagai syarat keselamatan.

Contohnya, sembahyang di makam untuk memohon berkat kepada arwah, atau menebar sesaji ke alam demi keselamatan. Hal ini bertentangan dengan Alkitab yang menegaskan hanya Tuhan yang layak disembah dan sumber perlindungan.

Meski begitu, Pdt. Yusak menegaskan bahwa banyak budaya tetap indah dan patut dilestarikan. Mulai dari tarian daerah, pakaian adat, lagu daerah, hingga semangat gotong royong dan menghormati orang tua – semuanya tetap terjaga sebagai identitas yang mulia selama tidak bertentangan dengan Firman Tuhan.

Di akhir khotbah, Pdt. Yusak menyampaikan lima langkah:

1. Uji Setiap Hal: Selalu tanyakan, “Apakah ini memuliakan Tuhan dan sesuai Alkitab?”
2. Jaga Hati yang Tulus: Beribadahlah karena mengasihi Tuhan, bukan sekadar memenuhi kewajiban.
3. Berani Berbeda: Jika ada hal yang bertentangan dengan iman, tolaklah dengan penuh kasih dan kebijaksanaan.
4. Minta Dibersihkan Setiap Hari: Serahkan hati kepada Roh Kudus agar terus diperbarui menjadi serupa Kristus.
5. Jadilah Terang: Tunjukkan bahwa hidup yang menurut Firman Tuhan justru lebih damai dan indah.

Kekudusan sejati, tegas Pdt. Yusak, bukanlah hasil dari aturan buatan manusia, melainkan buah dari hati yang taat kepada Allah. Adat istiadat punya nilai, namun tidak boleh melampaui otoritas Alkitab. Hanya Tuhan yang tahu isi hati dan Dialah yang sanggup menyucikannya.

  • Kata Bijak:
    “Tuhan tidak mencari tangan yang sekadar bersih menurut aturan manusia, tetapi hati yang sungguh-sungguh bersih menurut kebenaran-Nya.”
    “Adat boleh kita pelihara, tapi biarlah Firman Tuhan yang menjadi pedoman utama hidup kita selamanya.” Amin..(*rz)

Pos terkait