Resmi Diteguhkan, Fenderian Puji Kristianto dan Fanny Sihombing Bangun Bahtera Rumah Tangga di Atas Kristus

Resmi Diteguhkan, Fenderian Puji Kristianto dan Fanny Sihombing Bangun Bahtera Rumah Tangga di Atas Kristus

Bengkulu Utara||ISBCenter.com – Janji kasih sehidup semati diucapkan Fenderian Puji Kristianto dan Fanny Trisna Kencana Waty Sihombing dalam Ibadah Pemberkatan dan Peneguhan Pernikahan yang berlangsung khidmat pada Jumat, 14 Agustus 2026 di GKKD BOM Bengkulu Satelit Bukit Harapan, Bengkulu Utara.

Ibadah yang dipenuhi sukacita dan ucapan syukur ini dipimpin oleh Diaken Esther Eventhrise, S.S., S.Pd., Gr. sebagai liturgos, dengan pelayanan firman disampaikan oleh Pdt. Yusak, S.Th.

Mengusung tema “Membangun Mezbah Keluarga yang Kokoh di Atas Batu Karang”, Pdt. Yusak menekankan Yosua 24:15b sebagai fondasi utama: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”

Menurutnya, pernikahan Kristen bukan hanya tentang membangun rumah secara fisik, melainkan membangun mezbah – di mana Kristus menjadi pusat.

“Pernikahan yang kuat bukan berarti pernikahan yang tanpa badai. Badai pasti datang – ekonomi, komunikasi, perbedaan karakter. Yang membedakan adalah fondasinya. Rumah di atas batu tetap berdiri bukan karena tidak diterpa hujan, tapi karena fondasinya kokoh,” tegas Pdt. Yusak mengutip Matius 7:24-25.
BPN Adalah Peta, Pernikahan Adalah Perjalanan

Pdt. Yusak juga mengingatkan kedua mempelai yang telah menyelesaikan Bimbingan Pranikah (BPN) selama dua bulan bahwa BPN hanyalah peta. Perjalanan sesungguhnya baru dimulai setelah pemberkatan.

Firman Tuhan, kata dia, harus dipraktikkan, bukan hanya diketahui. Dari sanalah mezbah keluarga dibangun melalui doa bersama, membaca firman, dan saling memberkati.

Dalam khotbahnya, ia menyampaikan tiga poin penting bagi keluarga baru:

1. Keluarga Besar Sebagai Pagar, Bukan Tembok. Mengacu pada Kejadian 2:24, keluarga besar dipanggil untuk menjadi pagar yang melindungi pertumbuhan keluarga baru, bukan tembok yang menghalangi dan mengontrol. “adilah pagar yang melindungi, bukan tembok yang menghalangi.

2. Gereja Sebagai Komunitas Pemulih. Mengutip Galatia 6:2, jemaat diajak untuk tidak menjadi penonton dan penyebar gosip atas pergumulan rumah tangga, melainkan komunitas yang menopang. Prinsipnya: Tidak bergosip, tetapi mendoakan. Tidak menghakimi, tetapi menolong.

3. Kristus Sebagai Satu-satunya Batu Karang. Pdt. Yusak menegaskan, suami, istri, uang, dan jabatan bukanlah fondasi kekal. Sesuai 1 Korintus 3:11, hanya Yesus Kristus dasar yang teguh. Di saat manusia lemah, ekonomi berubah, dan rencana gagal, keluarga masih punya tempat untuk kembali, bertobat, dan mengampuni.

Di akhir khotbah, Fenderian dan Fanny diajak mengikrarkan tiga komitmen utama: Menempatkan Kristus sebagai pusat, membangun mezbah doa di rumah, dan menjaga perjanjian nikah dengan kasih, kesetiaan, dan takut akan Tuhan.

Ibadah peneguhan ini pun menjadi cermin bagi seluruh jemaat yang hadir untuk berefleksi – apakah Kristus masih menjadi pusat rumah tangga dan apakah mezbah doa masih menyala di rumah masing-masing.

Sebagaimana Mazmur 127:1 mengingatkan, “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.”

Selamat menempuh hidup baru bagi keluarga Fenderian Puji Kristianto dan Fanny Trisna Kencana Waty Sihombing..(*dd)

Pos terkait