Tekan Inflasi Pangan, TPID Bengkulu Gaspol Strategi 4K Jelang Lonjakan IPH

Sekda Bengkulu Herwan Antoni

Bengkulu||ISBCenter.com – Pemerintah Provinsi Bengkulu bergerak cepat meredam laju inflasi, terutama dari sektor pangan. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bengkulu menegaskan komitmen memperkuat Aksi 4K agar harga kebutuhan pokok tetap stabil dan daya beli masyarakat terjaga.

Langkah ini disepakati dalam Rapat Koordinasi High Level Meeting TPID yang berlangsung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Selasa (9/6). Rapat dipimpin Kepala Perwakilan BI Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat dan dihadiri Sekretaris Daerah Herwan Antoni, Kepala BPS Bengkulu Win Rizal, serta sejumlah OPD dan stakeholder pangan.

Sekda Bengkulu Herwan Antoni menyebut kenaikan harga pangan, khususnya cabai dan minyak goreng, jadi alarm bagi semua pihak. Karena itu, TPID memperkuat Aksi 4K yang mencakup:

  1. Keterjangkauan harga: lewat operasi pasar dan pasar murah sesuai petunjuk teknis GPIPS
  2. Ketersediaan pasokan: pemetaan 20 komoditas strategis di daerah sentra produksi
  3. Kelancaran distribusi: koordinasi dengan Bulog dan distributor untuk menekan biaya logistik
  4. Komunikasi efektif: edukasi publik dan transparansi data harga

“Kita tidak bisa kerja sendiri. Kenaikan harga harus dijawab dengan langkah terukur dan sinergi. Aksi 4K ini memastikan masyarakat tetap bisa mengakses bahan pokok dengan harga wajar,” tegas Herwan.

Kepala BI Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat memaparkan, inflasi Bengkulu Mei 2026 secara tahunan tercatat 3,01% (yoy). Dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, inflasi bulanan mencapai 1,85% (mtm) dengan andil 0,61%.

Cabai merah tercatat sebagai komoditas pendorong inflasi utama dengan andil 0,43%, diikuti minyak goreng 0,06%. Sementara daging ayam ras justru menahan laju inflasi dengan andil -0,11%.

“Kenaikan cabai merah dipicu cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi di sentra hortikultura yang menurunkan volume panen. Untuk minyak goreng, penyebabnya harga CPO global dan biaya kemasan yang naik,” jelas Wahyu.

Sebaliknya, harga daging ayam ras turun karena produksi naik dan pasokan dari luar daerah bertambah.

TPID juga memetakan empat wilayah yang jadi fokus pemantauan Indeks Perkembangan Harga (IPH), yaitu Kabupaten Rejang Lebong, Lebong, Bengkulu Tengah, dan Bengkulu Selatan. Total ada 20 komoditas pangan strategis yang dipantau ketat, mulai dari bawang merah, berbagai jenis cabai, hingga beras dan telur.

Kepala Dinas Kominfotik Bengkulu Nelly Alesa menambahkan, masyarakat bisa memantau update harga komoditas secara real time lewat aplikasi Ben Connect. Ini bagian dari strategi komunikasi efektif agar publik tidak panik dan mendapat info harga yang akurat.

Rakor ditutup dengan penandatanganan Berita Acara sebagai bentuk komitmen TPID bersama Pemprov, BI, BPS, Bulog, dan seluruh pemangku kepentingan. Tujuannya satu: jaga stabilitas harga, amankan stok pangan, dan lindungi daya beli warga Bengkulu..(*2b)

Pos terkait