Camat Himbau Kepada Kepala Desa Ajak Turun ke Warga, Meningkatkan Kepedulian sosial

Slamet warga Desa Rawa Mulya SP7, Kecamatan XIV Koto.

Mukomuko||ISBCenter.com – Di tengah geliat pembangunan yang terus berjalan, masih ada kisah pilu yang menyayat hati dari pelosok Kabupaten Mukomuko.

Tepatnya di RT 20 Desa Rawa Mulya SP7, Kecamatan XIV Koto. Seorang warga bernama Selamet harus berjuang melawan sakit gula yang telah menggerogoti tubuhnya selama lebih dari lima tahun.

Kini, kondisi pria ini kian memprihatinkan, tak lagi mampu duduk apalagi berdiri, hanya bisa terbaring lemah di dalam kamar rumahnya yang gelap tanpa penerangan listrik PLN.

Sang istri, Mukayah, dengan mata berkaca-kaca menceritakan kisah pahit yang harus mereka lalui setiap hari.

Untuk memenuhi kebutuhan makan, ia mencari brondolan sawit di kebun orang dengan hasil yang tak menentu.

“Suami saya sudah tidak bisa beraktivitas seperti dulu lagi karena sakit gula. Sekarang kondisinya semakin parah, hanya terbaring di kamar. Belum pernah kami bawa ke rumah sakit karena biaya tidak ada. Untuk makan saja saya harus mencari brondolan, sedangkan anak hanya kerja serabutan,” tutur Mukayah lirih.

Bantuan dari pemerintah memang ada, berupa beras dan sembako. Namun, jumlah itu jauh dari cukup untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari.

“Kalau bantuan dari pemerintah ya ada, tapi tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Kami tetap berusaha bertahan,” tambah Mukayah, dengan suara penuh kesabaran yang terbungkus doa.

Ironisnya, penderitaan keluarga Selamet kian berat karena rumah mereka, bersama empat rumah lainnya, belum tersentuh aliran listrik PLN.

Padahal, lokasi ini hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari Balai Daerah Mukomuko, pusat pemerintahan kabupaten.

Kami hanya berharap listrik PLN bisa masuk ke wilayah ini. Kalau malam, rumah benar-benar gelap. Harapan saya juga, suami bisa sembuh dan bisa beraktivitas kembali,” ungkapnya.

Kondisi memilukan ini juga dirasakan warga sekitar. Cholis, tetangga Selamet, mengaku sangat prihatin dengan keadaan tersebut.

“Sekarang Pak Selamet sudah tidak bisa apa-apa lagi, hanya berbaring. Kami sebagai tetangga hanya bisa membantu seadanya. Kami berharap ada uluran tangan dari pemerintah maupun masyarakat agar beliau bisa mendapat perawatan,” ucapnya.

Isyu kemiskinan ekstrim dan anak yatim dan piatu di Kecamatan XIV Koto Akan jadikan fokus penanganan dengan pola gotong royong melalui inovasi Gerakan Jumat Gemar Bersedekah.

“Secara bertahap akan disentuh semua secara kolaboratif dan ini sudah menjadi tanggung jawab kami pemerintah untuk melakukan intervensi kebijakan sesuai kewenangan kami. Kami melihat bahwa kebersamaan dan gotong royong sebagai akar budaya bangsa adalah sumber kekuatan utk meningkatkan kepedulian sosial antar sesama.” Ungkap Camat Singgih Promono

Untuk mengatasi kemiskinan, para kepala Desa dan Kadus, diminta secara rutin melaporkan berbagai permasalahan sosial, seperti kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan.

Hal itu disampaikan Camat XIV Koto Singgih Promono pada Awak Media Senin (15/9/2025) Menurutnya, semua elemen harus bergotong royong dalam pengentasan kemiskinan.

“Para Kepala Desa, untuk turun langsung Temui warga yang benar-benar membutuhkan, petakan, dan laporkan ke kami, agar nantinya diberikan langkah-langkah penanganan kemiskinan,” tandasnya.(Zul)

Pos terkait