Jakarta||ISBCenter.com – Hendrik (31), seorang nelayan warga Pulau Lancang, Kepulauan Seribu masih merasakan syok hebat, akibat menjadi saksi pertama saat pesawat Sriwijaya Air SJ-182 jatuh menghantam permukaan laut hingga meledak.
Hendrik mengaku, sedang melakukan aktivitas penangkapan rajungan menggunakan alat tangkap tradisional jaring.
“Tiba-tiba pesawat itu jatuh dan meledak sekitar jam dua lebih, siang hari, kaget seketika dan kejadiannya berlangsung cepat,” kata Hendrik di kediamannya di Pulau Lancang, Minggu (10/1/2021).
Saat menceritakan kembali detik-detik peristiwa itu, raut wajah Hendri nampak tegang. Sesekali, konsentrasinya berkurang, sehingga meminta pertanyaan diulangi.
“Maaf, memang masih syok saat mengingat lagi, karena banyak orang mengira saya pun nggak selamat,” kata Hendrik.
Lebih lanjut, Hendrik menuturkan, pada saat pesawat menghantam permukaan laut, serpihan pecahan badan pesawat terbang berhamburan bahkan diantaranya hampir mengenainya di perahu.
Ditambah lagi, ombak dampak tekanan pesawat setinggi kurang lebih lima meter datang mengombang-ambingkan perahunya.
Sadar masih dalam kondisi selamat, Hendrik lantas bergegas kembali pulang. Namun, terkaget untuk kesekian kalinya setelah melihat jaring yang ditarik juga mengangkut potongan tubuh manusia dalam bentuk kecil.
“Bingung, sedih, dan syok, bercampur perasaannya,” ujar Hendrik.
Setibanya, di kampung ternyata sebagian besar warga Pulau Lacang juga mengetahui jatuhnya pesawat Sriwijaya. Kemudian, bersama aparat terkait mendatangi lokasi kejadian.
“Syukurlah saya masih dalam keadaan sehat, tapi untuk sementara libur melaut dulu, supaya tenang,” tandasnya..(**tim)










