Fakultas Pertanian UNIGAL Mengambil Langkah Strategis Dengan Menyelenggarakan Seminar Internasional

Fakultas Pertanian UNIGAL Mengambil Langkah Strategis Dengan Menyelenggarakan Seminar Internasional

Ciamis||ISBCenter.com – Saat dunia bergulat dengan krisis iklim dan kelangkaan sumber daya, Fakultas Pertanian Universitas Galuh (UNIGAL) mengambil langkah strategis dengan menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “Circular Economy 2025: Bridging Conservation, Culture, and Global Sustainability”.

Acara yang akan digelar pada Sabtu, 24 Mei 2025 pukul 08.00–16.00 WIB di Auditorium UNIGAL, Jl. RE. Martadinata No. 150, Ciamis ini bukan sekadar pertemuan akademis biasa, melainkan titik temu gagasan-gagasan revolusioner dari para pakar terkemuka.

Kehadiran Prof. Dr. Ir. Nunung Nuryartono, M.Si. (Ketua Umum PERHEPI), Assoc. Prof. Bibin Bintang Adriana (Kwansei Gakuin University, Jepang), dan Assoc. Prof. Piyarat Bunsueang (Prince of Songkla University, Thailand) menunjukkan betapa mendesaknya isu ekonomi sirkular ini.

Lokasi seminar di jantung Jawa Barat—kawasan dengan kekayaan agraris sekaligus kerentanan ekologis—justru membuat diskusi ini semakin relevan. Mengapa sekarang? Karena transisi menuju sistem ekonomi yang memulihkan alam alih-alih mengeksploitasinya sudah tidak bisa ditunda lagi.

Pertanyaan kritis yang patut diajukan: Bagaimana konsep ekonomi sirkular bisa diimplementasikan di tingkat lokal tanpa mengikis budaya dan kearifan masyarakat? Seminar ini harus mampu menjembatani teori akademis dengan praktik nyata.

Misalnya, teknologi pengomposan mutakhir dari Jepang atau model agrosilvopastural Thailand bisa diadaptasi untuk petani di Jawa Barat, tentu dengan modifikasi yang sesuai konteks lokal.

UNIGAL, melalui acara ini, tidak hanya menyediakan panggung bagi pertukaran ide, tetapi juga mendorong aksi kolektif.

Lokasi strategis kampus yang berdekatan dengan kawasan pertanian dan sentra industri kecil menciptakan peluang unik untuk uji coba langsung.

Waktu pelaksanaan yang bertepatan dengan musim tanam juga memberi ruang bagi petani untuk berpartisipasi aktif.

Kita berada di persimpangan jalan: meneruskan model ekonomi linear yang terbukti merusak atau beralih ke pendekatan sirkular yang berkelanjutan.

Seminar ini harus menjadi pemicu gerakan konkret, bukan sekadar ritual akademis. Sebab, seperti kata pepatah Sunda, “teu aya gunung nu teu tarek-tarek, teu aya lebak nu teu jujugan”—tak ada gunung yang tak bisa didaki, tak ada masalah yang tak ada solusinya. (*Ilham)

Pos terkait