Ibadah di GKKD Bom Bengkulu, Pdt. Yusak S.Th Ajak Jemaat Waspadai Kondisi Hati sebagai Pusat Kehidupan

Pdt. Yusak, S.Th

Bengkulu||ISBCenter.com – Gereja Kristen Kristen Dian (GKKD) Bom Bengkulu menggelar ibadah rutin pada Senin, 14 Juni 2026. Dalam kesempatan tersebut, Pdt. Yusak, S.Th membawakan renungan bertajuk “Jaga Hati” yang menekankan pentingnya menjaga pusat kehidupan manusia. Renungan itu berlandaskan pada Amsal 4:23 sebagai ayat utama.

Pdt. Yusak menjelaskan secara teologis bahwa dalam pandangan Alkitab, istilah Ibrani “lev” atau hati mencakup keseluruhan manusia: pikiran, kehendak, emosi, hingga keputusan yang diambil. “Tuhan tidak melihat rupa luar, tetapi melihat hati,” ujarnya mengutip 1 Samuel 16:7. Ia menambahkan, jika hati dijaga dengan baik maka seluruh arah hidup akan benar, namun jika hati rusak, segala tindakan pun ikut terganggu. Hal ini diperkuat dengan perkataan Yesus dalam Matius 15:19, bahwa segala pikiran jahat berawal dari hati manusia.

Untuk memudahkan pemahaman jemaat, Pdt. Yusak menggunakan dua perumpamaan. Pertama, hati diibaratkan sebagai sumber air: jika sumbernya jernih, maka seluruh aliran air yang keluar—baik itu perkataan, sikap, maupun keputusan—akan bersih. Sebaliknya, jika sumbernya berlumpur, maka hasilnya pun tetap kotor meskipun saluran luarnya terlihat bagus. Kedua, hati disamakan dengan gerbang benteng kota; jika gerbang ini terbuka tanpa penjagaan, musuh akan mudah masuk membawa racun berupa iri hati, kepahitan, atau hawa nafsu.

Tiga Alasan Menjaga Hati Penting

Dalam khotbahnya, Pdt. Yusak memaparkan tiga alasan utama:

1. Hati adalah sumber segala tindakan, luka di hati akan berdampak pada keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan.
2. Hati mudah diserang, baik melalui media sosial, perbandingan, maupun luka masa lalu.
3. Hati manusia cenderung menipu, sebagaimana tertulis dalam Yeremia 17:9, sering kali kita merasa baik-baik saja padahal hati sudah penuh masalah. Oleh karena itu, penjagaan harus dilakukan secara aktif.

Empat Langkah Praktis Jaga Hati

Pdt. Yusak juga membagikan empat prinsip yang bisa diterapkan sehari‑hari:

– Terapkan penyaringan – Pilih apa yang masuk melalui mata, telinga, dan pergaulan (Amsal 4:25).
– Lakukan pengecekan rutin – Selidiki hati di hadapan Tuhan setiap hari, akui kepahitan atau iri hati agar tidak terpendam (Mazmur 139:23).
– Isi dengan Firman Allah – Hati yang penuh kebenaran tidak akan memiliki ruang bagi kejahatan (Yosua 1:8).
– Pilih lingkungan yang benar – Pergaulan yang buruk dapat merusak watak baik (1 Korintus 15:33).

Belajar dari Tokoh Alkitab

Sebagai penguatan, pengkhotbah mencontohkan tokoh Alkitab. Daud dan Ayub menjadi teladan yang menjaga hati tetap lurus meski di tengah tekanan besar—Daud menahan diri dari dendam, Ayub tidak menyalahkan Tuhan meski kehilangan segalanya. Sementara Kain dan Yudas Iskariot menjadi peringatan: kecewa kecil atau cinta uang yang tidak dijaga perlahan tumbuh menjadi dosa besar yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Menutup khotbahnya, Pdt. Yusak menegaskan bahwa menjaga hati bukanlah sekadar ungkapan rohani, melainkan kebutuhan hidup sehari‑hari. “Tuhan tidak menuntut kita sempurna, tetapi Dia menginginkan hati yang jujur dan dijaga,” ujarnya. Ia mengajak jemaat untuk mulai mengecek kondisi hati setiap hari dan menyerahkannya kepada Tuhan, sebab hanya hati yang dijaga yang mampu memancarkan kehidupan yang berkat bagi sesama..(ys)

Pos terkait