Bengkulu||ISBCenter.com – Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, kita semua dipanggil untuk sebuah misi besar, yaitu untuk membangun Kerajaan Allah. Namun, sering kali kita tidak menyadari bahwa dalam keseharian kita, kita sebenarnya sedang sedang meruntuhkan. Saudaraku, Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk percaya kepada-Nya, tetapi juga untuk mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya—baik dalam pelayanan, keluarga, maupun dalam pertumbuhan pribadi. Namun, apakah kita sudah membangun dengan benar? Apakah sikap kita mencerminkan kedewasaan rohani yang sesuai dengan panggilan ini?
Dasar renungan kita hari ini saya ambil dari 1 Korintus 3:10-11, dikatakan “Sesuai dengan kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.”
Berdasarkan firman Tuhan di atas kita akan belajar bagaimana menjadi seorang yang membangun bukan yang meruntuhkan. Renungan ini sekaligus menjadi kesempatan kita mengintropeksi diri agar kita bisa semakin teguh sebagai pribadi yang hidup dalam panggilan membangun.
1. Membangun Kerjaan Allah Dalam Pelayanan.
Yesus berkata dalam Matius 9:37-38, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuhan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”
Sebagai bagian dari Tubuh Kristus, entah itu di gereja, komunitas, atau di mana pun kita berada—kita dipanggil untuk menjadi pembangun, bukan pengkritik yang meruntuhkan. Untuk memastikan apakah kita berada dalam posisi pribadi yang terlibat dalam pembangunan Tubuh Kristus, mari kita cek diri kita dengan beberapa pertanyaan berikut ini :
– Apakah kita melayani dengan kasih dan ketulusan?
– Apakah kita membangun sesama dengan perkataan yang menguatkan, atau justru dengan gosip dan kritik yang menjatuhkan?
– Apakah kita bersedia berkorban demi kemajuan pelayanan, atau justru menuntut penghargaan?
Saya percaya bahwa seorang yang “membangun” dalam pelayanan akan memiliki hati seperti Kristus: penuh kasih, rela berkorban, dan berorientasi pada kemuliaan Tuhan, bukan kepentingan pribadi.
2. Membangun Kerjaan Allah Dalam Keluarga.
Dalam Kejadian 2:24 dikatakan “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”
Keluarga adalah tempat utama kita membangun Kerajaan Allah. Sayangnya, banyak orang yang justru meruntuhkan keluarganya sendiri dengan sikap yang tidak dewasa. Memang benar bahwa kedewasaan sebenarnya tidak tergantung dengan usia melainkan penerimaan akan tanggungjawab. Coba kita introspeksi diri masing-masing dengan menjawab pertanyaan berikut ini :
– Sebagai suami atau istri, apakah kita membangun rumah tangga dengan komunikasi yang baik, saling menghormati, dan setia?
– Sebagai orang tua, apakah kita membimbing anak-anak dalam takut akan Tuhan atau justru menjadi batu sandungan bagi mereka?
– Sebagai anak, apakah kita menghormati dan menaati orang tua, atau justru menyakiti mereka dengan sikap kita?
Saudara, jika kita tidak membangun keluarga dengan benar, jangan heran jika keluarga kita menjadi hancur. Sebaliknya, keluarga yang dibangun di atas dasar Kristus akan menjadi berkat bagi banyak orang.
-3. Membangun Kerajaan Allah Di Dalam Diri Sendiri.
Dalam 1 Korintus 13:11, Rasul Paulus berkata, “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.”
Saudaraku, membangun diri sendiri berarti kita memperhatikan diri sendiri dalam beberapa aspek pertumbuhan :
– Dalam Pikiran: Apakah kita memenuhi pikiran kita dengan firman Tuhan, atau justru dengan hal-hal duniawi yang tidak membangun? (Filipi 4:8) Mari mengembangkan pikiran-pikiran positif dalam diri sendiri.
– Dalam Perkataan: Apakah perkataan kita membangun atau malah menjatuhkan orang lain? (Efesus 4:29). Perhatikan dalam kita berkata-kata, apakah ketika kita berbicara membuat orang bersemangat atau justru menjatuhkan?
– Dalam Perbuatan: Apakah hidup kita mencerminkan kasih dan kebenaran Kristus, atau justru masih dikuasai oleh dosa dan kedagingan? (Galatia 5:22-23). Ingat bahwa keteladanan dalam perbuatan lebih berbicara dari pada kata-kata blaka.
Intinya jika kita ingin membangun misi Kerajaan Allah, kita harus mulai dengan membangun diri sendiri—menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus.
Peringatan: Jangan Sampai Merjadi Peruntuh!
Saudara, coba renungkan sebentar sebelum saudar melanjutkan membaca renungan artikel ini. Bahwa sebenarnya mungkin tidak sadar, bahwa kita sedang menjadi peruntuh di komunitas kita berada hari ini. Mari kita introspeksi diri dalam 4 hal ini :
1. Masih hidup dalam kedagingan, egoisme, dan sikap kekanak-kanakan. 2. Mengkritik tanpa membangun, menyebarkan gosip, atau berkata-kata kasar.
3. Menunda-nunda pekerjaan Tuhan atau tidak peduli dengan panggilan-Nya.
4. Hidup dalam kompromi dengan dosa, yang akhirnya menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Saudaraku, lebih baik kita mengambil bagian tertentu, daripada jago kritik tanpa solusi. Jangan sampai kita berpikir sedang membangun, padahal sebenarnya kita sedang meruntuhkan! Tentu Tuhan tidak berkenan dengan cara-cara yang tidak dewasa ini.
Kesimpulan :
Saudara-saudari, membangun Kerajaan Allah bukan hanya tugas para pendeta atau pemimpin gereja, tetapi tugas kita semua—di pelayanan, di keluarga, dan dalam kehidupan pribadi.
Mari kita bertanya pada diri sendiri:
– Apakah saya seorang pembangun atau justru peruntuh?
– Apakah saya bertindak dengan kedewasaan dalam iman, pikiran, perkataan, dan perbuatan?
– Apakah saya menempatkan diri dengan benar dalam rencana Tuhan?
Hai saudara-saudariku di dalam Tuhan, Tuhan memanggil kita untuk menjadi pekerja yang sungguh-sungguh membangun, bukan yang meruntuhkan. Mari kita mulai dari hati yang benar, dengan pikiran yang selaras dengan firman Tuhan, dan dengan perbuatan yang membawa kemuliaan bagi-Nya. Amin!
Salam Kasih
Pdt. Yusak Wamin, S. Th










