Riau||ISBCenter.com – Cepu Emas ini merupakan salah satu dari sekian banyak koleksi unggulan Museum Daerah Sang Nila Utama Provinsi Riau yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman No 194, Tangkerang Tengah, Pekanbaru.

Cepu ini terbuat dari emas 18 karat dengan teknik pembuatan cetak tuang. Cepu ini merupakan hasil temuan dari penggalian arkeologi yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di kecamatan Sedinginan, Kabupaten Rokan Hilir. Cepu ini ditemukan pada tahun 1990 tatkala orang menggali pondasi masjid di daerah Sidinginan. Mangkok ini digunakan sebagai mangkok pengobatan
“Cepu ini ditemukan pada tahun 1990 tatkala orang menggali pondasi masjid di daerah Sidinginan. Menurut para ahli mangkok ini digunakan sebagai mangkok pengobatan,” Jelas Kepala UPT Museum Sang Nila Utama Dan Tama Budaya Tengku Leni Rahayu, S.Sos.
Lebih Lanjut dia menjelaskan bahwa Cepu Emas Ditemukan di Sedinginan tatkala ada penggalian
pondasi pembangunan masjid pada tahun 1990. Menurut saksi mata penggalian dan penemuan cepu tersebut (Prof. Suwardi dan Dra. Darliana), cepu emas itu ditemukan bersama dalam satu wadah guci dari gerabah yang berisi cepu, ikat pinggang emas sebanyak 2 buah, satu telah dilebur oleh penemunya dan sisanya diserahkan kepada Museum Sang Nila Utama melalui kepala museum Ali Amran Jas pada tahun 1992.
Menurut Drs. O.K Nizami Jamil, barang temuan itu diganti dengan uang sebesar duabelas juta rupiah. Diperkirakan masih banyak cepu yang sama, di daerah Candi Siarang-arang. Struktur baru ditemukan setelah penggalian sekitar 2,5 meter baru ditemukan struktur bata yang tidak beraturan dengan kuran bata lama. Kemungkinan ada hubungannya dengan Candi Sedingingan, Candi Sintung dan Candi Siarangarang.
Daerah Sidinginan merupakan suatu daerah yang diduga memiliki peninggalan sejarah yang besar. Hanya saja sampai saat ini sejarah Sedinginan belum dikaji secara mendalam. Cukup banyak peninggalan sejarah masa lampau di sekitar sedinginan, kecamatan Tanah Putih Kabupaten Rokan Hilir. Di antara yang paling kentara adalah pemakaman umum yang jarak antara satu lokasi dengan lokasi lainnya sangat dekat. Ditemukannya banyak benda ornamen pada masa lampau di Sedingingan menunjukkan Sedinginan sebagai kota tua bersejarah. Di antara makammakam tua, ada diantaranya yang dikeramatkan, etnik serta beberapa situs candi yang nyaris tidak dapat dipertahankan keberadaannya. Salah satu lokasi yang ada di Sedinginan adalah pemakaman orang Aceh. Menurut cerita rakyat yang disampaikan oleh Prof. Suwardi, di pemakaman tersebut menyimpan banyak perhiasan emas, yang tatkala hujan melongsorkan tanah pemakaman dan membuat perhiasan emas turut mengalir bersama longsoran lumpur. Sejarah Sedinginan telah dimuali pada abad ke-7 atau ke8 tatkala Kerajaan Sriwijaya masih eksis. Negeri negeri di sepanjang muara Sungai Rokan, Inderagiri, Kampar, Batanghari, dan Siak merupakan kawasan penting bagi perekonomian Kerajaan Sriwijaya. Komoditas perdangan penting seperti lada, kayu, cendara, gaharu dan emas bersumber dari daerah ini (Wolters, 1967). Namun tidak ada catatan sejarah yang mengabadikan apakah nama negeri-negeri yang berada disepanjang Sungai Rokan itu. Namun dari laporan I-Tsing, diperkirakan wilayah Rokan masuk daerah Melayu.
Daerah Rokan Hilir kemungkinan dikuasai oleh Kerajaan Rokan Hilir. Dari hasil eskavasi tahun 1992, Candi Sintong diperkirakan dibangun pada abad ke-12 atau 13 M. Periode ini merupakan masa kemunculan Kerajaan Rokan, Gasib dan Kandis seiring denan mundurnya kekuasaan Suwarnabhumi akibat berperang dengan Singosari. Samudera Pasai berperan dalam pengislaman di Rokan Hilir. Kehadiran Portugis di Samudera telah menyebakan banyak ulama atau keluarga kerajaan hijrah meninggalkan Pasai menuju Rokan. Pada masa inilah kemungkinan negeri-negeri di Rokan Hilir atau Riau pada umumnya menganut agama Islam. Tidak mengherankan apabila sejak abad ke-15 kerajaan Rokan sudah diperintah oleh seorang raja yang berasal dari keturunan Sultan Sidi saudara Sultan Sujak, demikian kata Sejarah Melayu. Rokan kemudian menjadi negeri bawahan Melaka yang mulai naik daun sejak Majapahit runtuh pada akhir abad ke-15, Sultan Muhammad Syah Raja Melaka (1425-1455) mengawini puteri Raja Rokan yang dijadikan Raja Perempuan atau Permaisuri Melaka. Jadi, setelah dominasi Majapahit pudar di Sumatera, maka kerajaan di Sumatera seperti Aru, Pasai Siak, Rokan, Kampar, Inderagiri, Jambi dan lain-lain menjadi kerajaan bawahan Melaka. Sultan Muhammad Syah Raja Melaka (1425-1455) mengawini puteri Raja Rokan yang dijadikan raja perempuan atau permaisuri Melaka.
Peninggalan-peninggalan sejarah berbentuk makam-makam kuno di Rokan Hilir, yang berdekatan dengan reruntuhan candi, hanya dapat dipastikan merupakan peninggalan atau makam para bangsawan atau ulama dari beberapa kerajaan Islam seperti Kerajaan Rokan (di Kota Lama maupun di Pekatan); kerajaan Banglo, Kerajaan Tanah Putih dan Kerajaan Kubu, makam degan betu nisan seperti memang hanya dipergunakan oleh golongan elite masa itu, seperti golongan ulama dan kerabat istana. Islamisasi melalui golongan beraramawi atau atap. Cepu ini merupakan salah satu koleksi unggulan Museum Sang Nila Utama.
“Begitulah sejarah yang kami dapat dari beberapa sumber mengenai koleksi Cepu Emas yang ada dimuseum Sang Nila Utama” tutup Kepala Upt..(*Adv/Ind)










