Nujuhlikur Tradisi Bulan Ramadan Suku Serawai

Nujuhlikur adat tradisonal di bulan Ramadan masyarakat Suku Serawai di Provinsi Bengkulu

Bengkulu||ISBCenter.com-Nujuh likur memiliki arti dua puluh tujuh. Tempurung kelapa yang dijadikan lujuk memiliki makna yang melambangkan buah penuh manfaat yaitu kelapa. Buah tersebut melambangkan rasa syukur masyarakat, semakin tinggi lujuk dilambangkan sebagai tingginya rasa syukur maka akan semakin cepat pula harapan dan keinginannya untuk dikabulkan tuhan

Setiap memasuki bulan ramadhan, banyak tradisi yang dilakukan masyarakat Serawai di Provinsi Bengkulu.

Bacaan Lainnya

Tradisi nujuh likur merupakan kegiatan yang dilaksanakan dengan tujuan perpisahan bulan Ramadhan dan menyambut datangnya idul fitri. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada malam ke 27 di bulan Ramadhan.

Tradisi nujuh likur dilakukan dengan membakar Lujuk yaitu tempurung kelapa yang disusun secara vertikal tinggi keatas setinggi 12 meter. Setiap rumah wajib memiliki lujuk mereka sendiri. Menurut kepercayaan masyarakat, konon semakin tinggi lujuk yang dibuat maka semakin cepat pula harapan selama bulan Ramadhan terkabulkan.

Anak-anak disuku serawai akan mengumpulkan tempurung kelapa yang akan dijadikan lujuk dari siang hari, kemudian mereka susun diperkarangan rumah. Setelah berbuka puasa seluruh keluarga akan berkumpul diperkarangan rumah dan membakar lujuk yang telah dibuat. Mereka berdoa bersama, berkumpul, bersenda gurau, makan bersama sembari menunggu lujuk tersebut habis terbakar.

Setiap malam ke 27 Ramadhan maka akan terlihat banyaknya api yang menyala dari setiap lujuk yang berasal dari rumah warga suku serawai. Hal ini memeriahkan malam nujuh likur..(*Redaksi)

 

Pos terkait