Bengkulu Selatan||ISBCenter.com – Minggu pagi, 28 Juni 2026, menjadi hari bersejarah bagi Jemaat GEKARI Sukanegeri, Air Nipis. Untuk pertama kalinya, Pdt. Yusak naik mimbar di desa tempat kakeknya dulu merintis pemberitaan Injil. Suasana ibadah berlangsung khidmat sekaligus penuh haru.

Dalam khotbah bertema “Iman yang Teguh: Menghidupi Warisan, Bukan Sekadar Mengenang”, Pdt. Yusak mengajak jemaat melihat iman bukan sebagai monumen masa lalu, tapi tanggung jawab masa kini
“Kalau kita hari ini bisa beribadah dengan bebas, itu karena ada yang dulu berani menanam benih di tanah yang keras,” ujar Pdt. Yusak. Ia
mengibaratkan iman jemaat Sukanegeri seperti pohon raksasa: badai boleh datang, tapi selama akarnya menghujam dalam, ia tetap berdiri.
Ayat 1 Petrus 2:9 dan Efesus 4:14 jadi pijakan. Menurutnya, umat yang berakar kuat tidak akan “terombang-ambing oleh setiap tiup ajaran”. Ia juga mengutip 2 Timotius 1:5, mencontohkan iman Timotius yang bertumbuh dari Lois dan Eunike sebagai gambaran estafet iman antargenerasi.
Pdt. Yusak menjabarkan ciri iman yang teguh di tengah zaman yang berubah cepat:
- Berpegang pada Firman, bukan tren – Ukur setiap ajaran dengan Alkitab.
Setia saat diuji – Tetap jujur meski ada godaan kompromi. - Jaga warisan seperti harta – Iman bukan untuk disimpan, tapi dipelihara dan ditumbuhkan.
- Bangun relasi pribadi dengan Tuhan – Tidak sekadar ikut-ikutan iman orang tua.
- Yakin pada sumber keselamatan – Hanya di dalam Yesus Kristus, bukan amal atau status.
“Kalau kita pikir jadi orang baik saja sudah cukup, kita masih rapuh,” tegasnya.
Pertanyaannya: sudahkah kita benar-benar bersandar penuh pada Yesus?”
Sebelum menutup ibadah dengan doa syafaat, Pdt. Yusak mengajak seluruh jemaat membuat komitmen bersama:
Menjaga kemurnian ajaran Kitab Suci untuk anak cucu Menjadi teladan di keluarga, tetangga, dan masyarakat Serawai.
Mengutamakan kasih Kristus di atas perbedaan. Menghidupi iman lewat perbuatan: setia beribadah, hidup jujur, berani bersaksi
“Badai pasti datang. Tapi kalau kita dibangun di atas Batu Karang, Tuhan Yesus, kita tidak akan roboh. Sekarang giliran kita menumbuhkan akar ini lebih dalam,” pungkasnya.
Ibadah ditutup dengan pujian dan doa berkat. Bagi jemaat Sukanegeri, Minggu itu bukan sekadar kebaktian rutin. Itu momen saat sejarah, keluarga, dan iman bertemu di satu mimbar..(*1dn)










