Pentingnya Pemahaman 5W+1H Seorang Jurnalis Dalam Penulisan Berita

Bengkulu||ISBCenter.com – MZK Institute yang satu satunya sekolah wartawan di Indonesia menggelar Kelas Materi UKW dalam rangka menuju ujian kompetensi UKW yang akan dilakukan nantinya. Kelas Materi rencananya akan dilakukan selama 3 hari ke depan. Dalam kelas materi ini dilakukan dengan cara zoom meeting yang dipandu oleh host martha dan pemateri adalah Drs. Agung Santoso Inisiator UKW Mandiri Indonesia.

Pada hari pertama ini di gelar materi sebanyak 4 materi :

Bacaan Lainnya
  1. Pengetahuan Umum Jurnalistik
  2. Prinsip Jurnalistik
  3. Unsur Nilai dan Jenis Berita
  4. Bahasa Jurnalistik.

Dalam penyampaian materi pertama, dipaparkan bagaimana seorang jurnalis harus mengetahui sejarah dalam dunia jurnalistik, bagaimana kita menguasai situasi dan keadaan, apalagi di zaman covid 19 ini, semua menjadi tak terkendali baik dibidang ekonomi dan kebutuhan masyarakat. mampukah seorang jurnalis memegang teguh prinsip prinsip dan kode etik jurnalis.

Seorang jurnalis harus faham undang-undang pers dan harus mengerti kode etik jurnalis, karena seorang jurnalis dilindungi dengan undang-undang, kata Agung Santoso

Dilanjutkan pada materi kedua tentang prinsip Jurnalistik, Prinsip jurnalis itu harus akurat, obyektif, seimbang dan independent. akurat dalam artian harus terjun langsung ke lapangan atau ke sumbernya, obyektif artinya tidak ada kepentingan apapun dalam penulisan berita semata-mata untuk karya jurnalis dan kepentingan orang banyak, seimbang artinya berita yang didapatkan harus sesuai dengan dilapangan baik kejadian dan sumbernya, sedangkan independent artinya tidak berpihak kepada siapapun juga dalam penulisan berita, ujar Agung Santoso

Di materi ke tiga tentang unsur dan nilai dan jenis berita, dijelaskan bahwa berita itu harus memiliki unsur 5 W +1 H, yaitu :

  1. What : Apa yang terjadi?
  2. Who : Siapa yang terlibat dalam peristiwa itu?
  3. Why : Mengapa hal itu bisa terjadi?
  4. When : Kapan peristiwa itu terjadi?
  5. Where : Di mana peristiwa itu terjadi?
  6. How : Bagaimana peristiwa itu terjadi?

Sebuah berita harus berawal dengan apa yang terjadi dalam suatu objek berita, siapa yang terlibat dalam obyek berita, mengapa hal itu terjadi, kapan objek berita terjadi, dimana objek berita terjadi, dan bagaiman itu terjadi, ini semua harus dilakukan dan diinvestigasi dilapangan, tidak bisa sebuah berita dibuat dengan duduk dikantor tanpa kita melihat langsung objek kejadian di lapangan. sebuah karya jurnalistik itu harus nyata dan harus memberikan pemahaman kepada pembacanya, lanjut Agung Santoso.

Untuk materi terakhir Agung Santoso selaku pembawa materi, menjelaskan tentang bahasa jurnalistik. zaman sekarang banyak sekali kita temui bahasa-bahasa yang susah difahami dengan para pembaca, dan bahkan banyak bahasa yang mubazir dilakukan dalam penulisan berita.

“Bahasa dalam jurnalistik harusnya tidak menggunakan bahasa ilmiah dan tidak menggunakan bahas testur atau percakapan yang mementingkan lawan bicara faham, artinya kita memaksakan bahwa pembaca paham dengan tulisan kita,” ujar Agung

Seperti dalam tulisan kata kata “Bapak/ibu” sebelum nama atau semua gelar dimasukan, seharusnya itu tidak perlu dilakukan dalam penulisan berita, dan sebaiknya itu dihilangkan karena kata-kata tersebut seakan-akan kita mendewakan atau mengagungkan sumber berita.

Diakhir pertemuan kali ini Agung Santoso, membuat sebuah ilustrasi dalam penulisan berita dengan kalimat sebagai berikut,

“Kita punya sepeda motor dan kita berjalan malam, motor dalam kondisi baik begitu juga yang membawanya, tapi kalau lampunya buram atau mati bisa jadi kita bisa nabrak atau di tabrak”, ungkap Agung.

Dalam artian dalam membuat karya jurnalis atau berita kita harus selalu berpedoman pada 5 W + 1 H, dan undang undang Pers serta kode etik jurnalis, pengalaman dilapangan sangat menentukan untuk sebuah karya jurnalis, tutup Agung Santoso..(**Idn)

Pos terkait