Bengkulul||ISBCenter.com – Dalam ibadah raya yang digelar di GKKD BOM Bengkulu, Minggu (31/5/2026), Pdt. Yusak, S.Th menyampaikan pesan rohani yang mendalam dengan judul “Rahasia Kekuatan Rohani”. Mengambil landasan Firman Tuhan dari Filipi 4:13 — “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”, pengkhotbah menegaskan bahwa kekuatan sejati seorang percaya tidak terletak pada kemampuan, jabatan, atau kekuatan fisik, melainkan pada kualitas hubungan hidup dengan Sang Sumber Segala Kuasa, yaitu Allah.
Secara teologis, dijelaskan bahwa kekuatan rohani adalah pancaran kuasa Allah yang tinggal di dalam diri orang percaya. Ada empat prinsip dasar yang menjadi landasan, yaitu: Pertama, Allah adalah satu-satunya sumber kekuatan (Mazmur 18:3; Mazmur 62:12); Kedua, kekuatan itu bergantung pada kekudusan, ketaatan, dan iman kita — jika hubungan terputus karena dosa, aliran kuasa pun berhenti; Ketiga, ukuran kekuatan bukanlah penampilan di hadapan manusia, melainkan kesetiaan hati di hadapan Tuhan; dan Keempat, kuasa Allah justru dinyatakan sempurna ketika kita sadar akan kelemahan diri dan bersandar penuh kepada-Nya (2 Korintus 12:9).
“Intinya sangat sederhana: kekuatan rohani ada, berlanjut, dan bertumbuh hanya selama kita tetap terhubung dengan Yesus Kristus,” tegas Pdt. Yusak.
Dalam khotbahnya, pendeta Yusak meninjau kembali sejarah iman di Alkitab, khususnya kisah Simson dan Raja Saul — dua tokoh besar yang pernah berkuasa, namun perlahan kehilangan kekuatan rohani mereka bukan karena Tuhan mencabutnya, tetapi karena manusia yang memutus aksesnya kepada Tuhan.
1. Simson: Kekuatan Bukan Sekadar di Rambut
Banyak orang beranggapan kekuatan Simson hanya ada pada rambutnya. Namun, berdasarkan Hakim-hakim 16:17 dan 20, Pdt. Yusak mengingatkan bahwa sebelum rambutnya dipotong, kekuatan rohani Simson sudah hilang jauh sebelumnya. Rambut hanyalah tanda lahiriah perjanjian, namun hatinya sudah rusak.
Ada empat penyebab utama hilangnya kekuatan Simson:
– Tidak menjaga hati dan mata: Ia membiarkan dosa kecil tumbuh besar karena gemar mendekati hal yang bertentangan dengan hati Tuhan.
– Menganggap kekuatan milik pribadi: Ia merasa kuat karena dirinya sendiri, bukan karena Tuhan, sehingga bermain-main dengan dosa seolah kuasa Allah tak akan pernah pergi.
– Tidak peka hadirat Tuhan: Bahaya terbesar adalah ketika ia bangun tidur dan berpikir masih bisa berjuang seperti biasa, padahal ayat Alkitab menegaskan: “ia tidak tahu, bahwa TUHAN telah meninggalkannya.” Ia hidup dalam ilusi rohani.
– Menyimpangkan panggilan: Dipanggil membebaskan Israel, namun ia lebih sibuk memenuhi keinginan daging.“Pelajarannya jelas: Kekuatan rohani hilang bukan saat kita jatuh terpuruk, tapi saat kita mulai mengizinkan dosa tinggal diam di hati dan tidak lagi peduli akan kekudusan,” ujarnya.
2. Raja Saul: Ketika Hadirat Tuhan Mundur
Demikian juga dengan Raja Saul. Awalnya ia dipilih Tuhan, penuh Roh Kudus, dan berkuasa. Namun 1 Samuel 16:14 mencatat perubahan tragis: “Tetapi Roh TUHAN telah menjauh dari pada Saul, dan roh jahat yang dikirimkan TUHAN menggoncangkan dia.” Saul menjadi lemah, takut, cemburu, dan mudah dikendalikan.
Mengapa kekuatan itu hilang? Pdt. Yusak menjabarkan faktor penyebabnya:
– Mendahului Tuhan: Di Gilgal, ia tidak sabar menunggu waktu Tuhan dan bertindak atas akal sendiri, melanggar ketaatan.
– Mementingkan manusia daripada Tuhan: Saat perang melawan Amalek, ia menyelamatkan apa yang harus dimusnahkan hanya demi dipuji rakyat. Ketaatannya separuh hati.
– Hati keras dan tidak mau bertobat: Saat ditegur, ia selalu mencari alasan dan menyalahkan orang lain. Hati keras adalah tembok penghalang kuasa Allah.
– Cemburu dan benci kebenaran: Ketika melihat Daud diberkati, ia berusaha melenyapkan kebenaran. Di mana ada iri hati, di situ Roh Kudus tidak bisa tinggal.“Kekuatan rohani lenyap ketika kita lebih mencintai pendapat manusia, jabatan, atau keinginan diri sendiri daripada kehendak dan kemuliaan Tuhan semata,” tambahnya.
Sebaliknya, jemaat diajak meneladani tokoh-tokoh yang kekuatan rohaninya justru makin bertumbuh di tengah tekanan, ujian, dan penderitaan.
Daud, sang pemimpin yang menulis Mazmur 84:8 — “Mereka berjalan dari pada kekuatan kepada kekuatan”, menumbuhkan kekuatannya dengan cara: menjadikan Tuhan tempat perlindungan, senantiasa berada dalam hadirat Tuhan melalui penyembahan, serta memelihara hati yang rendah hati dan patah hati di hadapan Allah.
Rasul Paulus, yang menyadari dirinya hanyalah “bejana tanah liat” agar kekuatan yang melimpah berasal dari Allah (2 Korintus 4:7), memelihara kekuatan dengan selalu bersandar pada kasih karunia, disiplin rohani yang kuat, dan menerima segala ujian sebagai sarana pemurnian diri.
Dan teladan paling sempurna adalah Yesus Kristus. Meskipun Dia Allah yang menjadi manusia, Yesus sering menyendiri, berdoa semalam-malaman, dan berkomuni dengan Bapa (Lukas 6:12). Dari hubungan itulah Ia mendapat kekuatan menghadapi pencobaan dan salib.
“Tidak ada kekuatan rohani tanpa doa dan Firman Tuhan,” tegas Pdt. Yusak mengingatkan.
Di bagian akhir khotbah, disampaikan peringatan keras yang tertulis dalam Wahyu 3:15-16 mengenai bahaya terbesar kekuatan rohani, bukanlah dosa besar yang mencolok, melainkan ketidakpedulian dan kedinginan rohani.
Tuhan berfirman: “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak juga panas… Tetapi karena engkau suam-suam kuku… Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.”
Orang yang suam-suam kuku adalah mereka yang masih datang ke gereja namun hatinya jauh, berdoa hanya rutinitas, hidupnya tidak bertumbuh, dan merasa makmur rohani padahal miskin serta telanjang. Keadaan ini berbahaya karena kekuatan rohani menguap pelan-pelan tanpa disadari, persis seperti Simson yang tidak tahu Tuhan sudah pergi.
Sebagai gambaran yang mudah dimengerti, Pdt. Yusak menggunakan analogi aliran listrik. Kekuatan rohani ibarat listrik dari pembangkit (Tuhan) ke rumah kita.
– Saat hidup kudus dan taat, kabel terhubung baik, terang benderang.
– Saat ada dosa, kabel digerogoti tikus, aliran terhenti tapi kita pikir masih menyala (seperti Simson).
– Saat kita menolak aturan Tuhan, kita sendiri yang memutus kabelnya (seperti Saul).
– Saat suam-suam kuku, kabel berkarat dan koneksi kendor, lampu redup dan lama-lama mati total.
Intinya: Dosa, ketidaktaatan, dan ketidakpedulian adalah karat yang memutus aliran kekuatan Allah.
Menutup khotbahnya, Pdt. Yusak merangkum pesan utama dalam empat poin penting:
1. Rahasia kekuatan bukan pada kemampuan diri, tapi pada kualitas hubungan dengan Tuhan.
2. Kekuatan bisa hilang jika membiarkan dosa, kepura-puraan, dan ketidaktaatan berakar.
3. Kekuatan bertumbuh jika menjaga hati, rajin berdoa, hidup dalam Firman, dan rendah hati.
4. Jangan hidup suam-suam kuku. Tuhan menginginkan kita hidup berapi-api dalam kekudusan.
Sebagai penegasan terakhir, Pdt. Yusak menyampaikan pernyataan kuncinya:
“Kekuatan kita hanya kita dapatkan dari hubungan personal kita dengan Tuhan. Kekuatan bisa hilang, bisa bertumbuh. Tergantung sikap kita dengan Tuhan.” tutupnya..(*2b)










