Bengkulu||ISBCenter.com – Kegiatan Persekutuan Doa Retret Merah Putih Aparatur Pegawai Negeri Sipil (ASN) Kristiani Pemerintah Provinsi Bengkulu untuk bulan ketiga tahun 2026 telah dilaksanakan dengan khidmat dan penuh makna pada hari Rabu, 13 Mei 2026. Kegiatan ini berlangsung di Aula BAPELKES Provinsi Bengkulu dan dihadiri oleh sekitar 60 orang peserta yang terdiri dari pegawai negeri sipil dan jajaran pengurus serta anggota organisasi, Rabu (13)5/2026).

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat iman, mempererat persaudaraan sesama abdi negara, serta merenungkan nilai-nilai kekristenan yang harus diterapkan dalam pelayanan dan tugas sehari-hari sebagai pegawai negeri. Acara berjalan dengan tertib dan diselenggarakan dengan suasana yang khidmat, dimulai dengan doa pembukaan yang dipimpin oleh Pdt. Yusak, S. Th. Selanjutnya, jalannya ibadah dipimpin oleh Liturgos Ibu Rida Edriani, S. Th, didampingi oleh pemusik Pantas Sitanggang, serta pelaksana pengumuman dan tata tertib oleh Wasinton Silalahi. Doa syafaat dan doa penutup dipimpin oleh St. Arifin Sitohang.

Inti dari kegiatan ini terfokus pada khotbah yang disampaikan oleh Pdt. Raswan, S. Th dengan tema: “INTEGRITAS MENJADI ASN YANG JUJUR DAN DIPERCAYA”, yang diambil dari landasan teologis Alkitab dalam kitab Lukas 16:10.
ISI KHOTBAH DAN RENUNGAN
Dalam penyampaiannya, Pdt. Raswan, S. Th menekankan bahwa integritas dan kesetiaan adalah prinsip dasar yang harus dipegang teguh oleh setiap orang percaya, terutama bagi mereka yang melayani sebagai Aparatur Sipil Negara. Beliau mengajarkan bahwa:
PENDAHULUAN: SETIA DAN BENAR DALAM PERKARA KECIL
Kitab Lukas 16:10 mengajarkan bahwa:
“Barangsiapa setia dalam perkara yang kecil, ia juga setia dalam perkara yang besar; dan barangsiapa tidak adil dalam perkara yang kecil, ia juga tidak adil dalam perkara yang besar.”
Prinsip ini menjadi landasan hidup kita sebagai orang percaya dan abdi negara. Kejujuran dan kesetiaan tidak hanya dilihat dari hal-hal yang besar dan terlihat, tetapi mulai dari hal-hal sederhana yang terjadi setiap hari.
KEJUJURAN DALAM WAKTU DAN KEWAJIBAN
Sebagai ASN, kejujuran dimulai dari hal yang paling mendasar: ketepatan waktu. Datang tepat waktu adalah bukti tanggung jawab dan penghargaan terhadap tugas serta orang lain. Sebaliknya, kebiasaan datang terlambat, pulang lebih cepat dari jadwal, atau bahkan berharap gaji dan tunjangan naik tanpa didukung kerja keras dan prestasi adalah sikap yang tidak benar dan tidak sesuai dengan nilai kehidupan orang percaya. Hal ini menunjukkan kurangnya rasa tanggung jawab dan penghargaan terhadap amanah yang diterima.
PELAPORAN DAN PENGELOLAAN KEUANGAN YANG AKURAT
Dalam setiap kegiatan dan pelaksanaan tugas, pelaporan serta pengelolaan keuangan harus dilakukan dengan penuh ketelitian, kejujuran dan sesuai dengan aturan yang berlaku. Sayangnya, masih banyak orang yang bertindak tidak jujur demi kepentingan pribadi, termasuk melakukan penyimpangan dalam pengelolaan anggaran, pengambilan keuntungan yang tidak sah, serta penerimaan gratifikasi yang bertentangan dengan aturan dan hati nurani. Perbuatan ini adalah bentuk kecurangan yang sama sekali tidak dibenarkan, karena dosa tidak mengenal ukuran besar atau kecil, semuanya sama-sama menyakiti hati Tuhan dan merusak kepercayaan publik.
MENOLAK KOMPROMI DAN JALAN KEBENARAN
Dalam dunia kerja dan pelayanan, tidak jarang kita dihadapkan pada praktik perniagaan atau urusan yang membutuhkan jalan pintas, termasuk pemberian suap atau hadiah sebagai pelicin urusan. Meskipun hal ini sering dianggap biasa atau cara berbisnis, namun hal tersebut tidak dapat diterima dan bertentangan dengan ajaran Alkitab serta kode etik kepegawaian. Kita telah mengucapkan sumpah atau janji setia saat diangkat menjadi ASN, dan kita harus selalu mengingat janji tersebut seumur hidup.
Menolak praktik yang salah dan tidak jujur bukan berarti kita merugikan diri sendiri, melainkan justru kita sedang menjaga dan mewariskan nilai-nilai kebenaran yang jauh lebih besar, serta menjaga kehormatan profesi dan institusi tempat kita melayani.
BEKERJA UNTUK TUHAN, BUKAN HANYA UNTUK MANUSIA
Pdt. Raswan juga menekankan bahwa setiap jabatan dan tugas yang diemban adalah bentuk amanah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita bekerja bukan hanya untuk menyenangkan atasan manusia atau demi gaji dan posisi semata, tetapi kita bekerja karena cinta dan ketaatan kepada Tuhan. Hal ini sesuai dengan ajaran dalam Kolose 3:23 yang menyatakan:
“Segala apa yang kamu kerjakan, kerjakanlah dengan sepenuh hati, seolah-olah untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Ingatlah selalu bahwa mata Tuhan tidak pernah tertidur dan tidak pernah buta melihat segala perbuatan kita. Seringkali kita berpikir bahwa tidak ada yang melihat, atau hanya mengandalkan pengawasan alat teknologi, namun sesungguhnya pengawasan Tuhan hadir di mana-mana dan bahkan ada dalam hati sanubari kita sendiri yang selalu mengingatkan kita untuk tetap berjalan dalam kebenaran.
MENJADI TERANG DAN GARAM DI TENGAH SISTEM
Sebagai ASN yang beriman, kita dipanggil untuk menjadi terang dan garam di tengah dunia dan sistem pemerintahan ini. Seperti yang diajarkan Yesus dalam Matius 5:13-16, jika garam kehilangan rasa asinnya, maka ia tidak lagi berguna dan tidak berfungsi sesuai tujuannya.
Di tengah dinamika dan berbagai tantangan sistem pelayanan publik, kita harus tetap menjaga integritas diri. Meskipun ada berbagai macam cara atau aturan yang dibuat, namun prinsip kejujuran dan hati nurani kita harus tetap kokoh. Kejujuran dan integritas kita harus menjadi bukti nyata bagi orang lain bahwa ada nilai-nilai yang tidak boleh dikorbankan demi kepentingan sesaat.
LANGKAH NYATA YANG DAPAT KITA LAKUKAN
Untuk menjaga dan membangun integritas serta kejujuran, Pdt. Raswan mengajak seluruh hadirin untuk mengambil langkah nyata sebagai berikut:
1. Membuat komitmen pribadi untuk selalu hadir tepat waktu dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab sesuai aturan.
2. Menjaga ketelitian dan kebenaran dalam setiap pelaporan dan administrasi, tidak memutarbalikkan fakta atau data demi kepentingan pribadi atau kelompok.
3. Berani menolak dan tidak terlibat dalam praktik penyimpangan, suap, korupsi atau pelanggaran aturan, meskipun hal tersebut dianggap biasa atau mendatangkan keuntungan materi.
KESIMPULAN
Dalam kesimpulannya, khotbah ini mengingatkan kembali bahwa integritas dan kejujuran adalah nilai utama yang harus dipegang teguh oleh setiap ASN Kristiani. Prestasi kerja, jabatan, dan keberhasilan pelayanan tidak akan berarti apa-apa jika tidak didasari oleh hati yang jujur, setia, dan berani memihak pada kebenaran.
Kita dipanggil untuk menjadi pelayan yang setia, menjaga amanah, dan menjadi teladan yang baik di tengah masyarakat dan dunia kerja. Kejujuran dan integritas bukan hanya tuntutan aturan, melainkan panggilan iman untuk menghormati Tuhan dan menghargai kepercayaan yang diberikan kepada kita. Semoga setiap peserta dapat membawa pulang renungan ini dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi ASN yang tidak hanya cakap dalam tugas, tetapi juga berkarakter, jujur dan dapat dipercaya.
Kegiatan ditutup dengan rasa syukur dan doa bersama, serta harapan agar semangat persaudaraan dan nilai-nilai kebenaran ini tetap terjaga hingga ke jenjang pelayanan yang lebih tinggi..(*2b)










