Bengkulu||ISBCenter.com – Hari Kamis, 24 Agustus 2023, Tim ISBCenter.com mendapatkan kesempatan untuk berbincang lebih dekat dengan Bung Yusak, beliau adalah Ketua Forum Honorer yang di Provinsi Bengkulu sudah tidak asing lagi dengan sosok Bung Yusak ini, beliau dikenal gigih memperjuangkan nasib guru honorer sampai ke tingkat nasional bahkan sampai bertemu Presiden RI Joko Widodo beberapa waktu yang lalu.
Sosok Bung Yusak adalah Putra Serawai asli yaitu tepatnya dari Bengkulu Selatan, beliau saat ini berkiprah sebagai Guru Honorer yang mengajar di beberapa sekolah setingkat SMA di Provinsi Bengkulu, berikut petikan wawancara kami dengan Bung Yusak :
Anda dikenal sebagai ketua forum untuk perjuangan honoer di provinsi Bengkulu. Sudah sejauh mana perjuangan itu dilakukan?
Iya, pada tahun 2019 akhir, ada gerakan honorer seluruh Indonesia. Semua merasa jenuh dengan ketidakpastian soal status dan kesejahteraan. Termasuk di Bengkulu. Maka waktu itu, kita kumpul pertama kalinya di SMA Negeri 2 Kota Bengkulu. Dan kawan-kawan mendaulat saya sebagai ketua.
Kita mulai bergerak dan melakukan pertemuan secara nasional di Jakarta Januari 2020 dan dari Bengkulu ada 30 orang perwakilan. Yang tuntutannya secara nasional adalah angkat Honorer usia 35+ melalui Keppres dan beri gaji UMR bagi honorer yang belum di angkat.
Dan apa kendala yang dihadapi selama perjuangan ini?
Untuk kendala sebenarnya secara internal honorer (PTT dan GTT) tidak ada soal. Hanya pemerintah pusat dan daerahnya kami mlihat tidak begitu serius melihat penting tenaga kependidikan di Indonesia ini. Kalau penting, harusnya semua Guru (GTT) dan pegawai tata usaha(PTT) di berikan upah yang layak, agar maksimal dalam bekerja. Faktanya, honorer dituntut profesional dalam bekerja, tapi status dan kesejahteraan mereka diabaikan.
Dan apa kiat untuk bisa memimpin tenaga guru honorer bisa bersatu untuk perjuangan itu?
Tidak ada kiat khususnya, cuma kita ini (GTT dan PTT) merasa satu nasib. Jadi dari solidaritas itu, kita merasa satu dan saling mendukung semua pergerakan.
Selanjutnya apa yang akan dilakukan?
Posisi forum honorer masih terus bergerak, sampai semua honorer diangkat ASN. Ya karena itulah visinya. Kita terus lakukan komunikasi ndengan pihak-pihak terkait. Sebenarnya semua pihak terkait sudah kita sampaikan aspirasi. Hanya Presiden Joko Widodo saja yang belum bisa kita temui sampai hari ini. Surat audensi sudah puluhan kali kita kirim, namun belum ada tanggapan.
Apa yang Bung Yusak lihat persoalan honorer ini sebenarnya?
Menurut saya, Pemerintah pusat dengan daerah ini masih miss komunikasi. Atau kurang serius dalam melihat pentingnya pendidikan di Indonesia.
Contoh, Pusat bilang ada program pengangkatan satu juta guru. Tapi pemerintah daerah tidak membuka formasi di daerahnya. Alasan dana dan lain-lain. Padahal menurut mentri keuangan bahwa anggaran gaji PPPK itu murni dari APBN yang ditransfer ke kas atau DAU daerah. DAU khusus PPPK ini akan di kirim ke darah setelah ada realisasi pengangkatan PPPK. Itu bunyinya PMK 211 dan 212.
Harusnya daerah membuka seluas-luasnya formasi, sesuai dengan PMK itu. Cuman Pemda-pemda banyak beralasan APBD tidak cukuplah, atau DAU daerah belum bertambah. Sehingga persoalan honorer ini tidak selesai-selesai sampai saat ini. Makanya saya bilang, seakan pemerintah pusat dan daerah miss komunikasi.
Terkahir pesan dan pesan untuk anak-anak muda dan para tenaga honorer?
Pesan saya bagi anak-anak muda ke depan, jadilah enterpreneur, anak-anak muda yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Jangan terlalu berharap menjadi seorang tenaga pendidik, karena pemerintah Indonesia belum terlalu serius melihat pentingnya pendidikan. Kini sedang di terapkan kurikulum merdeka, sayangnya tenaga pendidikan belum merdeka. Dalam arti belum ada kepastian status apalagi kesejahteraannya.
Untuk Teman-teman yang terlanjur sebagai honorer, pastinya kita harap-harap cemas. Karena itu, sebagai honorer kita perlu mensiasiati kehidupan yang belum jelas ini. Ya, mungkin dengan membuka usaha sampingan..(*Iesbe)










