Artikel Rohani||ISBCenter.com – Ketika mendengar kata “pemberian terbaik”, pikiran kita langsung teringat pada nominal terbesar, barang termahal, atau jumlah yang paling banyak. Semakin besar, semakin baik. demikian?
Firman Tuhan hanyalah logika itu.
1. Memberikan Terbaik Bukan Tentang Jumlah, Tapi Hati
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” – Kolose 3:23
Tuhan tidak hanya melihat apa yang ada di tangan, tapi apa yang ada di hati.
Itulah yang terjadi pada janda miskin dalam Markus 12:43-44. Secara nominal, ia hanya memberi dua peser – jauh lebih kecil dari orang kaya. Namun Yesus berkata memberikannya lebih besar, karena Ia memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkahnya.
Yang kecil bisa menjadi besar, ketika diberikan dengan hati yang tulus. Yang besar bisa menjadi kecil, ketika diberikan tanpa kasih.
Seperti firman Tuhan: “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hati, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan.” – 2 Korintus 9:7
2. Semua yang Kita Miliki Berasal dari Tuhan
“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia.” – Roma 11:36
Kita memberi bukan untuk membeli berkat Tuhan. Kita memberi karena kita sudah terlebih dahulu menerima. Kita memberi karena bersyukur, karena mencintai, karena menyadari bahwa hidup kita adalah kepercayaan dari Tuhan.
3. Pemberian Terbaik Memiliki Banyak Wujud
Alkitab menunjukkan pemberian terbaik tidak selalu berupa uang:
Daud memberikan tanggung jawab terbaik. Saat menggembalakan domba, ia mempertaruhkan nyawa melawan singa dan beruang (1 Samuel 17:34-35). Integritas dalam pekerjaan adalah persembahan. Guru yang mengajar dengan sungguh-sungguh, pegawai yang jujur, orang tua yang bertanggung jawab – itu memberikan yang terbaik.
Janda miskin memberikan pengorbanan. Ia memberi dari kekurangannya.
Orang Samaria memberikan kasih sayang dalam tindakannya. Dalam Lukas 10:33-35, ia tidak hanya merasa kasihan, tapi berhenti, merawat luka, membawa ke penginapan, dan membayar biayanya. Terkadang orang tidak membutuhkan uang kita, mereka membutuhkan waktu, telinga, dan kehadiran kita.
Abraham memberikan waktu terbaik untuk Tuhan. Di setiap perjalanannya ia membangun mezbah (Kejadian 12:8). Di tengah kesibukannya hidup modern, apakah Tuhan masih punya waktu terbaik untuk kita, atau hanya sisa waktu?
Maria memberikan penyembahan. Dengan minyak narwastu yang mahal (Yohanes 12:3), ia menyembah bukan dengan kemegahan musik, tapi dengan hati. “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” – Yohanes 4:24
Kesimpulan: Hidup Itu Sendiri Adalah Persembahan
Pola pikir kita perlu diubah:
Dari “pemberian terbaik adalah yang paling banyak” menjadi “pemberian terbaik adalah yang diberikan dengan hati terbaik.”
Dari “Saya tidak punya banyak untuk diberi” menjadi “berikan apa yang Tuhan percayakan dengan tulus.”
Roma 12:1 berkata: Persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah.
Jangan hanya memberi dari dompet, berilah dari hidup.
Berkat memang menjanjikan bagi yang murah hati (Amsal 11:25), tapi kita tidak memberi karena Tuhan tolong pada kita. Kita memberi karena Allah lebih dulu memberi yang terbaik: Yesus Kristus (Yohanes 3:16). Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima (Kisah 20:35).
Komitmen Hari Ini:
Mari jangan hanya memberikan apa yang tersisa. Berikan yang terbaik.
Berikan hati yang terbaik, waktu terbaik, tenaga dan kemampuan terbaik. Bekerja dengan tanggung jawab terbaik, melayani dengan ketulusan terbaik, mencintai dengan kasih terbaik, dan beribadah dengan segenap hidup.
Pertanyaannya bukan lagi, “Seberapa banyak yang sudah saya berikan?”
Tetapi, “Apakah yang saya tampilkan sudah menjadi yang terbaik di hadapan Tuhan?”.
Renungan GKKD-BOM Bengkulu – 6 September 2026 | hal. Yusak, S.Th










