Di Tengah Ketimpangan Idul Adha, Haedar Nashir: Korban Sesungguhnya Bukan Hanya Hewan Kurban

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr KH Haedar Nashir, MSi. Doc. PPMuh

Jakarta||ISBCenter.com – Refleksi Idul Adha 1447 H yang disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menjadi tamparan tajam bagi kondisi sosial bangsa saat ini. Ia menyoroti jurang ketimpangan yang kian melebar antara rakyat kecil yang berjuang bertahan hidup dengan segelintir elite yang terus menumpuk kekayaan.

Menurut Haedar, praktik korupsi kini nyaris membudaya, sementara konflik sosial dibiarkan berlarut. Mental “aji mumpung” pun tumbuh subur di berbagai lapisan kekuasaan. Akibatnya, kelompok yang kuat semakin makmur, sedangkan yang lemah kian tersingkir dari akses keadilan dan kesejahteraan.

Bacaan Lainnya

Dalam pernyataannya, Haedar menegaskan bahwa persoalan bangsa ini tidak hanya berpangkal pada sistem yang rapuh. “Akar dari semua kekacauan ini bukan sekadar sistem yang rusak, tetapi hati yang kehilangan ketakwaan,” ujarnya. Ia menilai, ketika manusia lebih patuh pada nafsu dan kerakusan ketimbang nilai kemanusiaan, maka keadilan akan berhenti pada tataran jargon.

Haedar mengingatkan bahwa makna Idul Adha jauh melampaui seremoni penyembelihan hewan kurban. Momentum ini, kata dia, seharusnya menjadi saat untuk memutus rantai keserakahan, egoisme, dan kerakusan yang selama ini menggerogoti sendi kehidupan berbangsa.

“Idul Adha seharusnya bukan sekadar ritual menyembelih hewan kurban atau ajang pencitraan tahunan. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk ‘menyembelih’ keserakahan, egoisme, dan kerakusan yang selama ini menghancurkan sendi kehidupan bangsa,” tegas Haedar Nashir.

Ia juga mengingatkan bahaya jika manusia hanya mengejar hasrat tanpa memikirkan dampaknya. “Jangan sampai manusia hanya mengabdi pada hasrat ketamakan tanpa peduli dampaknya bagi kehidupan orang lain dan lingkungan,” tambah Haedar.

Refleksi ini disampaikan Haedar sebagai pengingat bahwa spirit pengorbanan dalam Idul Adha harus diterjemahkan menjadi keberpihakan nyata pada keadilan sosial, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama. Tanpa itu, pertanyaan “siapa yang sebenarnya dikorbankan?” akan terus relevan di tengah ketimpangan yang ada..(*1dn)

Pos terkait