Riau||ISBCenter.com – Nilai impor Provinsi Riau mengalami lonjakan drastis sepanjang Januari hingga Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Riau mencatat total impor menembus US$1,63 miliar, atau melonjak 140,76 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi, menyebut lonjakan tersebut dipicu oleh masuknya barang modal bernilai fantastis berupa kapal terbang dan komponennya yang mayoritas didatangkan dari Prancis.
“Impor Riau selama Januari hingga Mei 2026 mencapai US$1,63 miliar atau naik 140,76 persen. Peningkatan terbesar berasal dari barang modal, khususnya kelompok kapal terbang dan bagiannya, sehingga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap total impor,” kata Asep Riyadi, Rabu (15/7/2026).
Menurut BPS, nilai impor barang modal sendiri tercatat sebesar US$862,97 juta atau meroket 2.011,25 persen dibanding tahun lalu. Dengan capaian itu, barang modal kini menjadi kontributor terbesar impor Riau dengan porsi 53,01 persen. Sementara bahan baku/penolong menyumbang US$761,97 juta atau 46,81 persen, dan barang konsumsi hanya 0,18 persen.
Dari kelompok komoditas, kapal terbang dan bagiannya menjadi penyumbang utama dengan nilai US$780,83 juta atau setara 50,12 persen dari total impor nonmigas. Nilainya bahkan melonjak 54.918,49 persen dibandingkan Januari-Mei 2025.
Komoditas lain yang juga mengalami kenaikan antara lain pupuk sebesar US$159,39 juta atau naik 18,31 persen, kayu dan barang dari kayu US$139,38 juta naik 75,82 persen, mesin-mesin dan pesawat mekanik naik 19,75 persen menjadi US$74,97 juta, serta bahan kimia organik naik 35,56 persen menjadi US$63,49 juta.
Di sisi lain, hanya satu komoditas utama yang tercatat mengalami kontraksi, yakni bahan bubur kayu atau pulp yang turun 27,95 persen menjadi US$57,29 juta.
“Sebagian besar kelompok barang utama mengalami peningkatan. Hanya impor bahan bubur kayu atau pulp yang masih mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu,” ujar Asep.
Dari sisi negara asal, Prancis mendominasi pasokan impor nonmigas Riau dengan nilai mencapai US$781,91 juta atau berkontribusi 50,19 persen. Nilai impor dari Prancis ini melonjak 36.518,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Setelah Prancis, ada Tiongkok dengan nilai US$170,99 juta atau 10,98 persen, dan Vietnam sebesar US$102,94 juta atau 6,61 persen.
“Dominasi Prancis tahun ini berkaitan dengan masuknya barang modal bernilai besar, terutama kelompok kapal terbang dan bagiannya. Hal itu membuat struktur impor Riau berubah cukup signifikan dibandingkan tahun lalu,” jelas Asep.
Jika dilihat dari kawasan, Uni Eropa menjadi pemasok terbesar dengan nilai US$839,84 juta atau menguasai 53,91 persen total impor nonmigas Riau, disusul ASEAN sebesar US$257,59 juta atau 16,53 persen.
Secara bulanan, impor Riau pada Mei 2026 tercatat US$550,41 juta atau naik 298,69 persen dibanding Mei 2025. Kenaikan bulanan ini didorong impor nonmigas yang mencapai US$544,32 juta atau naik 344,50 persen, sementara impor migas justru turun 60,95 persen menjadi US$6,09 juta.
Asep menilai, tingginya impor barang modal menjadi sinyal positif adanya aktivitas investasi di Riau, bukan sekadar lonjakan konsumsi.
“Lonjakan impor barang modal pada umumnya menunjukkan adanya aktivitas investasi atau pengembangan kapasitas produksi. Karena itu, angka impor yang meningkat tidak selalu mencerminkan kenaikan konsumsi, tetapi juga dapat menjadi indikasi adanya investasi baru,” pungkasnya..(*ay)










