Bengkulu||ISBCenter.com – Kepergian Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu menandai berpulangnya salah satu figur penting dalam sejarah militer dan pertahanan Indonesia modern. Perjalanan hidupnya menjadi cerminan keteguhan seorang prajurit yang tumbuh di tengah tantangan, sekaligus konsistensi sikap terhadap profesionalisme TNI.
Ryamizard lahir dari keluarga tentara. Ayahnya, Brigjen Musannif Ryacudu, “pernah tersingkir dari lingkungan militer akibat tuduhan kedekatan dengan tokoh PKI di Kalimantan Barat.” Latar belakang itu tidak menghalangi langkahnya untuk mengabdi. Pada awal 1970-an, “Ryamizard tetap berhasil menembus Akabri Darat.” Di Magelang, “ia menjadi bagian dari generasi perwira yang kelak banyak mewarnai perjalanan politik dan militer Indonesia, termasuk satu angkatan dengan Prabowo Subianto.”
Karier panjang dari Timor Timur hingga pucuk pimpinan AD
Lulusan Akabri 1974 itu memulai karier dari satuan infanteri. Penugasannya membawanya ke berbagai medan operasi, “termasuk penugasan di Timor Timur.” Kepemimpinannya terus menanjak di lingkungan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, “Kostrad,” hingga akhirnya dipercaya menduduki kursi “Kepala Staf Angkatan Darat” pada 2002–2005.
Ryamizard juga “memiliki kedekatan dengan lingkar elite militer setelah menikahi Nora Tristyana, putri Jenderal Try Sutrisno yang saat itu menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di tubuh ABRI.” Ikatan keluarga tersebut menempatkannya dalam jejaring perwira yang mewarnai dinamika TNI era Orde Baru hingga Reformasi.
Dari kandidat Panglima TNI ke Menteri Pertahanan
Nama Ryamizard sempat menguat sebagai calon Panglima TNI. Namun, “meski sempat disebut-sebut berpeluang menjadi Panglima TNI, jalan hidup membawanya ke posisi lain.” “Pada era Presiden Joko Widodo, Ryamizard dipercaya memimpin Kementerian Pertahanan dan menjadi salah satu figur sentral dalam kebijakan pertahanan nasional.”
Selama menjabat Menhan 2014–2019, ia mendorong program Bela Negara, penguatan industri pertahanan dalam negeri, dan diplomasi pertahanan dengan negara-negara ASEAN. Ia juga dikenal dengan gaya bicaranya yang lugas saat menyikapi isu separatisme dan terorisme.
Warisan pemikiran: TNI harus netral
Lebih dari sekadar jabatan, Ryamizard meninggalkan jejak pemikiran yang terus relevan. “Di luar jabatan dan karier militernya, Ryamizard dikenang karena pandangannya yang konsisten mengenai netralitas TNI.” “Ia berulang kali mengingatkan bahwa profesionalisme militer hanya dapat dijaga apabila tentara tetap fokus pada tugas pertahanan negara dan tidak terlibat dalam politik praktis.”
Bagi banyak kalangan di internal TNI, “pandangan itulah yang menjadi salah satu warisan pemikiran paling penting yang ia tinggalkan bagi generasi berikutnya.” Pesan tersebut kerap dikutip ulang setiap kali wacana peran TNI dalam politik mengemuka.
Perjalanan Ryamizard Ryacudu merangkum kisah keteguhan di tengah bayang masa lalu, dedikasi di medan operasi, hingga pengabdian di kursi kementerian. Ia menutup pengabdiannya dengan pesan yang sederhana namun mendasar: prajurit profesional adalah prajurit yang berdiri di atas semua golongan, menjaga kedaulatan, dan tidak berpolitik. Selamat jalan, Jenderal..(*1dn)










