Riau||ISBCenter.com – Museum Daerah Sang Nila Utama yang dikelola Dinas Kebudayaan Provinsi Riau menjadi salah satu tujuan Kuliah Kerja Kejuangan (KKJ) dan Sarasehan Perwira Siswa (Pasis) Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskoau) Angkatan ke-65 TP 2026, Senin, 27 Juli 2026.

Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat wawasan kebangsaan dan wawasan kejuangan para perwira siswa melalui pembelajaran langsung tentang sejarah, kebudayaan Melayu, dan ketahanan energi nasional yang berakar dari Riau.
Kedatangan rombongan Pasis disambut hangat jajaran Dinas Kebudayaan Provinsi Riau. Selain mendapatkan penjelasan tentang koleksi sejarah, para Pasis juga diajak berinteraksi dengan warisan budaya dengan mencoba permainan tradisional bakiak kayu.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Ariyadi, S.Sos, mengapresiasi kunjungan tersebut sebagai bentuk sinergi antara institusi pendidikan militer dan pemerintah daerah.
“Saya menyampaikan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya atas kehadiran tuan-puan, para Pasis Sesko AU ke Museum Daerah Sang Nila Utama ini. Momentum ini sekaligus menjadi silaturahmi diantara kita,” ujar Ariyadi.
Ia menambahkan, Kedatangan tuan-puan, dan para Pasis kami sambut dengan sukacita. Namun, jika ada salah ucap dan tingkah laku kami yang kurang berkenan kami mohon dimaafkan. Seperti kata orang tua-tua, tak ada tebu yang tak beruas, tak ada gading yang tak retak.

Dalam sesi pemaparan, dijelaskan bahwa Museum Sang Nila Utama kini menyimpan 4.037 koleksi, dengan sekitar 800 koleksi dipamerkan untuk publik. Salah satu daya tarik utama yang dikunjungi Pasis adalah SKK Migas – Chevron Corner yang merekam perjalanan panjang energi di Bumi Lancang Kuning.
Ariyadi memaparkan, sejarah ketahanan energi Riau dibagi dalam lima fase, yaitu masa prasejarah hingga kerajaan Melayu, masa kolonial, masa penemuan minyak di Minas dan Duri, era Caltex-Chevron, dan era transisi energi setelah alih kelola Blok Rokan ke Pertamina Hulu Rokan tahun 2021.
“Pada masa ini masyarakat hidup dengan memanfaatkan energi yang tersedia di alam seperti kayu sebagai bahan bakar, tenaga air dan angin untuk transportasi serta kegiatan ekonomi,” jelasnya.
Pada era Caltex yang kemudian menjadi Chevron Pacific Indonesia, perannya sangat besar dalam membentuk peradaban modern Riau.
“Di masa kehadiran Caltex yang kemudian menjadi Chevron Pacific Indonesia tidak hanya menghasilkan minyak, tetapi juga membentuk lanskap sosial dan ekonomi Riau. Jalan raya, lapangan udara, permukiman pekerja, rumah sakit, sekolah, pelabuhan, hingga pusat-pusat pertumbuhan ekonomi berkembang seiring industri minyak,” ungkapnya.
Kontribusi itu terlihat dari pembangunan SMA Negeri 1 Pekanbaru (1957), SMA Negeri 1 Dumai, SMA Negeri 1 Minas, program Darmasiswa dan Beasiswa Sakai, Politeknik Caltex Riau (2001), Jembatan Siak, Jalan Pekanbaru-Dumai, Pelabuhan Dumai, hingga Gedung Olahraga Tribuana.
Menutup sambutannya, Ariyadi menegaskan dukungan penuh Dinas Kebudayaan terhadap program KKJ Seskoau.
“Kami keluarga besar Dinas Kebudayaan Provinsi Riau sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan Kuliah Kerja Kejuangan ini. Apalagi upaya untuk kembali menggali dan memahami akar sejarah lokal dan warisan perjuangan masa lalu sebagai landasan moral dalam membangun ketahanan energi nasional,” tutupnya..(*ay)










