Peringati HUT ke-69 Riau, Disbud Riau Gelar Seminar Bahas Masa Depan Tradisi Lisan Melayu

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau Aryadi, S.Sos

Riau||ISBCenter.com – Tradisi lisan bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga fondasi untuk membangun masa depan kebudayaan Melayu Riau yang tetap hidup, relevan, dan berkelanjutan di era digital.

Disbud Riau Gelar Seminar Bahas Masa Depan Tradisi Lisan Melayu, 3-4 Agustus 2026

Hal tersebut menjadi benang merah dalam Seminar Kebudayaan bertema “Tradisi Lisan dan Masa Depan Kebudayaan Melayu Riau” yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Provinsi Riau pada 3-4 Agustus 2026.

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang diikuti oleh guru-guru Budaya Melayu Riau serta siswa/i SMA/SMK/MA se-Provinsi Riau ini bertujuan menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Para peserta diajak berdiskusi dan bertukar gagasan bersama para narasumber dari berbagai latar belakang, yaitu akademisi, Lembaga Adat Melayu Riau, Asosiasi Tradisi Lisan, serta praktisi tradisi lisan.

Disbud Riau Gelar Seminar Bahas Masa Depan Tradisi Lisan Melayu, 3-4 Agustus 2026

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau Aryadi, S.Sos menegaskan bahwa tradisi lisan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pembangunan kebudayaan.

Menurutnya, tradisi lisan adalah pilar peradaban dan identitas Melayu.

“Tradisi lisan merupakan salah satu dari 10 Objek Pemajuan Kebudayaan dan juga menjadi salah satu pilar utama peradaban Melayu. Melalui pantun, syair, gurindam, hikayat, cerita rakyat, mantra, petuah adat, dan berbagai bentuk tuturan lainnya, nilai-nilai kehidupan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya,” ujar Aryadi.

Lebih lanjut ia menjelaskan, tradisi lisan memiliki fungsi yang multidimensional bagi masyarakat Melayu.

“Tradisi lisan tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga menjadi ruang pendidikan karakter, penguat identitas, sekaligus penyimpan memori kolektif masyarakat Melayu,” jelasnya.

Aryadi memaparkan capaian Provinsi Riau dalam upaya pelindungan warisan budaya. Sampai di tahun 2025, Provinsi Riau melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Riau berhasil mendapatkan 18 Karya Budaya dengan Domain Tradisi Lisan yang sudah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Di tengah capaian tersebut, tantangan pelestarian ke depan tidak ringan. Aryadi menilai globalisasi dan perkembangan teknologi telah mengubah pola pewarisan budaya.

“Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, kita dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Perubahan pola komunikasi dan gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda, menyebabkan ruang pewarisan tradisi lisan semakin menyempit. Apabila tidak diantisipasi dengan langkah-langkah yang tepat, kita berisiko kehilangan sebagian dari jati diri melayu yang telah dibangun selama berabad-abad,” ungkapnya.

Meski demikian, ia optimis era digital justru bisa menjadi peluang untuk menghidupkan kembali tradisi lisan dengan cara yang lebih kreatif.

“Namun demikian, perubahan zaman tidak semestinya dipandang sebagai ancaman semata. Justru di dalamnya terdapat peluang besar untuk menghidupkan kembali tradisi lisan melalui berbagai pendekatan yang kreatif dan inovatif. Digitalisasi, penelitian, dokumentasi, pendidikan, festival budaya, hingga pemanfaatan media sosial dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali kekayaan tradisi Melayu kepada masyarakat yang lebih luas,” kata Aryadi.

Ia pun berharap seminar ini menghasilkan rumusan yang konkret dan aplikatif.

“Oleh karena itu, seminar ini memiliki arti yang sangat strategis. Saya berharap forum ini tidak hanya menjadi ruang bertukar gagasan, tetapi juga mampu melahirkan rekomendasi, strategi, dan langkah-langkah nyata dalam upaya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan tradisi lisan sebagai bagian penting dari pemajuan kebudayaan Melayu Riau,” harapnya.

Aryadi menambahkan, seminar kali ini memiliki makna yang sangat istimewa karena diselenggarakan bersempena dengan rangkaian peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau.

“Seminar ini memiliki makna yang sangat istimewa karena diselenggarakan bersempena dengan rangkaian peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau. Momentum ini bukan sekadar perayaan bertambahnya usia daerah, melainkan juga menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan perjalanan sejarah, memperkuat jati diri, serta meneguhkan komitmen kita dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan Melayu sebagai identitas dan kekuatan peradaban Provinsi Riau,” tuturnya.

Ia menjelaskan, Peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau tahun 2026 mengusung semangat persatuan dalam keberagaman dan kemajuan pembangunan, yang selaras dengan upaya pelestarian warisan budaya daerah.

“Dengan demikian, seminar ini menjadi wujud nyata implementasi tema Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau. Semangat “Bersatu Dalam Keberagaman” tercermin melalui upaya bersama menjaga warisan budaya lintas generasi, sedangkan semangat “Maju Dalam Pembangunan” diwujudkan melalui penguatan tradisi lisan sebagai fondasi pembangunan karakter, pendidikan, inovasi budaya, dan identitas Melayu Riau di era global,” jelasnya.

Aryadi menegaskan pelestarian budaya membutuhkan gotong royong semua pihak.

“Kita memerlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, lembaga adat, perguruan tinggi, komunitas budaya, para pelaku seni, guru, dan generasi muda. Pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan merupakan tanggung jawab bersama sebagai pewaris sekaligus penerus peradaban Melayu,” tegasnya.

“Takkan Melayu hilang di bumi, selama warisan budayanya terus dijaga dan diwariskan,” tutup Aryadi..(*adv/ay)

Pos terkait