Restorasi Gambut Riau Capai 451 Ribu Hektare, Plt Gubernur Tekankan Keberlanjutan dan Peran Masyarakat

Plt Gubernur Riau SF Hariyanto saat kegiatan di Tanjung Leban, Kabupaten Bengkalis, Rabu (30/09/2026)

Riau||ISBCenter.com – Upaya pemulihan ekosistem gambut di Provinsi Riau terus menunjukkan progres signifikan. Melalui kombinasi restorasi kawasan, penguatan infrastruktur tata air, kegiatan revegetasi, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat, Pemerintah Provinsi Riau mencatat capaian restorasi telah mencapai 451 ribu hektare sepanjang periode 2016 hingga 2024.

Capaian tersebut disampaikan Plt Gubernur Riau SF Hariyanto saat kegiatan di Tanjung Leban, Kabupaten Bengkalis, Rabu (30/09/2026). Menurutnya, angka tersebut menjadi modal dan fondasi penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem gambut di Riau, namun tetap harus diiringi dengan pengawasan dan perawatan yang konsisten.

“Kita patut bersyukur bahwa sudah memiliki fondasi cukup kuat. Pada periode 2016 sampai 2024, capaian restorasi gambut di Provinsi Riau tercatat mencapai 451 ribu hektare,” kata Plt Gubri SF Hariyanto di Tanjung Leban, Kabupaten Bengkalis, Rabu (30/09/2026).

Plt Gubri menjelaskan, pemulihan gambut di Riau tidak berjalan sendiri, melainkan didukung oleh perencanaan perlindungan dan pengelolaan ekosistem yang terstruktur. Perencanaan tersebut tidak hanya disusun di tingkat provinsi, namun juga telah diturunkan hingga ke tingkat kabupaten.

“Provinsi Riau telah memiliki rencana perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut. Dimana tingkat kabupaten telah disusun untuk Bengkalis, Siak, Pelalawan, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir,” jelasnya.

Di tingkat tapak, pemerintah juga telah membangun berbagai infrastruktur pendukung untuk menjaga stabilitas hidrologis kawasan gambut. Infrastruktur tersebut meliputi pembangunan sekat kanal dan sumur bor yang berfungsi menjaga tata kelola air di kawasan rawan kekeringan dan kebakaran.

Pembangunan infrastruktur tersebut, kata SF Hariyanto, dilakukan bersamaan dengan program revegetasi dan penguatan ekonomi masyarakat sekitar gambut. Hal ini menegaskan bahwa restorasi gambut tidak hanya fokus pada aspek lingkungan, tetapi juga pada keberlanjutan sosial ekonomi warga.

“Di tingkat tapak, infrastruktur pendukung yang telah dibangun meliputi 2.077 unit sekat kanal dan 1.125 unit sumur bor. Dilakukan revegetasi sekitar 390 hektare, serta 291 paket revitalisasi ekonomi masyarakat,” terangnya.

Meski capaian restorasi cukup besar, Plt Gubri mengingatkan agar keberhasilan tidak hanya dilihat dari luasan hektare maupun jumlah infrastruktur yang terbangun. Keberlanjutan kawasan gambut yang telah dipulihkan sangat ditentukan oleh peran aktif masyarakat yang setiap hari berinteraksi langsung dengan kawasan tersebut.

“Namun demikian, pekerjaan kita tidak boleh berhenti pada angka-angka statistik tersebut. Di sinilah peran masyarakat menjadi sangat krusial. Hari ini hadir rekan-rekan dari Masyarakat Peduli Api, Masyarakat Peduli Gambut, dan orang-orang yang setiap hari berada paling dekat dengan kawasan ini. Anda sekalianlah yang paling memahami kondisi lapangan dan bergerak nyata menjaga yang telah kita pulihkan,” tegasnya.

Menurutnya, masyarakat memiliki posisi strategis dalam menjaga hasil restorasi. Pengetahuan lokal tentang kondisi lapangan menjadi modal penting untuk mendeteksi dini potensi gangguan dan mencegah degradasi kawasan gambut kembali terjadi.

Ia pun berharap pengalaman restorasi yang berhasil dilakukan di Tanjung Leban, Bengkalis, dapat direplikasi dan menjadi contoh bagi pengelolaan gambut di wilayah lain di Riau.

“Pengalaman dari Tanjung Leban Bengkalis ini harus kita jadikan model pembelajaran untuk kawasan gambut lainnya di Riau. Praktik yang sudah berhasil wajib kita lanjutkan, sementara yang masih kurang akan terus kita sempurnakan bersama,” pungkasnya..(*ay)

Pos terkait