Riau||ISBCenter.com – Penjelasan dokter paru menguatkan fenomena “perokok pasif” pada kasus narkotika. Seorang pengunjung tempat hiburan malam di Kota Pekanbaru dinyatakan positif ganja meski tidak mengisap secara langsung. Ia terpapar karena berada di dalam toilet tertutup bersama dua orang yang sedang mengisap ganja.
Kasus ini terungkap setelah jajaran kepolisian mengamankan 13 pengunjung tempat hiburan malam di Pekanbaru, Sabtu (23/5/2026) dini hari. Dari hasil pemeriksaan, seluruhnya dinyatakan positif etomidate. Tiga orang di antaranya juga terdeteksi mengandung zat narkotika jenis ganja.
Adapun 13 orang yang diamankan terdiri dari delapan laki-laki dan lima perempuan. Mereka berasal dari Pekanbaru, Kampar, dan Pelalawan, dengan inisial KS (32), RR (22), GSA (21), PT (28), AF (21), MAY (24), IMF (22), MA (22), NR (23), SAP (23), SA (23), dan ALS (23).
Menariknya, satu dari tiga orang yang positif ganja tersebut diketahui tidak mengonsumsi langsung. Yang bersangkutan terpapar secara pasif karena berada dalam satu ruangan toilet yang sempit bersama dua orang lain yang sedang mengisap ganja. Saat itu, ketiganya tengah berbicara di dalam toilet.
Menanggapi hal tersebut, Dokter Spesialis Paru, dr. Indra Yovi, Sp.P(K), membenarkan bahwa paparan asap ganja secara pasif dapat membuat seseorang dinyatakan positif saat tes narkoba.
“Sama seperti asap rokok biasa, terhisap bisa terpapar. Di tes pun positif, terpapar karena dia tidak mengisap secara aktif, tapi di dalam ruangan yang ada asap rokok atau ganja atau vape ya positif. Kalau rokok tak menyalahi hukum, kalau ganja ya menyalahi,” ujar dr. Indra Yovi melalui sambungan telepon, Kamis (28/5/2026).
Menurut dr. Indra Yovi, paparan asap ganja di ruang tertutup tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat seseorang positif secara pasif.
“Sebentar saja bisa. Intinya bisa terpapar walaupun tidak menghisap ganja (pasif). Untuk kembali negatif tinggal tunggu saja,” pungkasnya.
Ia menambahkan, lamanya zat ganja terdeteksi di tubuh bergantung pada jenis tes yang dilakukan. “Kalau di rambut lama sampai satu bulan, kalau di urine dua pekan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dr. Indra Yovi menekankan bahwa risiko hasil positif akan semakin tinggi jika paparan terjadi di ruangan dengan sirkulasi udara buruk. Faktor ventilasi menjadi penentu utama seberapa besar paparan yang diterima oleh perokok pasif.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa menghirup asap ganja secara pasif di ruang tertutup dapat berisiko pada hasil tes narkoba, meskipun kemungkinannya lebih kecil dibanding pengguna aktif..(*ay)










