Tom Lembong Soroti Risiko Budaya “ABS” dan Kondisi Ekonomi Nasional

Tom Lembong Soroti Risiko Budaya "ABS" dan Kondisi Ekonomi Nasional

Jakarta||ISBCenter.com – Mantan Menteri Perdagangan periode 2015-2016, Thomas Trikasih Lembong, menyampaikan pandangan kritisnya mengenai dinamika politik, hukum, dan ekonomi Indonesia dalam dialog di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up.

Dalam perbincangan tersebut, Tom Lembong menyoroti bahaya budaya organisasi yang lebih mementingkan menyenangkan atasan daripada menyampaikan fakta di lapangan.

Ancaman Terbesar bagi negeri kita bukan negara lain, bukan virus, bukan p4ndemi bukanpula bom nuklir tapi para Penjilat!!

Menurutnya, pernyataan itu merupakan kritik terhadap budaya “ABS” atau Asal Bapak Senang, yang dinilai dapat merusak kemampuan pemimpin membaca realitas. Secara filosofis, kalimat tersebut bukan sedang membandingkan penjilat dengan bom nuklir secara literal, melainkan menegaskan bahwa kehancuran bangsa sering kali berasal dari “musuh internal” dalam sistem kekuasaan.

Negara dapat bertahan menghadapi ancaman luar apabila kepemimpinannya masih menerima kritik, data objektif, dan koreksi.
Namun ketika pemimpin dikelilingi oleh penjilat, maka kemampuan membaca realitas menjadi rusak.

Tom juga menceritakan pengalamannya terkait proses hukum yang pernah dihadapinya. Ia merasa kebijakan yang diambil saat menjabat tidak mendapat perlindungan memadai dari pimpinan tertinggi.

Menurutnya, konstruksi hukum yang dibangun aparat saat ini seringkali terlihat tidak sistematis dan cenderung konyol.

“Sulit menghindari perasaan bahwa banyak dari kami akhirnya menjadi seperti tumb4l. Pilihan politik saya untuk mendukung Pak Anies membawa risiko bahwa saya bisa dipenj4ra, bahkan bisa dibunuh,” ujar Tom

Ia turut mengomentari kasus yang menjerat mantan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim. Tom menilai tuduhan terkait konversi utang menjadi saham sebesar Rp800 miliar sebagai sesuatu yang “konyol” dalam dunia korporasi.

Menurutnya, ketidakpastian hukum terhadap tokoh-tokoh high profile seperti ini berdampak sangat negatif pada sentimen investor internasional.

Dalam aspek ekonomi, Tom memperingatkan adanya sejumlah tantangan berat. Ia menyebut situasi saat ini adalah yang paling rawan dalam 20 tahun terakhir. Beberapa poin krusial yang ia soroti antara lain :

– Beban Warisan Utang: Indonesia menanggung beban utang besar dari pemerintahan sebelumnya yang digunakan untuk proyek-proyek tidak produktif (seperti beberapa jalan tol dan kereta cepat yang rugi operasional).

– Krisis Energi Global: Ketegangan di Selat Hormuz akibat konflik Iran-Israel-AS memicu lonjakan harga BBM dan LPG. Tom meragukan kemampuan fiskal Indonesia untuk bertahan hingga akhir tahun jika tren ini berlanjut.

– Devaluasi Rupiah: Nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.370 per dolar AS disebutnya sebagai salah satu performa mata uang terburuk di dunia saat ini.

“Patut diragukan dengan tren yang ada sekarang, apakah kita bisa bertahan sampai akhir tahun? Kepercayaan itu datang dari kejujuran. Pemerintah harus realistis dan berhenti menggunakan gimik populis yang minim efek pengganda ekonomi,” tegas Tom.

Tom menilai Menteri Keuangan saat ini terlalu optimistis tanpa cukup konfrontatif terhadap fakta lapangan. Ia menyarankan agar pemerintah lebih jujur mengenai kondisi neraca pembayaran dan ruang fiskal yang semakin rapuh.

Ia juga membandingkan langkah Indonesia dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang sudah berinvestasi pada sektor masa depan seperti semikonduktor dan data center, sementara Indonesia dinilai “ketinggalan kereta” karena terlalu fokus pada komoditas sumber daya alam.

Saat ditanya kemungkinan kembali ke kabinet, Tom memberikan jawaban tegas.

“Jawaban singkatnya tidak saat ini. Perlu perubahan fundamental, luas, dan filosofis. Kemerdekaan berpikir harus dijamin dan debat terbuka harus dipicu sebelum saya mempertimbangkan kembali ke pemerintahan,” pungkasnya..(*1dn)

Pos terkait