Antisipasi Puncak Karhutla September-November, Pemprov Riau Siagakan Personel dan Tambah Peralatan

Plt Gubernur, SF Hariyanto memimpin langsung rapat Penanganan Karhutla di Ruang Rapat Gubernur, Minggu (23/8/2026)

Riau||ISBCenter.com – Pemerintah Provinsi Riau terus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan memperkuat personel, peralatan, dan kolaborasi lintas sektor di sejumlah wilayah rawan.

Kesiapan tersebut dibahas dalam Rapat Persiapan Audiensi dengan Menteri Kesehatan RI sekaligus Rapat Penanganan Karhutla yang digelar di Ruang Rapat Gubernur, Kantor Gubernur Riau, Minggu (23/8/2026).

Bacaan Lainnya

Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menegaskan, penanganan karhutla harus dilakukan secara cepat dan terpadu dengan melibatkan seluruh unsur, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, Satpol PP, tenaga kesehatan, dunia usaha hingga masyarakat. Fokus perhatian saat ini masih tertuju pada Kabupaten Pelalawan yang memiliki kerawanan tinggi akibat banyaknya titik panas dan karakteristik lahan gambut.

Menurutnya, koordinasi antar pihak harus terus diperkuat untuk mengantisipasi potensi kebakaran yang masih cukup besar, agar api tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.

“Kita tidak boleh lengah, terutama menghadapi September, Oktober hingga November yang perlu kita antisipasi bersama. Karena itu, seluruh kekuatan yang ada harus kita siapkan dan dikerahkan ke lokasi yang membutuhkan penanganan,” ucapnya.

Selain pengerahan personel dan peralatan, SF Hariyanto juga menekankan pentingnya perlindungan kesehatan bagi petugas di lapangan maupun warga terdampak. Ketersediaan masker, obat-obatan, dan oksigen harus dipastikan tercukupi. Pemprov Riau sendiri telah menyiapkan sekitar 110 ribu masker per hari untuk kebutuhan petugas dan masyarakat yang terpapar kabut asap.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBDPK Provinsi Riau Edy Afrizal mengungkapkan, perkembangan karhutla di Pelalawan masih menjadi perhatian serius. Berdasarkan hasil pemantauan, tercatat ada 216 titik panas di wilayah tersebut yang memerlukan penanganan intensif.

Ia menjelaskan, kondisi lapangan cukup menantang karena sebagian besar berada di kawasan gambut dengan kedalaman bervariasi dan vegetasi yang mudah terbakar. Keterbatasan sumber air juga menjadi kendala karena cepat habis saat proses pemadaman.

“Untuk memperkuat penanganan, peralatan pemadaman dan sumber air terus kita tambah, dari sebelumnya enam unit menjadi sekitar 15 unit. Personel juga terus diperkuat melalui kolaborasi Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD dan unsur lainnya,” jelasnya.

Edy menambahkan, berdasarkan pemantauan BMKG, sebaran asap yang masuk ke wilayah Riau tidak hanya berasal dari kebakaran di dalam daerah, tetapi juga terbawa angin dari wilayah Lampung, Sumatera Selatan, dan Jambi. Oleh karena itu, penanganan karhutla membutuhkan koordinasi terpadu lintas wilayah..(*ay)

Pos terkait