Artikel Rohani|| ISBCenter.com – Bayangkan sebuah buah apel yang segar dan indah diletakkan di dalam keranjang yang berisi apel-apel yang sudah mulai busuk. Apa yang akan terjadi beberapa waktu kemudian? Tanpa disadari, apel yang segar itu perlahan-lahan juga akan ikut membusuk karena dipengaruhi oleh bakteri dan udara dari apel yang merusak di sekitarnya.
Begitu juga dengan kehidupan kita. Lingkungan dan teman-teman yang kita pilih untuk bergaul memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap karakter dan iman kita. Firman Tuhan dengan tegas menyatakan dalam:
1 Korintus 15:33:
“Janganlah tersesat: Pergaulan yang jahat merusak kelakuan yang baik.”
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang netral terhadap lingkungannya. Kita adalah makhluk sosial yang mudah terpengaruh, baik secara positif maupun negatif.
-Pergaulan bukan hanya tentang siapa yang kita ajak bicara, tetapi juga nilai-nilai, pola pikir, dan gaya hidup yang kita serap dari komunitas tersebut.
Merusakkan kelakuan yang baik artinya hal-hal baik yang sudah kita bangun dengan susah payah, seperti kedisiplinan, kejujuran, dan kekudusan, bisa runtuh hanya karena kita berada di tempat yang salah.
ISI :
1. Kita Cenderung Menjadi Seperti Orang-Orang yang Dekat dengan Kita, Pengaruh teman itu sangat kuat. Alkitab berkata dalam:
Amsal 13:20:
“Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”
Siapa yang paling banyak kamu dengarkan suaranya? Siapa yang paling sering kamu ikuti pendapatnya? Itulah yang sedang membentuk dirimu hari ini. Lingkungan yang baik akan mengangkat kita naik, sedangkan lingkungan yang buruk akan menarik kita turun ke dalam kebinasaan.
2. Kita Harus Membedakan antara “Berteman” dan “Bergaul”, Kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang bagi dunia, artinya kita harus berinteraksi dengan semua orang. Namun, ada perbedaan besar antara melayani/menginjili dan menjadikan sebagai gaya hidup/komunitas utama.
Efesus 5:11 •:
“Dan jangan kamu bersekutu dengan segala perbuatan gelap yang tiada berfaedah, melainkan lebih baik menyalahkan dia.”
Kita tidak boleh merasa nyaman tinggal di dalam kegelapan hanya karena ingin diterima oleh orang lain. Kita boleh berinteraksi, tetapi tidak boleh terikat atau terbiasa dengan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan.
3. Komunitas yang Sehat Adalah yang Membangun, Bukan yang Menghancurkan
Ibrani 10:24-25 berkata:
“Dan biarlah kita hirau-menghiraukan sama sendiri akan membangkitkan kasih dan perbuatan yang baik. Janganlah kita undur daripada berhimpun bersama-sama… melainkan bernasehat-nasehatlah sama sendiri.”
Komunitas yang benar adalah tempat di mana kita ditolong agar semakin mirip dengan Kristus. Di sana kita saling mengingatkan, saling menguatkan, dan saling memotivasi untuk melakukan yang benar, bukan tempat di mana dosa diperbolehkan atau kelemahan kita dibiarkan begitu saja.
ANALISIS FIRMAN
Mengapa Tuhan memberikan peringatan ini begitu keras? Karena hati manusia itu mudah berkompromi. Awalnya mungkin kita hanya sekedar “nongkrong”, lalu mulai ikut berdiskusi orang, ikut minum, ikut berdusta, sampai akhirnya kita lupa bagaimana rasanya hidup suci.
1 Korintus 5:6 berkata:
“Tidakkah kamu tahu, bahwa sedikit ragi saja yang menjangkau seluruh adonan?”
Jangan meremehkan pengaruh kecil dari pergaulan yang salah. Itu seperti ragi, perlahan tapi pasti akan mengubah seluruh adonan hidup kita. Apa yang awalnya terlihat kecil dan tidak berbahaya, lama-kelamaan akan merusak seluruh karakter dan iman kita.
KESIMPULAN
Kehidupan rohani dan mental kita sangat bergantung pada siapa yang kita pilih sebagai sahabat dan komunitas.
1. Kita tidak bisa tumbuh dewasa secara rohani jika lingkungan kita terus-menerus menarik kita mundur.
2. Kita mempunyai tanggung jawab untuk memilih lingkungan yang sehat demi menjaga iman kita dan masa depan kita.
3. Pada akhirnya, kita juga dipanggil untuk menjadi bagian dari solusi, yaitu menjadi orang yang membangun orang lain, bukan merusak.
PENERAPAN PRAKTIS
Apa yang harus kita lakukan mulai hari ini?
1. Lakukan Evaluasi
Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah teman-teman terdekatku membuatku semakin mencintai Tuhan dan menjadi baik, atau sebaliknya?” Jika merusak, batasilah intensitas pergaulan tersebut dan perbanyak doa serta kewaspadaan.
2. Carilah Komunitas yang Membangun
Carilah teman-teman seiman yang bisa saling mengingatkan, berdoa bersama, dan memotivasi untuk melakukan yang benar. Aktiflah dalam persekutuan doa atau sel kelompok kecil di gereja. Seperti firman:
Amsal 27:17:
“Besi menajamkan besi, demikianpun orang menajamkan akal orang.”
3. Jadilah Sumber Berkat
Jangan hanya menjadi penerima pengaruh, tapi jadilah pemberi pengaruh yang positif. Jadilah orang yang ketika orang lain bergaul dengan kita, mereka menjadi lebih baik, lebih takut akan Tuhan, dan lebih semangat hidup.
PENUTUP
Seperti kapal yang mengarungi lautan. Jika kapal itu bersandar di dermaga yang kotor dan berlumpur, badan kapal akan menjadi kotor dan lambat laun karatan. Namun jika bersandar di pelabuhan yang bersih dan terawat, kualitas kapal akan tetap terjaga. Pilihlah “dermaga” mana yang akan kamu singgahi dalam hidupmu.
Saudara-saudara, mari kita bertekad untuk menjaga mata, telinga, dan hati kita dari pengaruh dunia yang merusak. Mari kita memilih untuk berada di dalam terang, bersama orang-orang yang saleh, dan menjadi berkat bagi sesama. Tuhan Yesus mengantarkan!
Penulis: Pdt. Yusak, S.Th










