Menjadikan Tuhan Yesus Sebagai Tuhan

Ps. Yusak Wamin, S.Th

Artikel|| ISBCenter.com – Yesus adalah Tuhan, bukan karena manusia mengakui-Nya, melainkan karena siapa Dia sebenarnya. Namun, tantangan bagi orang percaya adalah ketika kita mengakui Yesus sebagai Tuhan melalui doa, pujian, dan ibadah, namun belum sungguh-sungguh menyerahkan hidup di bawah pemerintahan-Nya.

Oleh karena itu, kita perlu memikirkan satu pertanyaan penting: Apakah Yesus hanya Tuhan di bibir kita, atau sungguh-sungguh Tuhan atas seluruh kehidupan kita?

Bacaan Lainnya

1. Mengakui Yesus sebagai Tuhan adalah Dasar Iman.

“Karena jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” (Roma 10:9)

Mengakui Yesus sebagai Tuhan bukan sekedar ucapan atau tradisi keagamaan. Pengakuan itu lahir dari iman hingga kematian dan kebangkitan-Nya serta keyakinan bahwa Dia berkuasa atas dosa dan maut. Artinya, kita tidak lagi menjadikan diri sendiri sebagai pusat kehidupan, melainkan memberikan tempat utama kepada Tuhan Yesus.

2. Menundukkan Diri pada Otoritas Firman-Nya.

Yesus berkata, “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Lukas 6:46).

Yesus tidak mempersoalkan pengakuan mereka, tetapi ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan. Mengakui Yesus sebagai Tuhan harus nyata melalui ketaatan kepada firman-Nya.

Ketika mengambil keputusan, menghadapi persoalan, atau menentukan arah hidup, firman Tuhan harus menjadi pedoman utama. Kita tidak hanya meminta Tuhan untuk menghentikan rencana kita, tetapi juga bersedia mengubah rencana kita untuk melakukan kehendak-Nya.

Yesus sungguh menjadi Tuhan dalam kehidupan kita ketika firman-Nya lebih berotoritas daripada keinginan pribadi dan tekanan lingkungan.

3. Membangun Hidup di Atas Fondasi yang Kokoh.

Dalam Lukas 6:47–49, Yesus menggambarkan dua orang yang sama-sama mendengar firman, tetapi membangun rumah dengan fondasi yang berbeda. Orang yang mendengar dan melakukan firman membangun di atas batu yang kokoh, sedangkan orang yang tidak mampu membangun tanpa fondasi yang kuat.

Perbedaannya bukan terletak pada seberapa banyak firman yang didengar, melainkan pada apakah firman itu dilakukan.

Penyerahan diri kepada Tuhan merupakan proses pertumbuhan seumur hidup. Hal ini terlihat dalam karakter, perkataan, keputusan, pekerjaan, pelayanan, kehidupan keluarga, serta cara kita mengelola harta dan berkat yang Tuhan percayakan.

Renungan dan Aplikasi
Mari kita memeriksa diri melalui tiga pertanyaan:

– Pikiran: Apakah firman Tuhan membentuk cara saya berpikir dan memandang kehidupan?
– Keputusan: Apakah saya tetap bersedia taat ketika kehendak Tuhan berbeda dari keinginan saya?
– Tindakan: Apakah orang lain dapat melihat bahwa Yesus adalah Tuhan dalam hidup saya melalui sikap dan perbuatan sehari-hari?

Kesimpulan
Saudara yang terkasih, Yesus tidak menjadi Tuhan karena pengakuan kita. Dia adalah Tuhan, terlepas dari apakah kita mengakui-Nya atau tidak. Namun, sebagai orang percaya, kami dipanggil untuk hidup di bawah pemerintahan-Nya dengan menjadikan firman-Nya sebagai pedoman utama.

Jangan hanya mengakui Yesus sebagai Tuhan melalui mulut, tetapi wujudkanlah pengakuan itu melalui ketaatan dan penyerahan diri dalam seluruh aspek kehidupan.

Kiranya Roh Kudus membantu kita agar pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan bukan sekedar perkataan, melainkan kenyataan yang terlihat dalam setiap langkah hidup kita.

Penulis : Ps. Yusak Wamin, S.Th

Pos terkait