Demi Injil Aku Rela

Pdt. Yusak Wamin,. S. Th

Bengkulu||ISBCenter.com – Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya”. 1 Korintus 9:22-23

Berdasarkan firman Tuhan diatas kita akan belajar bagaiman teladan Paulus yang luar biasa fleksibel dan penuh pengorbanan demi Injil dapat diberitakan dan diterima. Paulus tidak terpaku dan kakuh pada satu cara berinteraksi dengan orang lain, melainkan menyesuaikan diri dengan kondisi dan kebutuhan setiap individu demi memberitakan Injil.

Kata kunci di sini adalah “menjadi segala-galanya bagi semua orang”. Ini bukan berarti Paulus menjadi munafik atau mengkompromikan kebenaran, melainkan ia menunjukkan empati dan pemahaman yang mendalam terhadap latar belakang, budaya, dan keraguan orang yang dilayaninya, sekali lagi demi injil dapt diberitakan dan diterima.

Saya yakin Rasuk Paulus terinspirasi oleh Yesus Kristus, yang demi keselamatan manusia Ia rela, seperti tertulis dalam Filipi 2:6-7 (TB) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Yesus Kristus tidak hanya bersimpati tetapi berempati bagi umatNya. Empati itulah yang menggerakkan Yesus mengosongkan diri dan menjadi manusia. Apa itu empat? Empati adalah tindakan yang nyata.

Dan sebenarnya salah satu syarat mutlak empati bagi seorang murid Kristus apalagi seorang pelayan Tuhan. Paling tidak, itulah sikap dan tindakan Paulus sepanjang pelayanannya. Dapat dikatakan bahwa prinsip ini adalah sumber efektivitas pelayanan Paulus. Apa sebenarnya empati? Apa bedanya dari simpati? Akar dari kedua kata itu adalah pathos, dari bahasa Yunani yang berarti perasaan. Simpati adalah sikap yang membuat orang merasakan perasaan atau suasana batin orang lain, sedangkan empati berarti sikap yang membuat orang masuk atau menempatkan diri dalam posisi orang lain sehingga ia memahami posisi dan kondisi orang tersebut.

Kepada orang Yunani, Paulus jadi seperti orang Yunani. Kepada orang bertaurat Paulus bagai Yahudi saleh yang menjunjung ting-gi Taurat. Terjemahan ke suasana sekarang, kira-kira begini: kepada orang Jawa, saya (nonJawa) jadi seperti orang Jawa (bahasa, cara berpikir, dll.). Kepada orang yang kritis, pelayan Tuhan berpikir secara kritis pula (Injil tidak gampangan). Kepada orang lemah, sang pelayan tidak datang sebagai orang sempurna tak ke-nal gagal atau masalah. Kepada orang kaya, pelayan Tuhan bersikap kaya juga (mungkin bukan kaya harta materi, tetapi kaya dalam anugerah-Nya yang melimpah). Kepada orang terpinggir (entah karena stigma sosial, kemiskinan, dosa, dlsb.) sang pelayan datang sebagai anak hilang yang ditemukan Bapa surgawi yang murah hati.

Semoga contoh-contoh tadi menolong kita menyelami maksud Paulus: bukan menganjurkan sikap kompromis membunglon, tetapi sikap konsisten dengan Allah yang dalam Kristus menjadi manusia sejati. Inkarnasi Kristus yang sesungguhnya lebih dalam dari empati, itulah dasar dan sumber dari prinsip pelayanan Paulus.

Kita bisa perhatikan bahwa Kristus mengosongkan diri dan menjadi sama dengan manusia
Ia berkawan dengan pemungut cukai, pelacur, tanpa ikut terseret arus dosa mereka. Ia menyentuh orang kusta, orang sakit pendarahan, tanpa dinajiskan tetapi merangkul, menerima, memulihkan mereka jadi utuh seperti rencana Allah semula.

Dengan kata lain, saya. mau katakan bahwa dengan kelimpahan anugerah dari Allah, seharusnya membuat seorang pelayan Tuhan memiliki empati, yaitu berbagi apa yang ia miliki kepada orang yang tidak memiliki, tetapi juga memikul beban orang lain sehingga orang itu diringankan.

Tujuan Paulus:
Tujuan utama Paulus adalah memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus. Ia menyadari bahwa pendekatan yang kaku dan seragam tidak akan efektif bagi semua orang. Oleh karena itu, ia memilih untuk menjadi “segalanya bagi semua orang”, berarti ia rela beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi dan karakter orang yang dihadapinya. Tujuannya bukanlah untuk menyenangkan manusia, tetapi untuk menyelamatkan mereka dari kuasa dosa dan maut, dan memperkenalkan mereka kepada keselamatan yang ada di dalam Yesus Kristus.

Makna bagi Kita:
Ayat ini memiliki makna yang mendalam bagi kita sebagai pengikut Kristus di zaman modern ini. Kita diajak untuk merenungkan bagaimana kita dapat meneladani sikap Paulus dalam pelayanan kita. Pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita renungkan antara lain:

– Seberapa fleksibelkah kita dalam menjangkau orang lain? Apakah kita mudah menghakimi atau mengategorikan orang berdasarkan latar belakang mereka? Atau apakah kita mampu menempatkan diri kita pada posisi mereka dan memahami kebutuhan mereka?
– Apa yang perlu kita korbankan demi Injil? Apakah kita rela melepaskan kenyamanan dan ego kita demi menyebarkan kasih Kristus kepada orang lain?
– Bagaimana kita dapat menjadi “segalanya bagi semua orang” tanpa mengkompromikan kebenaran Injil? Ini menuntut kepekaan rohani dan hikmat dari Allah.

Paulus tidak hanya berfokus pada penyampaian pesan, tetapi juga pada hubungan personal. Ia memahami bahwa hubungan yang dibangun dengan rasa hormat dan empati membuka jalan bagi penerimaan pesan Injil. Ia rela menjadi “lemah bagi yang lemah” agar dapat menjangkau mereka yang merasa terasing dan terpinggirkan.

Penutup :
Firman Tuhan dalam 1 Korintus 9:22-23 ini mengajak kita untuk menjadi seorang saksi. Kristus yang adaptif, penuh kasih, dan rela berkorban. Kita dipanggil untuk menjangkau dunia dengan cara yang relevan dan bermakna bagi setiap individu, selalu mengingat bahwa tujuan utama kita adalah memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus. Semoga renungan ini menjadi berkat bagi kita semua.

Bengkulu, 25 Mei. 2025
Hamba Kristus Dalam Kasih Persaudaraan

Pdt. Yusak Wamin,. S. Th
Penulis

Pos terkait