Bengkulu||ISBCenter.com – Bapak Ibu saudaraku, kelasih Kristus. Kali ini saya mengajak kita memahami apa maksud Tuhan atas Pembuangan Bangsa pilihanNya ke tanah Babel. Sebelum kita memahami lebih jauh saya jelaskan Mengapa Israel jatuh le tangan bangsa Babel.
Bangsa Israel masuk ke dalam pembuangan ke Babel adalah selama 70 tahun. Pembuangan ini terjadi setelah penaklukan Yerusalem oleh Nebukadnezar II dan penghancuran Bait Suci. Dan berakhir ketika Raja Koresh dari Persia mengizinkan orang Yahudi kembali ke tanah air mereka sekaligus membangun kembali Bait Suci. (Ezra 1:1-4)
Pristiwa pembuangan ini bukan terjadi secara tiba-tiba melainkan telah dinubuatkan sebelumnya. Hal itu kita bisa lihat dalam kitab Yeremia (25:11). Angka 70 ini menjadi simbol lamanya pembuangan dan penderitaan bangsa Israel. Tentu kita bertanya mengapa pristiwa ini terjadi?
Saudaraku secara garis ada beberapa latarbelakang mengapa Tuhan membuang bangsa Israel pada waktu itu:
1. Umat Israel secara berulang kali melanggar perjanjian mereka dengan Tuhan, melakukan penyembahan berhala, dan mengabaikan hukum-hukum-Nya. Pembuangan ke Babel menjadi konsekuensi atas dosa-dosa ini, sebuah disiplin ilahi untuk membawa mereka kepada pertobatan. Kitab-kitab Raja-Raja dan Tawarikh dalam Perjanjian Lama mencatat secara rinci pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh raja-raja dan rakyat Israel.
2. Masa pembuangan bukan hanya hukuman, tetapi juga kesempatan bagi umat Israel untuk merenungkan dosa-dosa mereka dan kembali kepada Tuhan. Jauh dari tanah air dan kuil mereka, mereka dipaksa untuk bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Pengalaman ini membawa banyak orang Israel kepada pertobatan yang sejati dan menumbuhkan kemurnian iman mereka.
3. Pembuangan Israel juga berfungsi sebagai penghakiman atas bangsa-bangsa lain yang sombong dan menganggap diri mereka lebih tinggi dari Tuhan. Kejatuhan Yerusalem dan pembuangan Israel menunjukkan bahwa bahkan bangsa yang dipilih Tuhan pun dapat jatuh jika mereka meninggalkan-Nya. Ini menjadi peringatan bagi bangsa-bangsa lain untuk tidak meremehkan kuasa dan keadilan Tuhan.
4. Meskipun dalam keadaan yang menyedihkan, pembuangan juga secara tidak langsung berkontribusi pada penyebaran iman Bangsa Israel pada waktu itu. Orang-orang Israel yang dibuang ke Babel menyebar ke berbagai wilayah di Kekaisaran Babel, membawa serta kepercayaan dan praktik keagamaan mereka. Ini membuka jalan bagi penyebaran agama Yahudi ke daerah-daerah baru.
5. Pembuangan ke Babel juga merupakan penggenapan nubuat para nabi sebelumnya yang telah memperingatkan tentang konsekuensi ketidaktaatan Israel. Nubuatan-nubuatan ini berfungsi sebagai peringatan dan sekaligus sebagai bukti kedaulatan Tuhan atas sejarah.
6. Yang terakhir adalah mengingatkan pemulihan ketika ada pertobatan. Meskipun tampak sebagai hukuman, pembuangan ke Babel juga merupakan bagian dari rencana Tuhan yang lebih besar untuk pemulihan Israel. Masa pembuangan menjadi periode refleksi dan persiapan bagi kembalinya mereka ke tanah air dan pembangunan kembali Bait Suci. Tuhan menggunakan pembuangan untuk membentuk dan mempersiapkan umat-Nya untuk masa depan.
Saudaraku, dibagian akhir ini saya mengajak kita melihat janji pemulihan sebagai refleksi bagi kita di mass kini. Saya ketika mempelajari kisah ini, dapat merasakan seakan Tuhan bicara ke hati saya bahwa model bangsa Isarel yang bandel dan suka lupa Tuhan itu gambaran kehidupan kita sesungguhnya. Berapa sering kita ditolong Tuhan, demikian juga dengan bangsa Isarel, mereka terjepit berteriak dengan Tuhan, setelah dapat pertolongan Tuhan mereka mulai lupa Tuhan. Mereka menerima banyak mujizat di padang gurun, tapi rupanya pertolongan dan mujizat Tuhan tidak cukup mendidik mereka. Bukankah kita juga demikian?
Tuhan sedang memproses kita sekalian. agar belajar serial, taste dan rendah hati menjalan hidup ini. Dan jika kita sedang dalam proses, Tuhan menjanjikan pemulihan yang besar. Mari kita baca dalam Yesaya 40, khususnya ayat 31.
“tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”.
Yesaya 40:31 muncul di tengah-tengah sitiasi Bangsa Isarel yang sedang tidak baik-baik saja. Lalu Nabi Yesaya tampil dan memberikan janji kekuatan baru bagi mereka yang menanti-nantikan Tuhan. Bahwa mereka seperti Rajawali, dengan kemampuannya terbang tinggi dan jauh, digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan kekuatan dan ketahanan yang akan diberikan Tuhan kepada umat-Nya yang mau bertobat.
Saudaraku, ayat ini menekankan pentingnya menanti-nantikan Tuhan sebagai sumber kekuatan dan pemulihan, baik bagi Bangsa Isarel maupun bagi kita di zaman ini. Kata “menanti-nantikan” (bahasa Ibrani: qavah) berarti lebih dari sekadar menunggu secara pasif. Ini adalah penantian yang aktif, pengharapan yang penuh kepercayaan dan keyakinan kepada Tuhan. Maka bagi kita di zaman ini yang berjalan dan mengandalkan Tuhan, maka Tuhan akan memberikan :
1. Kekuatan Baru: Tuhan memberikan kekuatan baru bagi mereka yang menanti-nantikan Dia. Kekuatan ini bukan kekuatan fisik semata, tetapi kekuatan rohani yang memungkinkan kita untuk mengatasi kelemahan dan kesulitan.
2. Ketahanan diri: Orang yang menanti-nantikan Tuhan tidak akan menjadi lesu atau lelah. Mereka memiliki ketahanan dan daya tahan yang luar biasa untuk menghadapi perjalanan hidup yang panjang dan penuh tantangan.
3. Kemampuan untuk Terbang: Rajawali sebagai simbol kekuatan dan kemampuan untuk terbang tinggi, menunjukkan bahwa Tuhan akan mengangkat kita di atas kesulitan dan masalah kita. Kita akan mampu melihat perspektif yang lebih luas dan menemukan solusi yang tepat.
4. Berlari dan Berjalan tanpa Lelah: Ini menggambarkan kemampuan untuk terus maju, terus berjuang, dan terus melayani Tuhan tanpa merasa putus asa atau lelah.
Saudaraku Kekasih dalam Tuhan Yesus Kristus.
Jadi dibalik Pristiwa Pembuangan Bangsa Isarel ini, adalah sebuah refleksi terbaik dalam kehidupan kita di masa kini. Bukankah kita adalah orang Isarel secara rohani? Orang-orang pilihan Tuhan? Masing-masing kita, sedang berproses di dalam perjalannya menuju kedewasan iman sesungguhnya.
Sungguh pristiwa ini memberikan gambaran tentang Tuhan Yesus yang sayang sama kita, Tuhan yang marah pada kepada kebebalan kita, Tuhan yang cemburu kepada kita ketika kita menyembah yang lain? Tapi menunjukan juga bahwa Ia setia, sayang dan terus menyertai kita. Ia menjanjikan pemulihan setelah kita benar-benar menghormatiNya.
Memang benar kita akan menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Namun, jika kita menanti-nantikan Tuhan, kita akan menerima kekuatan baru untuk menghadapinya. Kita akan mampu terbang di atas masalah-masalah kita, berlari dan berjalan tanpa lelah dalam perjalanan iman kita. Semoga Tulisan ini memberkati anda.
Bengkulu, 3 Agustus 2025
Pdt. Yusak W. S. Th
Penulis
Amin










