Gereja Pada Mulanya

Pdt. Yusak Wamin,. S. Th

Bengkulu||ISBCenter.com – Saudara-saudariku yang terkasih di dalam Kristus, hari ini kita akan mempelajari kisah indah dari Gereja Pada Mulanya Yang terambil dari Kisah Para Rasul 2:41-47. Kisah ini melukiskan gambaran jemaat (gereja) mula-mula. Kisah yang sungguh indah dari sebuah komunitas orang percaya yang dipersatukan oleh iman dan kasih. Semoga kita bisa meneladani dan mengambil prinsip-prinsip nilai-nilai persekutuan di tengah-tengah zaman modern yang penuh perubahan hari-hari ini. Mari kita membaca kisah ini terlebih dahulu.

“Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.
Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,
sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan’.
Kisah Para Rasul 2:41-47

Dari bacaan firman Tuhan di atas saya memberikan 4 penekanan nilai-nilai persekutuan yang bisa kita implementasi kebdalam kehidupan bergereja.

1. Penerimaan yang Luar Biasa (Kisah Para Rasul 2:41):
– Point: Pada hari Pentakosta, ribuan jiwa menerima Injil dan dibaptis. Ini menunjukkan penerimaan yang luar biasa terhadap pesan keselamatan dalam Yesus Kristus.
– Analogi: Bayangkan sebuah konser musik besar. Ribuan orang datang, bukan karena paksaan, tetapi karena tertarik dengan musiknya. Begitu pula dengan Injil, ketika disampaikan dengan kuasa Roh Kudus, ia menarik hati manusia dan menggerakkan mereka untuk menerima Yesus. Di zaman sekarang, kita perlu menyampaikan Injil dengan cara yang menarik dan relevan agar pesan keselamatan sampai kepada banyak orang.

2. Ketekunan dalam Doa dan Persekutuan (Kisah Para Rasul 2:42):
– Point: Jemaat mula-mula tekun dalam pengajaran rasul-rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa. Ini menunjukkan pentingnya kehidupan rohani yang terarah dan berkelanjutan.
– Analogi: Sebuah tanaman membutuhkan air dan sinar matahari untuk tumbuh subur. Demikian pula, kehidupan rohani kita membutuhkan nutrisi dari Firman Tuhan, persekutuan dengan sesama jemaat, dan doa yang tekun agar kita dapat bertumbuh dalam iman. Kita perlu meluangkan waktu untuk berdoa, membaca Alkitab, dan bersekutu dengan sesama jemaat secara rutin.

3. Pembagian yang Adil dan Kasih Persaudaraan (Kisah Para Rasul 2:44-45):
– Point: Jemaat memiliki segala sesuatu secara bersama-sama, dan mereka saling berbagi sesuai kebutuhan. Ini menunjukkan kasih persaudaraan yang sejati dan komitmen untuk saling membantu.
– Analogi: Bayangkan sebuah keluarga besar. Ketika ada anggota keluarga yang membutuhkan bantuan, anggota keluarga lainnya akan saling membantu. Demikian pula, dalam jemaat, kita harus saling mengasihi dan membantu satu sama lain, terutama bagi mereka yang membutuhkan. Kita perlu membangun rasa kepedulian dan berbagi berkat yang kita miliki.

4. Kesaksian yang Kuat (Kisah Para Rasul 2:47):
– Point: Tuhan menambahkan orang-orang percaya setiap hari. Ini menunjukkan dampak dari kesaksian hidup jemaat yang benar dan konsisten.
– Analogi: Sebuah lilin kecil dapat menerangi ruangan yang gelap. Demikian pula, kesaksian hidup kita yang benar dapat menerangi dunia di sekitar kita dan menarik orang lain kepada Kristus. Kita perlu menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari melalui tindakan dan perkataan kita.

Kesimpulan:
Darin Kisah jemaat (gereja) mula-mula yang terdapat dalam Kisah Para Rasul 2:41-47, mengajarkan kita tentang pentingnya penerimaan, ketekunan, kasih persaudaraan.Hal-hal itu sangatlah menjadi nilai-nilai subtansi yang akan menguatkan kesaksian orang percaya sebagai orang yang telah diselamatkan. Marilah kita merenungkan dan meniru teladan mereka agar kita juga dapat menjadi berkat bagi dunia di sekitar kita. Amin.

Dalam Ladang Kasih Allah

Pdt. Yusak Wamin,. S. Th
Penulis

Pos terkait