Bengkulu||ISBCenter.com – Bapak Ibu renungan kali ini berjudul Iman Lebih Tinggi daripada Perasaan. Tema ini sangat perlu kita dalami, karena jika seseorang tidak bisa menempatkan keduanya pada situasi tepat, maka akan terjadi stagnan dalam pertumbuhan rohani.
Kita bisa menemukan banyak orang Kristen hidup dipengaruhi oleh perasaan, bukan oleh iman. Bahayanya karena perasaan bisa berubah-ubah. Perasaan adalah sebuah pengalaman subjektif yang dipengaruhi oleh faktor dari diri sendiri dan unsur dari luar. Sementara nitu, kedewasaan rohani ditandai oleh kehidupan yang dituntun oleh iman, bukan perasaan. Baik saya membangun ke dalam 3 bagian penting untuk kita perhatikan dengan seksama :
.
Kita akan membaca firman Tuhan yang terdapat dalam 1 Korintus 5:7 sebagai dasar renungan kita, “Sebab hidup kami ini adalah karena percaya, bukan karena melihat”. Jadi idealnya, setiap kita hidup berdasarkan iman, bukan perasaan.
2. Hidup Berdasarkan Perasaan?
Tetapi yang hidup berdasarkan perasaan akan membuat kemandulan secara Rohani. Mandul artinya tidak menghasilkan buah iman. Maka orang yang hidup berdasarkan perasaan biasanya akan :
* Mudah kecewa, cepat menyerah.
* Tidak taat bila tidak merasa “nyaman”.
* Tidak konsisten dalam pelayanan atau pertumbuhan rohani.
Contoh negatif:
Esau menjual hak kesulungannya karena lapar (Kejadian 25:29–34).
Bangsa Israel bersungut-sungut di padang gurun karena haus/lapar, tidak percaya Tuhan akan memelihara (Bilangan 14).
Nah setelah kita sudah mempelajari model orang hidup yang dikuasai perasan, kita bandingkan dengan orang-orang yang hidup Berdasarkan iman.
2. Hidup Berdasarkan Iman.
Sekali lagi Iman bukan sekadar merasa, tapi keputusan untuk percaya dan taat pada firman Tuhan. Contohnya : Abraham menjadi “bapa orang beriman” karena ia percaya sekalipun ia tidak melihat bukti secara manusia.
📖 *”Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”*
(Kejadian 15:6)
📖 *”Ia tidak menjadi lemah dalam imannya…”*
(Roma 4:19–21)
Ciri-ciri orang yang hidup dalam iman:
* Tetap taat meski belum melihat hasil.
* Konsisten dalam ibadah dan kebenaran.
* Mampu mengampuni, mengasihi, dan melayani tanpa pamrih.
3 Contoh Penempatan Iman dan Perasaan yang tepat.
Tempat : Perasaan :
1. Kita menempatkan perasaan untuk menunjukkan empati dan belaskasihan.
2. Menangis bersama-sama orang yang menangis.
Tempat Iman:
1. Menanggapi tantangan hidup
2. Menungu Janji Tuha
3. Mengampuni walau masih sakit hati.
📌 *Perasaan adalah hamba yang baik, tapi tuan yang buruk. Iman harus memimpin, perasaan mengikuti.*
4. Fungsi Iman dalam Hidup Orang Percaya :
1. Iman Membawa Hidup
* 📖 *”Orang benar akan hidup oleh iman.”* (Habakuk 2:4; Roma 1:17)
* Tanpa iman, orang mati rohani.
* Iman membuat kita terus hidup walau dunia sekitar mati secara rohani.
2. Iman Membuat Jalan
* 📖 *”Oleh iman mereka menyeberangi Laut Teberau…”* (Ibrani 11:29)
* Iman membuka jalan di tempat yang mustahil secara logika.
* **Analogi:** Seperti GPS rohani yang memandu di tengah kabut.
3. Iman Menyelamatkan
* 📖 *”Imanmu telah menyelamatkan engkau.”* (Lukas 7:50)
* Keselamatan bukan karena usaha, tapi karena percaya.
4. Iman Membawa Kemenangan
* 📖 *”Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.”* (1 Yohanes 5:4)
* Dalam peperangan hidup, iman adalah senjata utama.
* Iman membuat kita tidak dikalahkan oleh rasa takut, kuatir, dan dosa.
5. Kesimpulan :
Orang percaya seharusnya hidup berlogikalah pada Firman, Bukan pada Perasaan atau bukan emosi.
Firman itu logis dalam iman: tidak bertentangan dengan akal, tapi lebih tinggi dari akal. Dapatkan imam melalui pendengaran akan firman. setiap. hari yaitu pendengaran oleh firman Kristus. (Roma 10:17)
Saudaraku, marilah kita bertumbuh dewasa dalam iman. Tanggalkan cara hidup yang dipimpin perasaan. Mukai sekarang ini, mulailah ambil keputusan-keputusan berdasarkan kebenaran firman Tuhan, walau tidak selalu terasa nyaman.
Ps. Yusak, S. Th
Penulis










