Kekuatan Visi Ketika Dipelihara, Bila Tidak Ada Wahyu liarlah Rakyat, Berbahagialah Orang Yang Berpegang Pada Hukum

Pdt Yusak, S.th

Bengkulu||ISBCenter.com – Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, Selamat pagi/siang/sore/malam. Marilah kita merenungkan sebuah tema yang sangat fundamental bagi perjalanan hidup kita, baik secara pribadi maupun sebagai jemaat Tuhan: “Kekuatan Visi, Ketika di Peliharalah.”

Memahami Arti Visi
Apa itu visi? Visi bukanlah sekadar mimpi atau khayalan belaka. Visi adalah gambaran yang jelas dan terarah tentang masa depan yang ingin kita capai, yang didasari oleh nilai-nilai dan tujuan yang kuat. Visi adalah tujuan akhir yang kita tetapkan, yang menjadi penuntun setiap langkah dan keputusan kita. Tanpa visi, hidup kita akan mudah terombang-ambing, seperti kapal tanpa kemudi di tengah lautan luas.

Alkitab sendiri menegaskan pentingnya visi ini. Dalam Amsal 29:18 (Terjemahan Baru), kita membaca: “Bila tidak ada wahyu, liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.” Kata “wahyu” di sini dapat diartikan sebagai penglihatan, arahan, atau visi. Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa tanpa visi atau arahan yang jelas, hidup manusia akan menjadi liar, tanpa tujuan, dan mudah tersesat. Sebaliknya, mereka yang memiliki visi dan berpegang pada prinsip-prinsip ilahi akan menemukan kebahagiaan dan arah yang benar.

Manfaat Visi :
1. Visi Memberi Arah dan Mencegah Kehilangan Arah
Visi adalah kompas yang menuntun langkah-langkah kita. Ia memberikan kejelasan tentang ke mana kita akan pergi dan mengapa kita harus pergi ke sana. Ketika kita memiliki visi yang jelas, kita tidak akan mudah terombang-ambing oleh berbagai tawaran atau godaan dunia yang seringkali menyesatkan. Kita tahu persis apa yang menjadi prioritas dan apa yang harus kita hindari.

Bayangkan seorang pelari maraton. Ia tidak berlari tanpa tujuan, melainkan menuju garis finis yang sudah ditentukan. Demikian pula dengan kita. Visi membuat kita fokus pada tujuan akhir dan tidak “liar” atau tanpa arah. Visi yang datang dari Tuhan akan selalu selaras dengan kehendak-Nya dan membuat hidup kita terarah pada kemuliaan-Nya.

Seperti yang dikatakan dalam Habakuk 2:2-3: “Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: ‘Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah pada loh-loh, supaya orang dapat membacanya dengan cepat. Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dan tidak akan menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu pasti akan datang dan tidak akan bertangguh.'” Ayat ini mendorong kita untuk tidak hanya memiliki visi, tetapi juga menuliskannya, menjadikannya nyata, dan dengan sabar menantikannya tergenapi.

2. Visi Sebagai Tolok Ukur Keberhasilan
Bagaimana kita tahu bahwa kita telah berhasil dalam hidup? Atau bahwa kita sedang menuju keberhasilan? Jawabannya adalah dengan mengukur langkah kita terhadap visi yang telah kita tetapkan. Visi berfungsi sebagai standar atau tolok ukur. Jika kita tidak memiliki visi, bagaimana kita bisa tahu apakah kita sudah mencapai sesuatu atau belum? Kita tidak akan tahu apa yang harus dirayakan atau apa yang perlu diperbaiki.

Visi memungkinkan kita untuk mengevaluasi progres kita, melihat sejauh mana kita telah bergerak maju, dan mengidentifikasi area-area yang memerlukan perhatian lebih. Tanpa visi, kita mungkin merasa sibuk, tetapi tidak produktif; kita mungkin bergerak, tetapi tidak maju.

Rasul Paulus adalah contoh sempurna dari seseorang yang memiliki visi yang jelas. Ia berkata dalam Filipi 3:13-14: “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Paulus memiliki visi untuk mencapai tujuan ilahi, dan ia terus berlari ke arah itu.

Pada akhirnya, di hadapan Tuhan, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas bagaimana kita telah menggunakan hidup kita. Tuhan akan bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan dengan talenta yang Kuberikan?” Jika kita memiliki visi yang selaras dengan kehendak-Nya, kita bisa menjawab seperti hamba yang setia dalam Matius 25:21: “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Teladan Visi Ilahi :
Saudaku, Allah sendiri memiliki visi yang jelas bagi ciptaan-Nya, terutama bagi manusia. Sejak awal, Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, dengan tujuan untuk memiliki hubungan yang intim dan untuk mengelola bumi ini. Ketika manusia jatuh dalam dosa, visi Allah tidak sirna. Sebaliknya, Ia memiliki visi yang lebih besar lagi: penebusan dan pemulihan.

Visi utama Allah bagi manusia adalah keselamatan, pemulihan hubungan dengan-Nya, dan kehidupan yang berkelimpahan di dalam Kristus. Ini adalah visi yang agung, yang menjadi dasar dari seluruh rencana keselamatan-Nya.

Dalam Yohanes 3:16, kita membaca visi kasih Allah yang tak terbatas: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Visi Allah adalah agar tidak ada seorang pun yang binasa, melainkan beroleh hidup kekal.

Demikian pula, dalam Yeremia 29:11, Tuhan menyatakan visi-Nya bagi umat-Nya: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Allah memiliki rancangan dan visi yang baik bagi kita, rancangan damai sejahtera dan harapan.

Dan kita, sebagai ciptaan-Nya, dipanggil untuk hidup sesuai dengan visi-Nya. Efesus 2:10 mengingatkan kita: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Kita diciptakan dengan tujuan, dengan visi ilahi untuk melakukan pekerjaan baik.

Kesimpulan :
4. Hidup Bervisi, Berarti Hidup Melawan Arus Dunia
Jika kita memiliki visi yang datang dari Tuhan, hidup kita tidak akan hanya mengikuti arus dunia ini. Bahkan, seringkali kita akan menemukan diri kita harus menentang arus. Dunia menawarkan visi tentang kekayaan, kekuasaan, kesenangan sesaat, dan popularitas. Namun, visi Tuhan seringkali menuntut pengorbanan, kerendahan hati, pelayanan, dan kasih yang tidak mementingkan diri sendiri.

Hidup yang berpegang pada visi Tuhan berarti berani berbeda, berani berdiri teguh pada kebenaran, meskipun itu berarti kita harus melawan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Ini adalah panggilan untuk menjadi garam dan terang dunia, bukan untuk melebur dan menjadi sama dengan dunia.

Roma 12:2 dengan tegas menyatakan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Visi Tuhan memampukan kita untuk tidak serupa dengan dunia, melainkan diubahkan dan hidup sesuai kehendak-Nya.

Kita adalah umat pilihan, imamat rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, seperti yang tertulis dalam 1 Petrus 2:9. Ini adalah identitas kita, bagian dari visi Tuhan bagi kita, yang memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.

Pesan Renungan ini :
Saudara-saudari yang terkasih, marilah kita memiliki visi yang jelas dalam hidup ini, visi yang datang dari Tuhan. Visi itu akan menjadi kompas yang menuntun kita, tolok ukur keberhasilan kita, dan kekuatan yang memampukan kita untuk hidup tidak hanya mengikuti arus, melainkan melawan arus dunia demi kemuliaan Kristus.

Setelah kita memiliki visi, tugas kita adalah memeliharanya. Jaga visi itu tetap hidup dalam hati dan pikiran kita. Renungkanlah, doakanlah, dan usahakanlah dengan segenap hati.

Seperti yang dikatakan dalam Amsal 16:3: “Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.” Serahkan visi dan rencana kita kepada Tuhan, dan percayalah bahwa Ia akan menuntun dan menyempurnakannya.Amin.

Bengkulu, 7 Desember 2025

Penulis
Pdt. Yusak Wamin, S. Th

Pos terkait