Kualitas Udara Memburuk, Pemkot Pekanbaru Terapkan PJJ Dua Hari untuk PAUD hingga SMP

Kualitas Udara Memburuk, Pemkot Pekanbaru Terapkan PJJ Dua Hari untuk PAUD hingga SMP

Pekanbaru||ISBCenter.com – Pemerintah Kota Pekanbaru menyadari bahwa setiap kebijakan yang diambil belum tentu dapat menyenangkan semua pihak. Namun ketika menyangkut kesehatan masyarakat, terutama kesehatan anak-anak, prinsip kehati-hatian harus menjadi yang utama.

Sebagai langkah antisipasi terhadap memburuknya kualitas udara akibat kabut asap, Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho memutuskan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama dua hari bagi peserta didik tingkat PAUD, TK, SD dan SMP, mulai Senin (7/9) dan Selasa (8/9).

Bacaan Lainnya

“Kita tentu tidak bisa membuat setiap keputusan menyenangkan semua orang. Ada orang tua yang mungkin ingin anaknya tetap sekolah seperti biasa, ada juga yang khawatir dengan kondisi udara. Tetapi ketika menyangkut kesehatan, terutama kesehatan anak-anak kita, bagi kami keselamatan dan kesehatan harus menjadi nomor satu,” kata Agung usai rapat evaluasi, Ahad (6/9) malam.

Agung menjelaskan, keputusan untuk menerapkan PJJ tersebut tidak diambil secara tergesa-gesa atau tanpa dasar. Pemko Pekanbaru telah memantau perkembangan kualitas udara secara berkala dalam dua hingga tiga hari terakhir, baik melalui data resmi dari BMKG maupun pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekanbaru.

Berdasarkan laporan BMKG, konsentrasi partikel polutan PM2,5 pada pukul 19.00 WIB tercatat berada di angka 199,23 µg/m³. Kondisi tersebut masuk dalam kategori tidak sehat dan menjadi perhatian serius pemerintah untuk mengambil langkah pencegahan, terutama terhadap kelompok rentan seperti anak-anak.

“Jadi keputusan ini bukan berdasarkan perkiraan kita sendiri. Kita melihat data BMKG, kemudian DLH juga terus melakukan pemantauan melalui ISPU secara berkala. Setelah itu kita dengarkan pertimbangan Dinas Kesehatan dan dokter spesialis paru. Dari situlah keputusan ini kita ambil,” jelas Agung.

Dalam rapat evaluasi tersebut, dokter spesialis paru dr. Indra Yovi bersama Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru juga memberikan pertimbangan medis mengenai dampak kualitas udara terhadap kesehatan. Berdasarkan laporan pelayanan kesehatan di Puskesmas dan rumah sakit, terdapat peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), termasuk pada anak-anak.

Hal tersebut menjadi perhatian utama pemerintah, karena anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat dengan penyakit penyerta merupakan kelompok yang lebih rentan terhadap paparan udara yang tidak sehat.

“Atas pertimbangan kesehatan itu, untuk satu sampai dua hari ini kita kurangi dulu paparan terhadap anak-anak. Mereka bukan diliburkan. Anak-anak tetap mendapatkan layanan pendidikan, hanya sementara dilakukan melalui sistem daring dari rumah,” tegas Agung.

Agung juga menegaskan bahwa berdasarkan pemantauan satelit dan laporan di lapangan saat ini, tidak terdapat titik api atau hotspot di wilayah Kota Pekanbaru.

Meski demikian, kondisi asap dan kualitas udara dapat berubah-ubah dengan cepat, salah satunya dipengaruhi oleh arah dan pergerakan angin yang membawa asap dari wilayah lain. Karena itu, Pemko bersama BMKG dan DLH akan terus melakukan pemantauan secara berkala dan berjenjang.

“Alhamdulillah, Pekanbaru sendiri zero titik api. Tetapi kondisi asap bisa berubah mengikuti arah angin. Karena itu kita tidak ingin berspekulasi. Pegangan kita tetap data dan pemantauan yang terus diperbarui,” ujarnya.

Di sisi lain, berdasarkan pemaparan BMKG dalam rapat evaluasi, pada tanggal 8, 9 dan 10 September terdapat peluang hujan di sejumlah wilayah Provinsi Riau, termasuk Kota Pekanbaru. Di beberapa wilayah, potensi curah hujan bahkan dapat mencapai lebih dari 25 milimeter.

Pemko Pekanbaru berharap peluang hujan tersebut semakin meluas dan dapat membantu memperbaiki kualitas udara secara alami. Selain itu, upaya melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilakukan Pemerintah Provinsi Riau juga diharapkan dapat membantu mendorong dan memperluas sebaran wilayah hujan di Provinsi Riau.

“Ini tentu menjadi harapan kita. Tanggal 8, 9 dan 10 September ada peluang hujan di Riau, termasuk Pekanbaru. Kita berharap hujannya semakin merata sehingga kualitas udara kita segera membaik,” kata Agung.

Agung menegaskan penerapan PJJ tidak berarti aktivitas masyarakat dihentikan sepenuhnya. Kegiatan ekonomi dan pelayanan publik tetap berjalan seperti biasa.

Sebagai langkah perlindungan tambahan bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah, Pemko Pekanbaru akan membagikan masker gratis di sejumlah titik keramaian seperti pasar, terminal, halte, dan di setiap persimpangan jalan..(*ay)

Pos terkait