Bengkulu||ISBCenter.com Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,Dasar renungan kita kali ini terambil dari Yohanes 4:23, menyatakan, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.”
Firman Tuhan diatas akan menjadi landasan renungan kita kali ini yakni i tentang menikmati keindahan dan kuasa penyembahan dalam ibadah.
Tema ini menarik, karena sejujurnya banyak orang Kristen dalam kegiatan ibadahnya hanya mengikuti tradisi liturgi. Memuji dan menyembah Tuhan sudah diatur sedemikian rupa oleh seorang liturgos atau seorang worship leaders. Target seorang liturgos atau seorang worship leader hanya menyelesaikan susunan kegiatan yang sudah disiapkan, sehingga tidak ada kesempatan Tuhan memberikan lawatan menurut Roh Tuhan itu sendiri.
Bapak Ibu saudara, kata “penyembahan” dalam bahasa aslinya (Yunani: proskuneo) mengungkap lebih dari sekadar penghormatan. Ini adalah sujud yang lahir dari hati terdalam, penyerahan diri total, dan pengakuan akan keagungan Allah yang melampaui segala pemahaman. Bukan sekadar rangkaian lagu pujian atau bagian dari liturgi, penyembahan adalah momen sakral, perjumpaan intim antara roh kita dengan hadirat Allah yang maha kuasa. Ini adalah saat kita merasakan hubungan pribadi yang mendalam, sebuah privilese yang tak ternilai, sebuah kesempatan unik yang diberikan hanya di dunia ini—dan yang akan kita lanjutkan dalam kekekalan surgawi.
Mengapa Kita Harus Menikmati Penyembahan?
Penyembahan bukanlah rutinitas keagamaan yang membosankan; ia adalah relasi yang hidup dan dinamis antara kita dan Tuhan Yesus. Mari kita renungkan dua alasan mengapa penyembahan begitu istimewa dan pribadi:
Pertama, Penyembahan Berbicara Keistimewaan Posisi.
Dalam penyembahan, kita melakukan sesuatu yang unik, sesuatu yang tak dilakukan Tuhan maupun setan. Tuhan tidak menyembah—karena Dialah yang disembah. Setan pun tidak menyembah—karena ia memberontak, menolak keagungan Tuhan. Jadi, saat kita menyembah, kita berada dalam posisi yang luar biasa istimewa, melakukan tindakan yang bahkan Tuhan dan setan tidak lakukan. Dalam penyembahan, kita merendahkan diri, mengakui kemahakuasaan dan kelayakan Tuhan Yesus untuk ditinggikan di atas segala-galanya. Kita menyatakan dengan segenap keberadaan kita—tubuh, jiwa, dan roh—bahwa Dialah pusat hidup kita. Ini adalah posisi yang mulia dan berkuasa. Dan saat kita menyembah dengan hati yang tulus, kita berdiri di posisi yang tak tergantikan—bukan malaikat, bukan makhluk ciptaan lainnya—hanya kita, anak-anak-Nya, yang dapat mempersembahkan penyembahan yang berkenan di hadapan-Nya.
Kedua, Pujian dan Penyembahan Merupakan Latihan Untuk Kehidupan Surgawi.
Surga adalah tempat di mana pujian dan penyembahan terus mengalir tanpa henti. Wahyu 4 dan 5 menggambarkan para malaikat dan tua-tua yang sujud menyembah Tuhan siang dan malam. Jadi, saat kita menyembah di bumi, kita sedang melatih roh kita untuk kehidupan surgawi. Kita membiasakan diri dengan realitas kerajaan Allah yang kekal. Penyembahan bukanlah pelarian dari realitas hidup, melainkan koneksi dengan realitas surgawi. Saat kita menyembah, kita menyelaraskan hati kita dengan hati Allah. Kita dibawa ke dimensi yang lebih tinggi, di mana damai sejahtera, sukacita, dan kuasa Tuhan dinyatakan atas hidup kita.
Sekarang mari kita melihat beberapa faktor yang dapat menjadi Penghalang Penyembahan yang Intim.
1. Intimidasi Kuala gelap.
Intimidasi adalah tuduhan yang ada di dalam diri manusia. Biasanya tuduhan intimidasi ini hal-hal yang bersifat negatif. Sehingga orang merasa tidak layak datang pada Tuhan. Solusinya adalah mengaku dosa dengan Tuhan untuk apa yang kita pernah lakukan bertentangan dengan Firman Tuhan dan hati nurani. Kedua, berusaha hidup dengan hati nurani yang murni. ingat bahwa kita adalah manusia baru di dalam. Kristus.
2 Kepercayaan yang salah.
Kepercayaan yang salah maksudnya adalah sebuah pengetahuan yang sudah lama kita terrima dan kita anggap jika tidak demikian maka salah.
Dalam praktek penyembahan dengan Tuhan, banyak orang sudah memiliki konsep bahwa ibadah yang tepat adalah seperti liturgi yang diterimanya selama ini dan diluar itu salah dan sesat. Faktanya di Alkitab tidak pernah ada aturan liturgi yang baku. Hanya ada unsur-unsur dalam ibadah seperti nyanyiin, pembacaan Alkitab, Bermazmur, doa, pengakuan dosa dan mendengarkan firman Tuhan. Jadi sebetulnya liturgi atau pola ibadah, manusialah yang mengaturnya. Jadi mari kita keluar dari tembok pengetahuan yang selama ini kita bangun.
3. Ketakutan.
Dalam praktek ibadah rasa ketakutan merupakan salah satu persoalan serius. Sebab berangkat dari rasa takut ini, menjadikan orang tidak mau kreatif dan mengubah pola penyembahannya. Seperti orang ibadah biasa membuka mata saat memuji menyembah Tuhan, karena rasa takut ia tidak. mau. menutup mata. padahal menutup mata saat menyanyikan pujian penyembahan akan sangat membantu seseorang fokus dan menikmati setiap lirik lagu yang membawa kepada puncak keintiman dalam penyembahan.
4. Tidak berfokus.
Keempat adalah orang yang tidak pernah fokus dalam ibadah. Persoalan tidak fokus ini banyak faktor, misalnya karena tidak serius beribadah. Merasa lebih penting main HP atau games daripada memberikan pujian penyembahan yang keluar dari hati sanubari. Bahkan bisa karena risih dengan orang yang dianggapnya berlebihan. Seperti orang menangis, orang bermazmur. Menurutnya itu berlebihan. Maka tidak jarang dalam ibadah itu, ada orang yang dilawat Tuhan dan ada yang dilewat Tuhan. Saudara, seharusnya kita ini menjadi pelaku pemuji dan penyembahan Tuhan, bukan penonton.
Penutup:
Saudara-saudari, marilah kita belajar menikmati hadirat-Nya dalam penyembahan. Bayangkan kita sedang bertemu dengan Raja segala raja. Maka segala sikap dan kata-kata kita haruslah penuh hormat dan sanjungan. Jangan hanya hadir dalam ibadah—hadirlah dalam hadirat-Nya. Jangan hanya menyanyi—sembahlah Dia dengan segenap hati. Nikmatilah momen penyembahan, karena saat itulah roh kita dipuaskan, hati kita dipulihkan, dan hidup kita diperbarui.
Mari kita terus belajar menjadi penyembah yang sejati, yang tidak hanya mencari berkat Tuhan, tetapi mencari pribadi Tuhan. Jadilah umat yang hidupnya ditandai dengan penyembahan—karena dari situlah kekuatan sejati kita mengalir.
Dalam kasih-Nya,
Pendeta Yusak Wamin, S.Th
Penulis










