Bengkulu||ISBCenter.com – Warga di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, mulai kesulitan mendapatkan bahan pangan.
Pasalnya setelah lebih dari tiga pecan, tidak ada kapal yang berlabuh di Pulau tersebut, akibat cuaca ekstrim gelombang tinggi.
Hal itu disampaikan Ketua Forum Kepala Desa, Kecamatan Enggano, Reddy Heloman Kaitora, dalam keterangannya ketika dihubungi.
Redy mengaku, saat ini persediaan beras yang tersisa di pulau terluar itu, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama seminggu kedepan.
Mengingat bahan kebutuhan pangan seperti, beras yang dijual di warung-warung sudah habis, dan yang tersisa tinggal beras panen masyarakat, dengan persediannya juga menipis.
Sedangkan bahan pangan lain, diantaranya, bawang merah, bawang putih, sayur-sayuran, gula pasir dan kopi juga sudah habis, serta jika ada, harganya juga mahal.
“Beras sisa panen petani di jual dengan harga Rp. 12 ribu perkilogram dan itupun sedikit sekali petani yang mau menjualnya, karena lebih memilih untuk keperluan keluarganya. Sedangkan harga bawang merah di pulau tersebut tembus Rp. 100 ribu perkilogram,” katanya pada Jumat, (31/7/2020).
Lebih lanjut ia menambahkan, lantaran saat ini satu-satunya transportasi yang tersedia untuk keluar maupun menuju pulau terluar wilayah Indonesia ini, yakni menggunakan pesawat perintis dari Bandara Fatmawati Soekarno Kota Bengkulu. Tetapi jumlah penerbangannya sangat terbatas, hanya satu kali seminggu untuk minggu ganjil dan dua kali seminggu untuk minggu genap.
Oleh karena itu diharapkan ada solusinya.
“Kita minta untuk transportasi pesawat bisa menambah jadwal penerbangan lagi, karena setiap kali keberangkatan itu selalu penuh pesawatnya, sementara yang mau berangkat banyak. Termasuk soal kesulitan bahan pangan, cuaca ekstrem yang mengakibatkan kapal tak bisa berlabuh juga ada jalan keluarnya.
Kemudian juga seluruh hasil pertanian dan perikanan warga pulau tersebut, membusuk dan tak lagi bernilai, karena tak ada kapal yang bisa mengangkutnya keluar dari pulau Enggano,” tutup Reddy…(**Nsrn)










