Yesus Qurban Sejati dan Final

Ps. Yusak Wamin, S. Th

Bengkulu||ISBCenter.com – Saudara-saudariku yang dikasihi dalam Tuhan, Hari ini kita merenungkan tema yang begitu mendalam dan penuh makna: Yesus, Qurban Sejati dan Final. Sebagai dasar renungan kita terambil dari Yohanes 1:29 (TB) Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.

Perhatikanlah statmen Yohanes yang mengatakan “Yesus sebagai domba Allah, yang menghapus dosa dunia”.

Mari kita mulai mempelajari sedikit tentang gambaran sistem persembahan dalam Perjanjian Lama; hewan-hewan dikorbankan, darah ditumpahkan, mulai dari pristiwa Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa dilanjutkan dengan pristiwa Abraham yang mau mempersembahkan anak yang dikasihinya.

Berbicara tentang hewan Qurban, kita tidak bisa lepas dari dua kisah tersebut.. Karena munculnya istilah qurban berupa hewan dimulai dari. kisah itu.

Ada yang menarik menurut saya, karena pristiwa itu sebenarnya hanyalah bayangan, gambaran samar dari realitas yang jauh lebih besar, lebih mulia, dan akan lebih sempurna qurban yang akan datang. Pristiwa-pristiwa itu hanyalah bayangan yang akan hal yang sebenarnya akan Tuhan lakukan.

Baik pristiwa kejatuhan Adam Hawa maupun pristiwa Abraham, kita bisa melihat bahwa kesalahan adam dan hawa menuntut tumpahan darah, karena memang Tuhan sudah katakan sebelumnya kepada Adam demikian “tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Kejadian 3:3. Adam tidak jadi. mati, tetapi Tuhan menggantikannya dengan hewan. Demikian juga dengan pristiwa Abraham, dicatat dalam Kejadian 22:13 (TB) Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.

Dari kedua pristiwa itu kita mendapatkan beberapa point penting :
1. Bahwa dosa menuntut penumpahandarah
2. Bahwa qurban sesungguhnya datang dari Tuhan, bukan dari manusia.

Berdasarkan kedua pristiwa tersebut, maka keturunan Abraham, Isak dan Yakub (Israel) menjadikan ritual qurban itu. menjadi tradisi-tradisi mereka dan dicontoh oleh banyak bangsa serta agama.

Saudaraku, Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal, bukanlah sekadar tamu yang singgah sebentar, melainkan Sang Seniman yang datang untuk melukis karya agung-Nya: karya keselamatan. Ia datang bukan untuk menikmati kemuliaan surgawi, tetapi untuk menanggung beban dosa seluruh umat manusia, beban yang terlalu berat bagi kita untuk dipikul. Ia bukan hanya seorang nabi, bukan hanya seorang guru, tetapi juga Juruselamat, Gembala yang baik yang rela memberikan nyawanya bagi domba-dombanya, bukan hanya beberapa ekor, melainkan seluruh kawanan.

Makna qurban Yesus bukanlah sekadar kematian fisik, seperti melukis sebuah pemandangan hanya dengan warna hitam. Ia adalah penyerahan diri yang total, suatu tindakan kasih yang tak terukur, sebuah lukisan yang penuh warna, nuansa, dan kedalaman. Bayangkanlah penderitaan yang ditanggung-Nya: hinaan, penyiksaan, pengkhianatan, dan akhirnya, kematian yang mengerikan di kayu salib—sebuah kanvas yang dilukis dengan air mata, darah, dan keringat. Namun, di tengah penderitaan itu, Yesus tetap menyatakan kasih-Nya yang tak berbatas, sebuah cahaya yang menerangi kegelapan. Ia berdoa bagi mereka yang menyalibkan-Nya, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34)

1. Yesus adalah Qurban sejati karena Ia memenuhi seluruh tuntutan hukum Taurat.
Hukum Allah menuntut pengorbanan yang sempurna untuk menebus dosa, dan hanya Yesus, tanpa dosa, yang mampu melakukannya. Ia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. (Yohanes 1:29) Ia adalah lukisan yang lengkap, yang tak perlu lagi diedit atau diperbaiki.

2. Yesus adalah Qurban yang final.
Artinya Ia mengakhiri sistem persembahan hewan di Perjanjian Lama, seperti sebuah karya seni yang selesai dan tak perlu lagi digambar ulang. Tidak ada lagi korban yang diperlukan, karena Yesus telah memberikan korban yang sempurna dan menyeluruh. Darah-Nya yang tercurah di kayu salib telah menghapus dosa kita, mendamaikan kita dengan Allah Bapa, sebuah lukisan yang menyatukan langit dan bumi.

Kesimpulan :
Marilah kita meresponi kasih dan pengorbanan Yesus, untuk mewarnai kehidupan kita dengan warna-warna kasih-Nya. Bagaimana kita meresponnya? Bukan dengan melakukan ritual-ritual kosong, tetapi dengan hidup yang mencerminkan kasih-Nya, dengan menjadi lukisan hidup yang indah bagi dunia. Kita dipanggil untuk mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri, untuk mengampuni mereka yang bersalah kepada kita, untuk menjadi garam dan terang di dunia ini.

Marilah kita selalu mengingat dan merenungkan pengorbanan Yesus, karya agung yang telah dilukis bagi kita. Marilah kita hidup dalam ucapan syukur atas anugerah keselamatan yang telah diberikan-Nya. Marilah kita menjadi saksi-saksi kasih-Nya bagi dunia ini. Amin.

Ps. Yusak Wamin, S. Th
Penulis

Pos terkait