Riau||ISBCenter.com – Riau Go internasional itu yang pantas kita banggakan untuk anak Provinsi Riau bisa membahana di kancah interasional, Pertama kali dalam sejarah Peserta dari Riau Dyah Wulandari Cahya Dewi Murid SDN Darma Yudha Pekanbaru meraih Juara 1 dalam kompetisi Vocal anak The 20th Zhongsin International Music Competition 2025 (Other Instruments) (ZIMC Bangkok 2025) dalam kategori Amateur, event ini dilaksanakan bekerjasama dengan FIMO (Federasi Penyelenggara Musik Internasional), 8/11/2025 di Araya Hall, Denla British School Bangkok Thailand. Dari Indonesia ada 19 peserta yang ikut acara ini. Dan mereka bertemu dengan peserta dari beberapa negara di Asia.

Dyah Wulandari Cahya Dewi merupakan anak dari Bapak Sambowo Indro Yuwono dan Ibu Dian Novita Sari.
Sebelumnya Dyah Wulandari Cahya Dewi gagal di Festival Lomba Literasi Siswa Nasional (FL3N), berkat bakat dan kegigihannya Dyah Wulandari Cahya Dewi bisa bersinar di kancah internasional, dan bisa meraih Juara 1 dalam Kategori Amateur, dan setelah ini Dyah Wulandari Cahya Dewi akan berlaga di Jepang.
“Seblumnnya anak kami gagal di Festival Lomba Literasi Siswa Nasional (FL3N), tapi berkat bakat dan kegigihannya anak kami bisa menembus Juara 1 dalam kategori Amateur dan insyaAllah akan dikirim ke Jepang nantinya,” Ujar Sambowo Ayah dari Dyah Wulandari Cahya Dewi.
The 20th Zhongsin International Music Competition 2025 (Other Instruments) (ZIMC Bangkok 2025) menandai tonggak sejarah baru dalam membina musisi muda global melalui platform yang merayakan seni, disiplin, dan kolaborasi internasional. Diselenggarakan atas kerja sama dengan FIMO (Federasi Penyelenggara Musik Internasional), acara bergengsi ini mempertemukan para penampil muda berbakat dari seluruh Asia untuk berkompetisi, belajar, dan berbagi kecintaan mereka terhadap musik.

Sejak didirikan, Kompetisi Musik Internasional Zhongsin (ZIMC) telah diakui sebagai salah satu wadah paling bergengsi di Asia bagi para musisi muda. Kompetisi Musik Internasional Zhongsin ke-20 tahun 2025 melanjutkan tradisi ini, menyambut para instrumentalis dari seluruh dunia ke Bangkok, Thailand.
Acara tahun ini berfokus pada kategori “Instrumen Lain”, yang menyoroti beragam disiplin musik di luar piano dan alat musik gesek yang umum digunakan. Melalui upaya gabungan FIMO, para pengajar, dan lembaga mitra, para peserta tidak hanya diberi kesempatan untuk berkompetisi, tetapi juga untuk mengembangkan pemahaman musik yang lebih mendalam dan pengalaman internasional.
Principal Granada Musica Studio, Lala Gozali M.Sn, menanggapi bahwa Granada selalu terbuka untuk menampung, mendidik dan mengarahkan anak” yang ingin berkembang dan menekuni dunia musik. Talenta” muda saat ini sangat banyak yang berbakat. Dan Ashera salah satu anak “prodigy” di Granada Musica Studio karena sudah memiliki jiwa seni (musikal) sehingga sangat mudah dibentuk.
“Kami memaparkan beberapa lagu lomba yang harus dia pilih, dan Ashera memilih yang teatrikal opera” pop jazz yang memang cukup menantang” ujar miss Lala.
Baik para pemenang maupun peserta mendapatkan penghargaan atas prestasi dan upaya mereka. Upacara ini melambangkan lebih dari sekadar hasil kompetisi — melainkan perayaan atas pertumbuhan, pertukaran budaya, dan kecintaan bersama terhadap musik..(*IDN)










