Artikel||ISBCenter.com – Taat bukan hanya sekedar mendengar Firman Tuhan, tapi melakukannya. Inilah inti dari kekristenan yang sering kita lupakan.
“Jikalau kamu mencintai Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” – Yohanes 14:15
Dalam bahasa Yunani, ada kata hypakoē dan dalam bahasa Ibrani shama – keduanya berarti mendengarkan dengan sungguh-sungguh hingga menghasilkan respons. Pola ketaatan yang benar adalah:
Mendengar → Percaya → Melakukan. Seperti yang ditegaskan Yakobus 1:22, jadilah pelaku Firman, bukan hanya pendengar.
Ketaatan menunjukkan kita mengakui otoritas Tuhan sebagai Raja. Yesus bertanya, “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Lukas 6:46).
Ketaatan juga merupakan bukti terima kasih. Kasih kepada Tuhan bukan sekedar ucapan, tapi terlihat dari hidup yang mau mengikuti kemauannya.
Teladan terbaik adalah Abraham. Ia berangkat pergi “tanpa mengetahui tempat yang ia tujui” (Ibrani 11:8). Dia tidak tahu seluruh jalan, tapi dia percaya pada Pribadi yang menemukannya. Ketaatan tidak selalu mudah dan masuk akal.
Di Getsemani, Yesus taat dengan berkata, “Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Matius 26:39). Nuh taat membangun bahtera sebelum melihat hujan (Ibrani 11:7), dan Daniel tetap berdoa meski terancam maut (Daniel 6:11).
Ketaatan butuh iman dan keberanian: taat meski belum melihat, taat meski belum mengerti, dan tidak berkompromi.
Sering kita menunggu momen besar untuk taat, padahal Tuhan menguji kita dari hal kecil: mengampuni, berkata benar, menjaga kekudusan, berdoa, melayani, dan berdamai.
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar” (Lukas 16:10).
Kisah Petrus di Lukas 5 menjadi kunci. Setelah semalaman tidak mendapat ikan, Yesus menyuruhnya ke tempat dalam dan menebarkan jala. Secara logika tidak masuk akal, tapi Petrus menjawab:
“Karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” (Lukas 5:5)
Petrus taat sebelum melihat hasil. Hasilnya? Tangkapan ikan yang berlimpah.
Hari ini, pertanyaannya bukan lagi “Apa yang saya tahu tentang Firman?”, tapi “Apa yang Tuhan minta saya lakukan saat ini?” Mungkin mengampuni, berdamai, kembali melayani, atau meninggalkan dosa.
Apa “jala” yang Tuhan suruh kamu tebarkan hari ini?
Jangan hanya mendengar. Dengarkan, percaya, lakukan, dan serahkan hasilnya kepada Tuhan.
Penulis: Ps. Yusak, S.Th










