Kota Bengkulu||ISBCenter.com – Jabatan Walikota Bengkulu Helmi Hasan bersama pasangannya Dedy Wahyudi habis pada 23 September 2023. Menyisakan dua hari lagi pengabdiannya di Kota Bengkulu, akankah kebijakan pemimpin romantis ini se-membekas brand-nya “HD”.
Sejak awal menjabat, Helmi Hasan dikenal dengan pemimpin yang fenomenal, nyentrik hingga mencetuskan “HD” sebagai akronim yang mudah dihapal sekaligus membumikan namanya ke penjuru dunia.
Jika selama ini penyematan akronim hanya berlaku ketika kampanye pencalonan, maka bisa dikatakan tidak untuk pasangan Helmi-Dedy. Tak seperti pemimpin lainnya yang meraih penghargaan ketika berprestasi, Walikota Helmi punya taktik bagaimana namanya dikenal abadi oleh masyarakat tanpa harus menunggu gugur.
HD bisa saja disebut high definition atau resolusi tertinggi yang ingin dicapai dari sebuah pengabdian kepala daerah. Itulah pesan tersirat yang kita kira-kira bahwa Helmi-Dedy ingin terus memberikan pengabdian meskipun tak lagi menjabat.
Lalu apa makna HD yang digaungkan Helmi Dedy dalam tampuk kekuasaannya. Apakah HD itu bisa dilihat, dikecap ataupun dengar?
Banyak kita ketahui HD adalah program yang dijalankan melalui sisi strategis baik itu dari tempat, pelayanan maupun sebuah produk. Kala itu narasi Helmi dan Dedy ingin menjadikan semua tempat dan yang menjadi kekuasaan Pemerintah Kota Bengkulu harus berlabel HD.
Pada sisi pemanfaatan ‘tempat’ untuk menuangkan pelayanan strategis, Helmi Dedy menyematkan HD pada rumah sakit umum daerah (RSUD). Dulunya, rumah sakit ini tanpa embel-embel lain selain ‘RSUD’ hingga akhirnya Helmi Dedy membuat surat keputusan perubahan nama rumah sakit menjadi RSUD “Harapan dan Doa”.
Seketika perubahan RSUD HD menjadi sebuah pengharapan bagi para pasien. Melalui program strategis HD, rumah sakit ini bertransformasi menjadi rumah sakit yang mengedepankan pelayanan ramah pasien maupun ramah kantong terutama untuk masyarakat miskin di daerah ini.
Helmi Dedy tak ingin ada konotasi bahwa rumah sakit itu tempatnya orang sakit, yang ketika masuk rumah sakit menjadi semakin sakit lantaran biaya layanannya yang mahal. Tapi Helmi Dedy ingin bagaimana ketika masyarakatnya masuk dalam keadaan sakit dapat pulang dengan sehat dan senyuman.
HD berikutnya adalah layanan nikah gratis atau “HD Samawa” (Hidayah dan Doa Sakinah Mawadah Warrahmah) yang lagi-lagi menyasar masyarakat miskin. Betapa pedulinya Helmi Dedy sampai mengurusi kalangan jomblo yang cenderung memikirkan biaya nikah yang mahal tanpa lagi gengsi.
HD Samawa turut diperkuat dengan HD Oto, di mana Pemerintah Kota siap memfasilitasi dan menjadikan mobil dinasnya untuk digunakan menemukan jodoh ataupun menjemput jodohnya.
Adapula HD Bersalin yang ditujukan untuk kaum ibu-ibu hamil yang ingin melakukan persalinan gratis melalui Rumah Sakit Tino Galo, HD City atau kota pintar dengan monitoring center-nya, HD Bahagia atau program rumah layak huni, HD Clean atau layanan kebersihan gratis rumah ibadah yang semuanya itu telah berjalan dan mengedepankan asas manfaat bagi masyarakat.
Masih banyak lagi HD-HD lain yang mungkin terlewat oleh kami.
Kembali ke pokok masalah, akankan program pro rakyat ini kedepannya akan terus berlanjut, mengingat beberapa riwayat kebijakan dan penggunaan nama kepala daerah pada era kepemimpinan berlangsung berubah-ubah.
Kita lihat saja, apakah penyematan nama HD akan terus berlaku ketika jabatan diisi oleh orang lain kedepannya. Ataukah HD akan berganti menjadi DD, DH ataupun HHH…?
Mudah-mudahan. Kita berharap meski HD tak lagi ada, kebijakan pro rakyat terus ada untuk kota tercinta ini..(*YW)










